Wood Pellet Bangkalan Rambah Pasar Baru

bersama abah Irham
Baru baru ini pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang dimiliki oleh Masyarakat Geger yang berada dalam Wadah Ponpes Darul Ittihad telah menjual produknya ke lokasi yang cukup jauh, Pangalengan Bandung. Pabrik wood pellet ini dikelola oleh IDEAS Semesta Energi dengan karyawan lokal dengan kemampuan yang tinggi. Abah Irham, Pengasuh Ponpes Darul Ittihad sekaligus Penggagas dan Founder Pabrik Wood Pellet Bangkalan mengatakan bahwa pasar-pasar lokal sudah terbuka peluang untuk menyerap wood pellet.
Pemuatan ke truk
Selain itu, Direktur IDEAS, Daru Asycarya bermimpi bahwa pabrik wood pellet Bangkalan yang menjadi perintis perpelettan akan terus berkembang menjadi penyumbang utama penyediaan energi terbarukan di Indonesia. Bukan pellet biasa, karena wood pellet dari Bangkalan ini berasal dari bahan baku kaliandra dan kayu kemlandingan yang memiliki kalori tinggi, ash konten rendah dan mutu pembakaran yang sangat bagus. Seperti diketahui, tanaman kaliandra adalah jenis tanaman trubusan berotasi pendek yang memiliki ketangguhan luar biasa terutama di lahan lahan kritis dan tidak produktif. Sebagi strategi pengelolaan, menjemur serbuk saat listrik mati menjadi cara yang baik untuk mengurangi beban biaya operasional. DA/09.09.17
Jemur serbuk

Wood Pellet Memikat, Pasar Lokal Mendekat

kirim ke ptpn 8
Walau pasar wood pellet ekspor sedang lesu, pasar lokal masih menunjukkan geliatnya. Ini tercermin dari perkembangan pasar wood pellet dari Gerbang lestari Bangkalan yang dikelola oleh IDEAS SEMESTA ENERGY (ISE). Setelah sukses menjual ke Gresik, produk dari Bangkalan ini bergerak lebih jauh menuju pasar PTPN 8 di Pangalengan, Bandung Selatan. Pasokan wood pellet untuk bahan bakar pengeringan daun teh ini masih sangat kurang, sehingga pabrik pellet berbasis masyarakat dan santri di Bangkalan ini terus digenjot. Dirut ISE, Daru Asycarya mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaharuan mesin pengolah pellet bantuan dari Investor Dr. Samedi dari TFCA Jakarta, produktivitas wood pellet berangsur naik. “Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa upaya keras kami mulai menunjukkan hasil.” Selain itu, KH Irham sebagai pengasuh Ponpes Darul ittihad sekaligus owner utama pabrik ini berharap bahwa mesin pellet lain yang masih rusak bisa segera diperbaiki dan berproduksi lagi agar target produksi bisa tercapai secara maksimal. Dengan berfungsinya mesin mesin ini akan membangkitkan semangat Agus dkk sebagai karyawan pabrik, imbuhnya.

proses pemeletan

Sebagai Pendukung pabrik wood pellet Bangkalan, Dr Samedi mengatakan bahwa permintaan wood pellet sebagai bahan bakar energi terbarukan pengganti batu bara akan semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Apalagi jika pengelolaan wood pellet dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan tatakelola lingkungan dan ekonomi yang rendah karbon, ujarnya. Mesin wood pellet yang baru ini buatan China, namun dari pengalaman yang lalu, pemilihan pabrikan, penentuan komponen mesin yang berkualitas, serta mengawal pada proses pembuatannya menjadi sangat penting. Sehingga kualitas mesin China yang termasuk KW 1 bisa diperoleh. Kami terus terang menggunakan partner atau agen penjualan yang bisa nongkrongin proses pengadaan mesin wood pellet, termasuk memilih motor merk Siemens pabrikan Jerman, Ring Dies kualitas bagus, dan PLC yang dilengkapi dengan inverter, kata Daru. Teknisi dari China pun di datangkan untuk memberikan training pengoperasian mesin dan melakukan trouble shooting. Dengan upaya ini, karyawan pabrik akan semakin menguasai teknologi pemeletan ini dengan langkah-langkah yang benar. Pepatah kuno mengatakan, Hasil tidak akan menghianati usaha keras… semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk Nya. Aamiin. DA/08-21-17

mesin baru hasil wp

Pasar Wood Pellet Lokal, Harus Banyak Akal

Penjualan Wood Pellet untuk ekspor sedang lesu, harga pasar di Korea maupun China masih belum menarik produsen pellet untuk menggerakan padatan serbuk kayu berbentuk pensil itu menuju destinasi ekspor. Tantangan ini tidak lantas membuat kita diam menunggu harga pellet semakin naik. Pasar lokal sudah semakin menyerap karena kebutuhan wood pellet ini sudah memasuki pasar-pasar baru sebagai pengganti gas elpiji maupun kayu bakar. Gas elpiji subsidi semakin langka di masyarakat, wood pellet menjadi energi alternatif pengganti gas. Wood pellet telah disukai konsumen untuk pembakar atau pemanas kompor rumah tangga,  industri rumah tangga dan UMKM. Wood pellet telah menjadi “emas coklat” pengganti gas karena bisa menghemat biaya pembakaran sebesar 40% s.d 50%.

IMG-20161230-WA0039

Baru baru ini pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang dikelola oleh IDEAS Semesta Energy telah mengirimkan 200 paket kompor biomassa dengan 120 karung wood pellet kaliandra yang dicampur dengan serbuk meranti belangiran menjadikannya kualitas premium. Tujuan penjualannya adalah ke Jawa Tengah untuk memasok daerah-daerah yang terjadi kelangkaan tabung gas dan masyarakat butuh energi alternatif yang murah dengan harga terjangkau. Kompor wood pellet UB memiliki keunggulan dalam menghemat wood pellet, nyala tanpa asap, dan mudah penggunaannya. Rencananya, pada satu Kabupaten yang dipasok wood pellet dibutuhkan sekitar 22.000 unit kompor biomassa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Daru Asycarya, Direktur Utama Ideas Semesta Energy, setelah bisa memenuhi target pemasaran kompor beserta wood pelletnya, maka pemasaran ini menjadi modal “gerakan sosial” memasyarakatkan kompor wood pellet pada kabupaten lain. Model bisnis yang dibangun adalah memanfaatkan agen-agen gas di tingkat kecamatan dan pedesaan dan merekalah yang menjadi ujung tombak pasar wood pellet yang head to head bertemu dengan masyarakat.

IMG-20161231-WA0006Tidak sampai disitu, pemasaran wood pellet dengan model satu paket bersama kompor ataupun burner bisa dipasarkan di pabrik-pabrik pengolahan makanan seperti tahu, gudeg jogja, pemanas ayam DOC, pengering teh, pengering tembakau, pengusaha gorengan. Salah satu kajian penggunaan wood pellet pada burner tahu telah berhasil menghemat 40% penggunaan gas elpiji. Demikian pula pengusaha peternakan ayam DOC merasakan bahwa penggunaan wood pellet lebih hemat, praktis, dan aman. Tak perlu pusing-pusing mikir ekspor, di negara kita sendiri banyak ladang untuk menjual pellet sekaligus menyelamatkan energi kita untuk kepentingan kita. Mari kita bentuk networking untuk menjadi energi terbarukan wood pellet sebagai “Gerakan Sosial” kemandirian energi sampai level masyarakat.

Daru Asycarya – 081311132706

 

Saatnya Membangun Bisnis Untuk Rakyat

IMG_4698-min

KH Ali petani hutan rakyat di Kombangan, Geger, Bangkalan merasa jengkel. Betapa tidak, tanaman kaliandra yang sudah ditanam 3 tahun lalu baru sekali saja dipanen untuk dikirim ke pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari dan habis itu tak ada permintaan lagi. Namun setelah mengikuti acara Dialog Stakeholder dalam rangka Penyerahan Pabrik Wood Pellet dan Pengembangan Wood Pellet Berbasis Masyarakat tanggal 27 September 2016 yang digelar oleh Ditjen PSKL KLHK, Haji Ali merasa lega karena peluang bangkitnya pabrik wood pellet ini ternyata masih ada. Acara tersebut dihadiri sekitar 130 orang dari berbagai latar belakang seperti BPDAS Brantas, Perum Perhutani, Buyer, Praktisi Bisnis, Kelompok Tani Gerbang Lestari, Tokoh Masyarakat, Pemda Bangkalan, Dishutbun, Akademisi dan pemerhati menjadi momen penting untuk menyaksikan keluarnya “bayi” dari sang inkubator. Mafhum saja jika pabrik wood pellet ini belum menghasilkan lagi sejak akhir 2014 karena berada pada masa inkubasi yang terus dievaluasi dan ditemukan kendala-kendala serta pemecahannya. Dari mulai persoalan kualitas mesin sampai dengan efisiensi yang rendah dan persoalan sosial. Tak gampang memang mengubah pola manajemen tradisional menjadi manajemen modern yang perlu ditransformasikan ditengah watak ketradisionalan masyarakat madura.

IMG_4735-min

Haji Ali adalah potret dari 20 Ketua dan wakil Poktan yang hadir pada acara tersebut yang tak kuasa menyembunyikan ekspresi wajah kegembiraannya. “Saya melihat perkembangan pabrik wood pellet seperti ini sangat lega dan bersyukur karena mesin-mesin pencetak pellet tidak lagi menjadi besi tua dan tempat jemuran pakaian,” ujar Apik Karyana sambil tersenyum. Sekditjen PSKL ini juga meninjau mesin-mesin yang sudah direhab secara signifikan dan pameran produk-produk energi terbarukan berbasis biomassa. Optimalisasi mesin-mesin wood pellet dilakukan oleh IDEAS Consultant menggandeng CV Suryabaja Engineering setelah mendapat restu dari KH Irham Rofii Pimpinan Ponpes Darul Ittihad yang mewakili juga FMU Gerbang Lestari dan masyarakat Geger. Rencananya pabrik wood pellet ini akan bisa mencetak pellet kayu sebanyak 2 ton per jam atau sekitar 25 ton per hari dengan shift panjang. Manajemen pabrik dan bahan baku akan ditangani langsung oleh IDEAS dengan melibatkan masyarakat lokal. Aspek manajerial akan diperhatikan dan ditangani secara profesional agar pabrik ini bisa menangguk untung lebih banyak dan administrasi dilakukan secara transparan melibatkan pihak Ponpes dan SBE sebagai bagian dari Konsorsium. Pihak ICCTF yang menghadiri acara ini yaitu Yosep dan Fauzan turut mengapresiasi perkembangan pabrik pellet ini. Salah satu keberhasilan proyek ICCTF adalah direplikasikannya konsep Bangkalan Model Project ke lokasi lain, katanya. Di sela-sela pertemuan, Daru Asycarya Direktur Utama IDEAS menyampaikan bahwa proyek serupa ini telah dikembangkan di daerah Mamuju Sulbar dan di Lombok Utara NTB melalui funding MCA Indonesia dengan sedikit variasi di kemasan konsepnya. Namun penanaman kaliandra sebagai bentuk short rotation coppice system menjadi fokus utama dalam membangun energi terbarukan yang sustainable.

IMG_9997-343075_200x200

Pantang menyerah

Pondok Pesantren Darul Ittihaad sebagai penerima hibah menurut KH Irham Rofii berperan aktif dalam ikut “menyelamatkan” aset pabrik dan aset sosial masyarakat yang rata-rata mereka hidup sebagai petani hutan. Jika Ponpes tidak turun tangan, kekhawatiran akan tidak terurusnya pabrik wood pellet ini bakalan terjadi. Pak Kyai Irham adalah mainstream dari Three Musketeer yang menjadi tokoh pergerakan lingkungan di Bangkalan selain H. Ghozali Anshori dan H. Nuryanto yang masih peduli. Dengan menggandeng IDEAS dan Surya Baja Engineering persoalan-persoalan pabrik bisa perlahan-lahan diatasi. Kami saling memompa semangat untuk berjuang, jika saya turun semangat maka Pak Daru dan Pak Yono memompannya agar bangkit, atau sebaliknya jika Pak Daru nglokro maka saya dorong agar dia tetap tegar. Inilah bagian dari persaudaraan kami untuk membesarkan “bayi” kami yang masih tidur dalam “inkubator” tandas KH Irham. Selain tiga pihak di atas, PT EMI atau Energy Management Indonesia akan memberikan support penyambungan listrik dan modal kerja demi suksesnya pabrik wood pellet di Bangkalan ini, kata Agung Jatmiko selaku Dirut EMI dan Burhan yang turut mempresentasikan pandangannya dalam dialog stakeholder selasa lalu. EMI sangat concern untuk membantu pabrik ini karena sejalan dengan visi dan misinya dan akan dikembangkan kajian penggunaan kompor wood pellet bagi masyarakat,”imbuhnya.

Menurut perhitungan Tursiyono, proses pemulihan pabrik ini sudah mendekati rampung, tinggal melengkapi panel listrik dan kabel-kabel, setting alat, serta penyambungan listrik PLN. Teknisi kami bekerja siang malam untuk merehab mesin dan mempercantik tongkrongan mesin, walaupun kadangkala aliran listrik byar pet. Kami akan mengawal pekerjaan penyempurnaan mesin sampai beroperasi dan melakukan maintainance secara teratur,” imbuh Tursiyono. Apresiasi diberikan juga oleh Sugeng Marsudiarto mantan Kasubdit di Perhutanan Sosial KLHK yang saat ini bekerja di KIFC (Korea Indonesia Forest Centre). Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh IDEAS dan SBE sungguh luar biasa, kerjakeras dan saling menopang memberikan kekuatan terwujudnya pabrik wood pellet yang lebih berpengharapan kedepan. “Pengalaman kegagalan memberikan pelajaran yang terbaik, semoga para penggiat pabrik ini terus berjuang sampai menemukan kesuksesan. Apalagi pada hari ini hadir beberapa praktisi bisnis wood pellet seperti Ibu Sari dari Subang Jabar dan Pak Herbert yang bisa membimbing pasar yang lebih menjanjikan,” imbuhnya.

IMG_4510-min

Pilihan Pasar Wood Pellet

Sari seorang pengusaha Pellet dari Subang membeberkan pengalamannya bergulat dengan bisnis sosis kayu ini yang mengalami pasang surut. Terakhir dia mampu mendulang “emas coklat” di pasar lokalan. Permintaan pabrik tahu terhadap wood pellet sangat tinggi dengan harga yang bersaing dengan pasar Korea. Bahkan kita memperoleh beberapa keuntungan, pertama harga wood pellet lokal cukup tinggi, kedua tidak perlu repot-repot melakukan ekspor yang urusannya bikin pening kepala, ketiga bisa membantu usaha kecil menengah meningkatkan efisiensi bahan bakar sehingga menguntungkan buat mareka, kata dia. Sugeng menambahkan jika harga wood pellet dunia saat ini memang sedang agak lesu karena pengaruh anjloknya harga BBM dan batubara. Pasar Korea juga ikut-ikutan lesu. Menurut Herbert, pengusaha pelletizer merek Jerman mengatakan bahwa harga pellet kayu di Korea berkisar 110 USD sampai 120 USD per ton. Tapi masih ada peluang untuk bisa ekspor ke Jepang maupun Eropa dengan harga diatas 250 USD per ton walaupun permintaan kualitas produknya sangat ketat. China tampaknya juga butuh pellet dengan harga yang sangat murah. Jika pabrik pellet kita tidak efisien, maka kita bisa rugi karena kalah bersaing dengan lainnya.

IMG_4551-min

Pabrik pellet Bangkalan ini bisa memilih bagaimana mendongkrak pasar yang lebih ramah buat bangsa ini. Jika BUMN memiliki tagline Berbakti Buat Negeri” maka pabrik ini bisa mensosialisasikan tagline “Energi terbarukan untuk masyarakat Indonesia”. Mungkin sebagian masyarakat masih memandang ini sebagai hal yang absurd. Namun, melihat pada potensi-potensi pengembangan industri hilir dari produk wood pellet ini tak mustahil proyek Bangkalan ini akan membuka mata dunia bahwa bisnis oleh rakyat ini sesuatu yang bisa diandalkan,” ujar Apik Karyana. Pameran produk pada acara ini yang mengilustrasikan produk hulu-hilir mulai wood chips, wood pellet, briket, arang beriket, briket sisha, asap cair, serta demonstrasi penggunaan kompor biomassa dan alat pemanas ternak ayam (brooder) adalah peluang-peluang menarik usaha di tingkat lokal yang nantinya bisa dikembangkan. Peluang pengkajian pendanaan melalui proposal masih sangat terbuka,”katanya. Bahkan Suwardi dan Enik yang sehari-hari bekerja di Lantai 11 Manggala wana bakti merasa optimis bahwa pasar dalam negeri tampak lebih menjanjikan. Kegiatan serah terima aset ini tidak berarti apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan pencarian inovasi bisnis yang sesuai dengan karakteristik masyarakat, imbuh Suwardi. Apapun bentuk bisnisnya, masyarakatlah sebagai pengambil keputusannya. (DA/29-09-16)

Pelletizer China, Wajah Cantik Mendulang Penyakit

IMG-20160614-WA0007

Tak sesuai dengan promosinya, mesin wood pellet pabrikan China kebanyakan bermasalah pada saat digunakan. Jika mesin-mesin China bisa beroperasi dan menghasilkan produk bagus, tak berapa lama kita harus merogoh kocek dalam untuk memperbaiki banyak kerusakan organ dalam. Kualitas metal dan onderdilnya tidak bisa dijamin bagus karena merupakan komponen asli China yang tidak diketahui standar kualitasnya. Menurut Tursiyono, Ahli mesin pellet dan briket asal Wonosobo, Mesin Pellet China teknologinya sudah meniru Jerman, tapi tidak untuk kualitasnya. China hanya jual produk, tapi tidak jual kualitas,” katanya. Untuk konsumen yang hanya mengandalkan harga murah sering terkecoh, senang membeli di awal tapi bakal menangis kemudian. Ini pengalaman Tursiyono sebagai mekanikal dan ahli mesin pengolah biomassa, bahwa menangani mesin-mesin China lebih repot. Saat ini saya sibuk menerima panggilan reparasi mesin-mesin China yang bermasalah. Bahkan banyak diantara mereka mengeluh karena teknisi China yang dipanggil untuk memperbaiki kerusakanpun telah angkat tangan dan pulang tanpa pamit,’ imbuhnya. IMG-20160614-WA0012

Jual Kualitas

PT Ideas Semesta Energy bekerjasama dengan Suryabaja Engineering bertekad untuk menyediakan peralatan dan mesin-mesin yang unggul buatan anak negeri. Kami akan menyediakan kualitas mesin-mesin yang terpercaya dan bisa diandalkan dengan service purna jual yang menjamin pabrik wood pellet mampu memproduksi wood pellet atau briket secara maksimum, sehingga profit bisa dicapai sesuai target yang ditentukan,” Kata Daru Asycarya, Direktur IDEAS. Selain itu, teknologi yang diciptakan merupakan teknologi mutakhir yang efisien. Ini hasil dari kajian engineering Tursiyono selama hampir 16 tahun bergelut dibidang permesinan dan pengolahan produk bio energy. Pesan moral: jangan mudah tertipu dengan produk China yang murah, teliti sebelum membeli.
DA/14 Aug 16

Pabrik Wood Pellet Bangkalan, Bangun dari Hibernasi

IMG-20160624-WA0010
Setelah lama berhibernasi, pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari akhirnya menggeliat. Ini dilakukan untuk mempersiapkan penambahan kapasitas mesin dari 500 kg per jam menjadi 2 ton per jam. Langkah ini menunjukkan semangat yang masih menyala-nyala walaupun sempat terombang ambing oleh keputusan investasi yang “lamban” dari salah satu BUMN dalam kurun waktu satu tahun ini. Semangat ini muncul dari tiga pihak yaitu IDEAS Consultancy Services, PT Suryabaja Engineering dan tentu saja Ponpes Darul Ittihad. Kami bertiga memberanikan diri untuk memulai perbaikan dan penyesuaian upgrade mesin pellet untuk menuju skala ekonomis usaha wood pellet,” kata Daru, Presdir IDEAS Consultant. Ini sungguh-sungguh awal pekerjaan yang bersejarah untuk mewujudkan komitmen kuat membangun kembali kepercayaan masyarakat, pasar, dan juga para penggiat energi terbarukan,” lanjut Tursiyono, boss PT Suryabaja Engineering. PT Suryabaja ini sudah berpengalaman puluhan tahun menggeluti dunia hitam (arang), sawdust, briket, dan wood pellet terutama dalam menciptakan mesin-mesin yang handal dan efisien, imbuhnya. Mesin-mesin yang awalnya didisain dan dibuat oleh salah satu pabrikan mesin pertanian dari Citeureup Bogor ini menunjukan kinerja yang kurang handal dan tidak efisien. Pemakaian listrik sangat boros, namun hasilnya sangat minim, sehingga Tursiyono sebagai pawang mesin harus turun tangan dan terlibat langsung. Tangan dingin Tursiyono terbukti mampu mengubah kinerja chipper dan hammer menjadi super kapasitas melenggang 1,5 ton perjam yang sebelumnya hanya 250 kg per jam saja.

Pasar yang menggiurkan

IMG-20160624-WA0031Wood pellet adalah energi terbarukan masa depan yang miracle. Korea masih menjadi pasar yang haus akan energi terbarukan. Walaupun harga wood pellet sempet naik turun, saat ini cukup stabil di kisaran 130 USD per ton. Konon harga wood pellet mengikuti harga minyak bumi, jika harga minyak dunia turun maka pellet ikut turun. Selain Korea, China dan Jepang menjadi konsumen pellet terbesar dunia. Harga bersaing diantara mereka. Yang paling penting sebetulnya adalah kualitas wood pellet yang selalu terjaga sesuai dengan persyaratan pasar,” kata Wahyu Riva, Direktur Program IDEAS. Pengujian mutu pellet secara kontinyu dan jaminan mutu menjadi kunci kepercayaan pasar, katanya. Tanaman Kaliandra sebagai short rotation coppice system sangat cocok dibudidayakan untuk tanaman energi yang sustainable. Pengembangan kebun energi di hutan rakyat bisa diduplikasikan di luar jawa dalam skala luas dengan beberapa catatan penyesuaian seperti jenis tanaman yang cocok, upah pekerja yang tidak terlalu mahal, kedekatan dengan pelabuhan ekspor, dan efisiensi produksi. Menggeliatnya Bangkalan adalah dalam rangka menjawab permintaan pasar yang terus menerus bertanya, kapan pabrik berderum lagi? Kami membuka kesempatan buat investor baru yang ikut berinvestasi mengembangkan Bangkalan. Ditunggu..
(DA/ Juni 2016)

Kompor Wood Pellet, Pembakar Ramah Energi

IMG_4819Akhir-akhir ini isu tentang penggunaan bahan bakar yang berasal dari energi terbarukan semakin kencang. Penggunaan bahan bakar non fosil menjadi harapan masa mendatang. Salah satunya adalah penggunaan wood pellet untuk bahan bakar rumah tangga. Setelah keberhasilan pemerintahan SBY mengkonversi minyak tanah menjadi gas, sekarang ada peluang bagus untuk menggunakan kompor wood pellet dengan bahan bakar berasal dari biomassa baik sampah biomassa maupun biomassa dari tanaman yang sengaja ditanam sebagai tanaman energi. Wood pellet sangat ekonomis dan membantu program mitigasi perubahan iklim. Penggunaan wood pellet pada hakekatnya menjalankan siklus karbon netral dengan level emisi nol.

Kompor wp yono2Jika kita bandingkan wood pellet dengan gas LPG tabung melon bersubsidi 3 kg maka masih lebih ekonomis wood pellet. Jika tinjauannya waktu, penggunaan gas LPG 3 kg akan habis selama 7 jam efektif, artinya biaya perjamnya Rp 2.850 (harga per tabung melon Rp 20.000). Sedangkan wood pellet, dengan jumlah 0,5 kg wood pellet, kompor bisa tetap menyala selama 1 jam, artinya biaya perjamnya kurang dari Rp.750,-. Namun jika ditinjau dari nilai kalorinya, gas LPG menghasilkan 11.000 kcal/kg sedangkan wood pellet hanya menghasilkan 4.700 kcal per kg. Artinya energi wood pellet perlu dikalikan 2,34 kali gas LPG. Dengan standard harga yang sama seperti contoh di atas, maka penggunaan wood pellet per kg akan berbiaya Rp 1.500 x 2,3 = Rp 3.510. Jika biaya LPG per kg adalah Rp. 6.600,- maka kita masih bisa berhemat Rp.3.156,- atau sekitar 47%. Jika dibandingkan dari sisi kepraktisan memang kompor wood pellet akan kalah dengan kompor gas yang tinggal klik langsung nyala. Namun untuk penggunaan memasak dalam jangka waktu lama, penggunaan wood pellet patut dipertimbangkan. Gambar berikut adalah percobaan penggunaan kompor wood pellet untuk memasak oleh keluarga Tursiono di Purworejo, Jawa Tengah.

Ini sebetulnya pancingan buat pemerintah terutama Kementerian ESDM untuk bisa memasyarakatkan kompor ini dengan skala yang luas. Kita bisa sediakan kompor yang satu paket dengan wood pelletnya. Jika bisa bekerjasama dengan retailer-retailer kecil seperti minimart (indomart,alfamart, SB, dll) dan supermarket, maka tidak mustahil penggunaan kompor wood pellet bisa mengindonesia karena murah, aman, dan ramah lingkungan. Bahan baku wood pellet yang berasal dari biomassa bisa menjadi pemicu masyarakat untuk gemar menanam atau penyedia solusi daur ulang sampah kayu dan ranting yang biasa nangkring di pintu-pintu air di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Gambar berikut adalah contoh sampah kayu yang selalu ngendon di pintu sungai (diunduh dari situs merdeka.com).

Sampah sungai-merdeka

Jika kita atau Pemda bisa bangun pabrik wood pellet yang bisa memanfaatkan sampah kayu dan biomassa ini, tentu akan memberikan solusi yang menguntungkan. Membersihkan sampah sekaligus menangguk rupiah. (Daru-Feb 16).

Dari Tanpa Sehelai Daunpun sampai ke Desa Mandiri Energi

Oleh: Daru Asycarya

Bumi Indonesia kaya akan sumberdaya alam, yaitu tanah, air, hutan, tambang, biodiversity, laut serta apa yang terkandung di dalamnya. Di daratan, salah satu kekayaan kita adalah biomassa yang berasal dari proses fotosintesis tanaman, penyerapan CO2 dan pembentukan karbon padat dalam bentuk hemicellulose, cellulose, dan lignin. Selama ini pemanfaatan biomassa ini sangat minim, kecuali untuk pembuatan wood-based products secara komersial seperti kayu pertukangan, kayu lapis, papan partikel dan ratusan jenis produk berbasis kayu. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah pembuangan sampah biomassa besar-besaran dari sisa pengolahan kayu, sisa penebangan hutan berupa ranting dan cabang pohon yang teronggok di hutan sampai lapuk tanpa memberi manfaat ekonomi. Pola hidup yang bergantung pada alam sudah selayaknya diubah. Kebutuhan energi juga sudah harus digantikan dari bahan bakar fosil menjadi renewable energy seperti penggunaan biomassa untuk sumberdaya listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. Energi terbarukan yang dikombinasikan dengan ekonomi kreatif memunculkan aktifitas ekonomi rendah karbon yang menjadi sebuah siklus energi. Desa Mandiri energi bisa diciptakan dengan mudah, asal ada kemauan dari pemerintah dan kita semua. Konsep sederhana pemanfaatan siklus energi bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:

Konsep integrasi tanaman energi-listrik-dan biogas

Sumberbahan baku listrik yang dirancang dengan model gasifikasi biomassa harus berasal dari kebun energi yang dijamin kelestariannya melalui sistem rotasi. Short rotation coppice system merupakan pilihan terbaik dengan menggunakan tanaman cepat tumbuh, daur pendek, terubusan, dan memiliki nilai kalori tinggi, ditanam pada lahan-lahan kosong yang tidak produktif. Karena yang dipakai untuk listrik hanya kayunya, maka daun-daun tanaman energi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Daun kaliandra dan gamal memiliki kandungan protein yang sangat baik buat ternak. Kotoran sapi bisa kita manfaatkan untuk bahan bakar biogas yang bisa dialirkan ke rumah-rumah masyarakat. Listrik desa dari gasifikasi ini akan menjadi mini power plant yang mengkombinasikan budaya komersial dan sosial. Ingat sistem barter yang digunakan sebelum ada uang sebagai alat tukar? Sistem ini bisa diterapkan pada bisnis listrik desa, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu membayar dengan uang, namun mereka punya stok biomassa yang cukup ditukar dengan listrik. Jual kayu dapat cahaya, membeli cahaya hanya dengan 1 kilo kayu, ini belum banyak difikirkan orang. Jika ada listrik, masyarakat semakin bergirah, ada geliat baru untuk menciptakan peluang ekonomi rendah karbon, tanpa minyak bumi, tanpa batubara. Masyarakatpun bisa menikmati manisnya madu, madu kaliandra…cap Gerbang Lestari Bangkalan, Cap Rumpun Hijau Lombok Timur..dan cap SCF Mamuju, Sulsel. Mantap…

HULU-HILIR: MODEL BISNIS KEBUN ENERGI DAN WOOD PELLET

Penulis: Daru Asycarya (Pernah dimuat dalam majalah Rimba Indonesia)
Editor: Dr Wiratno

IMG_0237Mat Juri terlihat menenteng celurit setelah menebas beberapa tanaman kaliandra yang tumbuh di belakang rumahnya. Batang-batang kaliandra yang telah dipanen ini disiapkan untuk digiling menjadi wood pellet di pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang lokasinya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Ada sekitar 1 hektar lahan milik Mat Juri yang ditanami kaliandra dalam program penananaman Kebun Energi Kaliandra proyek ICCTF Kemenhut. Mat Juri tidak sendirian, karena ada sekitar 200 anggota kelompok tani Gerbang Lestari (dulu Gunung Mereh) aktif menanam di lahan-lahan milik di wilayah Kecamatan Geger, Bangkalan, Madura.

Sebetulnya mereka aktif menanam sudah sejak tahun 70 an, era dimulainya program penghijauan oleh pemerintah. Lahan-lahan gundul pada saat itu terbentang dimana-mana karena memang salah urus. Program penghijauan yang digagas oleh Haji Noeryanto bersama para ulama di Geger, disambut oleh Transtoto Handadari yang saat itu menjabat sebagai Kepala Balai RLKT di Kabupaten Bangkalan. Tantangan yang dihadapi pemerintah saat itu memang berat, stigma politik masyarakat terhadap partai kekuasaan sungguh kejam. Masyarakat Bangkalan pada era itu masih kental dengan partai politik tertentu yang menganggap bahwa semua bantuan dan barang-barang milik pemerintah dianggap haram, sehingga tanaman akasia, mahoni, dan buah-buahan bantuan pemerintah-pun disebut sebagai “pohon kafir”. Oleh karena itu peran ulama karismatik seperti ayahnya Abah Irham sangat besar untuk menstimulasi program penanaman melalui pendekatan akidah Islam. Masyarakat pun pada akhirnya tidak menolak lagi.

Perjalanan para petani dan kelompok tani di Kecamatan Geger Bangkalan ini dari tingkatan petani menuju pada level industrialisasi berbasis masyarakat, sangat menarik untuk dikaji. Bisa jadi ini merupakan lompatan budaya yang terlalu jauh sehingga ada kekhawatiran sebagian pihak bahwa mereka belum siap menghadapi dunia bisnis yang penuh tantangan. Forest Management Unit (FMU) Gerbang Lestari sebetulnya telah melampaui harapan banyak orang. Gapoktan ini telah berhasil mengantongi sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) pada tahun 2010. Sertifikat yang prestisius ini merupakan bukti bahwa petani bisa mengelola hutan rakyat secara lestari dengan memegang prinsip sustainability by the tripple bottom line: planet, people, profit. Di era Orde Baru, Gapoktan di wilayah ini juga memperoleh penghargaan “Kalpataru” pada tahun 1988 dari pemerintah atas upaya-upayanya menghijaukan lahan kritis dan mitigasi banjir. Kondisi hutan rakyat yang hijau yang banyak ditumbuhi dengan tanaman untuk kayu pertukangan, kelembagaan kelompok petani yang aktif, dan akses Madura yang semakin terbuka sejak Jembatan Suramadu dioperasionalkan, merupakan faktor yang mendorong pengembangan kelompok tani ini menuju tahap industrialisasi yang low carbon economy.

Pada tahun 2013, dana bantuan dari ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) mengalir ke Kementerian Kehutanan melalui sebuah proyek pengembangan kebun energi kaliandra dan pabrik wood pellet skala inkubator. Dr. Yetti Rusli sebagai penggagas awal bersama dengan IDEAS Consultant dan Ditjen BPDAS PS ikut memperjuangkan proyek yang “seksi” dimata banyak pihak donor dan penggiat perubahan iklim.3-serangkai-penjaga-hutan-geger-307129_200x200

Penerapan konsep hulu hilir

Proyek yang didanai oleh ICCTF ini menjalankan program utama yaitu: 1. Membangun kebun energi kaliandra merah dengan pola Short Rotation Coppice System (SRC) atau 3T yaitu Tanam, Tebang, Trubus; 2. Membangun industri pelet kayu berbasis masyarakat dalam skala inkubator, dan 3. Mengembangkan kapasitas dan edukasi ke berbagai pihak seperti masyarakat terutama petani dan kelompok tani, pemerintah lokal, pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan. Setelah dua tahun (21 bulan) proyek ini dijalankan, beberapa hasil utama yang bisa dikembangkan adalah: 214 hektar kebun kaliandra merah yang siap menyuplai bahan baku wood pellet dan karbon tersimpan dalam bentuk biomasa; satu unit bangunan pabrik seluas 200 m2 beserta mesin-mesin pengolah wood pellet dan sambungan listrik PLN 197 KW yang kini telah menghasilkan produk wood pellets; kelembagaan masyarakat yang sudah tertata untuk mengelola kebun energi dan industri wood pellet, proses penghitungan karbon tersimpan dan monev, training dan bimbingan teknis petani, serta pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasional proyek.

Pembangunan Kebun energi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan energi biomasa merupakan penerapan prinsip carbon neutral dan baru pertama kali diterapkan di Indonesia, tepatnya di Bangkalan, Madura. Kebun Energi kaliandra merah dibangun oleh masyarakat atau kelompok tani FMU Gerbang Lestari yang terdiri dari 10 kelompok tani sejak tahun 2013. Mereka mengembangkan persemaian kaliandra di perwakilan kelompok dan menanam kaliandra dan ditanam di kebun energi menggunakan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Panen kaliandra baru bisa dimulai pada bulan Mei 2014 atau tepatnya setelah tanaman kaliandra berumur 14 bulan. Panen ini menandai aktivitas pabrik CV gerbang Lestari telah dimulai. Berdasarkan pengolahan data penghitungan karbon di Kebun Energi, perkiraan penurunan emisi (Estimated Emission Reducation) pada areal kebun energi kaliandra FMU sebesar 69,69 ton CO2eq/ha/tahun (emisi kebun energi kaliandra) – 22,02 ton CO2eq/ha/tahun (emisi hutan rakyat FMU) = 47,67 ton CO2eq/ha/tahun.

Sampai dengan akhir proyek ini telah dihasilkan wood pellets oleh CV Gerbang Lestari dan telah tersimpan di Gudang produksi sebanyak 15 ton. Pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat berskala inkubator dibangun di atas tanah milik Haji Sahid salah satu anggota kelompok tani dengan luas sekitar 200 m2. Walaupun berada ditengah-tengah kampung, CV Gerbang Lestari telah mengantongi semua persyaratan legalitas pabrik seperti SIUP, TDP, HO, dan Akta Pendirian. Petani dan karyawan pabrik telah memperoleh pendidikan dan training manajemen pabrik dan pengolahan mesin-mesin pengolah wood pellet dan mereka mampun mengembangkan pengetahuan mesin dan produksi wood pellet berdasarkan ujicoba dan pengalaman empirik.

Proyek ini juga menjalankan aktivitas pengembangan kapasitas petani dan kelembagaan melalui program training, Focus Group Discussion (FGD), dan bimbingan teknis. Kegiatan training dan FGD ini meliputi pengembangan persemaian, penanaman, monev, dan pemeliharaan kebun energi kaliandra. Dalam konteks pengembangan model bisnis, aturan internal, policy, visi, misi, nilai-nilai, model produksi, model profit sharing, dan sebagainya mengkaitkan antara proses produksi wood pellet dengan kemampuan kebun energi kaliandra memasok bahan baku. Model bisnis ini menjadi modal utama pengelola pabrik CV gerbang Lestari menjalankan aktivitas bisnis yang bercorak kerakyatan.

Model bisnis yang inspiratif

Model Bisnis ini adalah contoh yang menarik yang bisa dikembangkan di tempat lain melalui scale up dan replikasi karena memberi dampak positif yang luas. Dari kebun energinya bisa meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan kayu energi, lebah madu, dan pendapatan ekonomi masyarakat. Sedangkan keberadaan pabrik wood pellet yang dikelola oleh masyarakat adalah sebagai salah satu contoh penciptaan industri hilir yang akan menyerap produksi kebun energi dan menghasilkan nilai tambah produk kayu energi dalam bentuk wood pellets. Upaya penggiat industri wood pellet dan kebun energi di Bangkalan sangat dihargai karena mendukung usaha pemerintah dalam program pro-job, pro-poor, pro-sustainability.
Salah satu hal penting yang perlu digarap adalah kesiapan masyarakat dan para petani terlibat dalam kegiatan ini, sehingga pemahaman terhadap prinsip-prinsip bisnis, pengelolaan pabrik yang efisien dan produktif, serta dukungan terus menerus dari masyarakat merupakan keniscayaan. Tatakelola pabrik wood pellet harus menyepakati aturan-aturan tertentu terkait dengan SOP pengolahan wood pellet, kolaborasi dengan para petani untuk memastikan pasokan kayu energi yang kontinyu, serta model2 profit sharing.

Model bisnis hulu hilir ini juga pro lingkungan dan salah satu konsep yang diterima dalam mitigasi perubahan iklim. Kebun energi kaliandra yang terintegrasi dengan industri pengolahan energi biomasa merupakan penerapan konsep carbon neutral. Konsep ini juga telah diterima oleh masyarakat ilmiah. Secara teoritis, CO2 yang terserap di dalam tanaman melalui proses fotosintesis akan menjadi karbon padat, dan dilepaskan kembali ketika dibakar sehingga hasilnya adalah kenaikan nol tingkat emisi karbondioksida (CO2) dalam atmosfir. Selain itu, ketika bahan
bakar berbasis biomasa seperti wood pellet dibakar, maka bersamaan dengan proses itu kita bisa mengerem laju pembakaran bahan bakar berbasis fosil seperti batu bara atau minyak bumi ke udara setara dengan jumlah wood pellet yang dibakar tersebut. Dengan demikian, wood pellets berfungsi sebagai barang substitusi terhadap bahan bakar fosil yang mengeluarkan emisi tinggi. Tidak hanya membangun pabrik wood pellet, proyek ini dirancang untuk menyediakan bahan baku secara lestari melalui penanaman kaliandra (calliandra callothyrsus) di lahan tidak produktif atau lahan kosong milik masyarakat yang kita sebut sebagai kebun energi (Biomass Energy Estate).
Kebun energi yang dibangun akan meningkatkan kualitas ekosistem dan memperbaiki struktur tanah dan tata air. Petani yang menanam kaliandra akan memperoleh insentif ekonomi melalui penjualan bahan baku kaliandra, pemanfaatan daun kaliandra sebagai makanan ternak, dan kemungkinan mengembangkan usaha perlebahan dan madu sebagai usaha tambahan, dimana akan berlangsung terus-menerus selama 15-20 tahun selama terubusan kaliandra tumbuh.

Carbon Neutral

Wood Pellet dan Pengembangan pabrik Gerbang Lestari

Pertumbuhan wood pellet telah melampaui harapan banyak orang, dan sedang dalam perjalanan untuk menuju menjadi salah satu bahan bakar hijau dapat masa kini dan masa depan. Pellet diproduksi dalam bentuk compressed saw dust dari hasil kayu-kayu bekas (residu), terutama dari limbah produksi kayu. Di bawah temperatur tertentu, serbuk kayu dipadatkan untuk dibentuk pellet. Pellet memiliki ukuran seragam, dengan profil fisik yang solid membuat sangat ideal sebagai sumber bahan bakar. Sebagian besar produksi wood pellet digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk pembangkit listrik, pemanasan rumah tangga (dimusim dingin), serta keperluan masak didapur. Hal ini untuk mengimbangi ketergantungan kita pada bahan bakar fossil seperti minyak bumi, gas dan batubara, disamping untuk mengurangi tingginya polusi udara dimana emisi gas buang karbon dapat mempengaruhi naiknya pemanasan global.
Wood pellet merupakan bahan bakar “hijau” terbarukan padat, dalam arti mereka merupakan sumber energi yang bersifat karbon netral. Oleh karena itu hasil pembakaran wood pellet juga dapat membantu mengatasi perubahan iklim.

Penanganannya dalam proses pembakaran lebih mudah dan bersih dengan kadar abu yang sangat sedikit, sehingga sangat menarik untuk digunakan. Bentuknya standar silinder dengan diameter 6 hingga 8 milimeter dan panjang tidak lebih dari 38 milimeter. Wood pellet juga dapat diproduksi dalam bentuk “briket”. Wood pellet pada dasarnya solid dan konsisten keras. Dengan kadar air sangat rendah (kelembaban antara 7-10%), mengandung komponen energi yang lebih tinggi yang mungkin dibandingkan dengan batubara kalori tinggi. Hal ini hanya akan berarti bahwa konten kelembaban rendah sangat menghemat banyak energi yang dibutuhkan untuk suatu pembakar. Kelembaban rendah dan kepadatan tinggi, memungkinkan wood pellet secara otomatis sangat efektif sebagai bahan bakar yang mudah dibakar. Wood pellet menghasilkan output panas yang sangat tinggi dengan kadar panasnya bisa mencapai 5.000 kilo kalori setara dengan batubara muda dan tergantung pada jenis biomasanya.

Pengembangan pabrik wood pellet dirancang memiliki kapasitas 1 ton per jam yang disebut sebagai inkubator industri wood pellet. Dengan kapasitas terpasang pabrik 1 ton per jam dengan jam kerja 8 jam sehari akan dibutuhkan sekitar 12 ton bahan baku wood pellets setiap harinya. Jika ingin melakukan peningkatan kapasitas produksi, penggunaan limbah kayu dari jenis lain seperti ranting-ranting jati, akasia, lamtoro, gliriside, dan serbuk gergaji bisa menjadi alternatif tanpa melakukan tekanan hutan yang ada. Ini adalah laboratorium alam yang sangat menarik, sehingga istilah inkubator mengacu pada proses pembelajaran buat proyek dan buat masyarakat. Pabrik wood pellet ini harus beroperasi setiap harinya untuk menopang kegiatan ekonomi kelompok tani gerbang lestari di Geger Bangkalan. Untuk manajemen pabrik diperkerjakan masyarakat lokal yang berpotensi baik, termasuk tehnisi mesin-mesin yang berpengalaman. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan siklus: Input-Proses-dan Output produksi wood pellet.

Gambar di atas menunjukan proses perubahan raw material menjadi wood pellet melalui proses pengolahan mesin wood pellet. Mengapa pengembangan pabrik wood pellet di Bangkalan menggunakan bahan baku dari tanaman kaliandra yang ditanam oleh masyarakat atau petani hutan? Beberapa pertimbangan penting yaitu:
a. Kebun energi biomasa (biomass energy estate) tanaman kaliandra didisain untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara terus-menerus melalui sistem pemanenan lestari (sistem SRC) dengan pengaturan hasil berdasarkan luasan tertentu dan volume tertentu.
b. Jenis tanaman kaliandra memiliki nilai kalor yang tinggi, pertumbuhan cepat, mudah ditanam, mampu menyuburkan tanah melalui fiksasi nitrogen, bersifat multi purposes karena daunnya bisa dimanfaatkan utuk makanan ternak dan bunganya bisa dikembangkan untuk usaha bisnis madu dengan usaha perlebahan.
c. Mendukung program mitigasi perubahan iklim melalui konsep carbon neutral dan substitusi bahan bakar fosil seperti batubara
d. Meningkatkan kualitas lingkungan melalui konservasi tanah dan air

Analisis Ekonomi Sederhana
Berdasarkan analisis, BEP dicapai pada harga Rp 1000/kg atau 165 ton per bulannya

Analisis Ekonomi

Penutup

Kehadiran pabrik baru ini diharapkan bisa melahirkan berbagai unit usaha kecil yang berkembang atas inisiatif masyarakat sendiri sehingga tercipta sebuah trickle down effect. Artinya bahwa suatu bisnis besar yang berpengaruh dalam suatu wilayah akan memberi pengaruh yang menguntungkan bagi bisnis-bisnis lain dan konsumen-konsumen lainnya. Bisnis wood pellet dan kebun energi oleh masyarakat diharapkan bisa melahirkan usaha perlebahan dan madu yang berkembang karena ada bunga-bungan dari kebun energi kaliandra, penjualan sekam padi dan serbuk gergajian karena ada kebutuhan bahan bakar dryer bahan baku wood pellet, usaha angkutan bahan baku, usaha pembuatan kompor biomasa wood pellet yang diperjual belikan di tingkat lokal, serta kemungkinan tumbuhnya usaha wisata pendidikan: lingkungan, wirausaha, dan industri berbasis masyarakat. Kebun enrgi ini juga mendorong perbaikan lingkungan yang masif menjadi gerakan penghijauan massal.

Tuhan telah menjabarkan dengan gamblang pelajaran-pelajaran yang dilakukan di Bangkalan ini melalui Firman Nya: “Dan suatu tanda ( kekuasaan Alloh yg besar ) bagi mereka adalah bumi yg mati, kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.( QS. Yaasin : 33 )” serta di ayat lain “Dan kami jadikan padanya kebun – kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air. ( QS. Yaasin : 34 )”. Lalu, apa yang sudah kita perbuat?

Ucapan Terima kasih.

Sukses dan keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kebun energi kaliandra dan industri wood pellet skala inkubator di Geger, Bangkalan sampai saat ini merupakan hasil dukungan dan jerih payah banyak pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangkalan, Dr Yetti Rusli sebagai penggagas dan pendorong terwujudnya keberhasilan proyek ini, Prof. Yanto Santosa dan ICCTF yang menjadi pendukung dalam pendanaan dan bimbingan teknis, para Kyai dan alim ulama di Bangkalan, Dinas Kehutanan Propinsi Jatim dan Dishutbun Kabupaten Bangkalan, Kepala BPDAS Brantas Jatim, Trio Penggerak Green Madura Geger: KH Irham Rofii, H. Ghozali Anshori, dan H. Noeryanto, Petani dan kelompok Tani, Staff BPDAS PS Kementerian Kehutanan, Staff Project Management Unit di Bogor, serta semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kami berharap bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat dan kelompok tani Gerbang Lestari beserta masyarakat pesantren Darrul Ittihaad Kecamatan Geger, Bangkalan mendapat apresiasi yang besar dari KLHK karena upaya-upaya mereka adalah upaya tanpa pamrih untuk melestarikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Aktor kunci keberhasilan di lapangan:
– KH Irham Rofii, Pimpinan Ponpes Darrul Ittihaad, Desa Campor, Geger, Bangkalan No. HP. 081330597107
– H. Noeryanto, Mantan penyuluh Dinas Kehutanan, Penggerak Kelompok Tani dan tokoh penghijauan di Kecamatan Geger, No. HP. 081332217002
– H. Ghozali Anshori, Ketua Gapoktan Gerbang Lestari, No. HP. 081330553870

Kaliandra dan Wood Pellet – 06

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru asycarya

Produksi wood pellet

IMG_3666Salah satu sumber energi alternatif yang dikembangkan dari hasil hutan, yaitu Wood pellet (Wood Biomass Energy). Bahan bakunya berasal dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan dan limbah industri kayu lainnya. Hasil olahan ini dikemas dalam bentuk pellet yang berdiameter 6 – 10 mm dan panjang 10 – 30 mm. Kepadatan rata-rata 650 kg/m3 atau 1.5 m3/ton. Kadar abunya rendah 0.5%. Tinggi kandungan energinya 4.7kWh/kg atau 19.6GJ./od Mg. Mempunyai rasio energi yang tinggi antara output dan inputnya yaitu 19:1 ~ 210:1. Wood pellet cocok digunakan sebagai bahan bakar kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri besar, bahkan juga bisa untuk industri pembangkit tenaga. Dengan kandungan panasnya mencapai 4.880 kilo kalori produk ini mampu menggantikan batu bara. Dengan kemampuannya mengeluarkan panas yang setara dengan batu bara, `wood pellet’ akan diterima pasar karena dunia kini sedang menuju mekanisme pembangunan bersih untuk membantu mengurangi efek gas rumah kaca.

Kayu Kaliandra merupakan salah satu bahan yang sangat berpotensi dalam produksi wood pellet. Jenis kayu tersebut memiliki rata-rata BJ 0.67 dengan kandungan tanin yang cukup tinggi yaitu sekitar 8% dan mampu menghasilkan kalor mencapai 4.200 kkal/kg dalam bentuk kayu mentah. Berikut ini merupakan perbandingan beberapa jenis kayu sebagai bahan baku bioenergi.

Minat investor Korea Selatan untuk menanamkan modalnya di industri ini karena kebijakan Presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak, yang akan mengimplementasikan “Green Growth” Korea terkait dengan agenda dunia mengatasi perubahan iklim (Climate Change. Melalui “Green Growth”, Korsel berharap dapat mengganti lima persen dari penggunaan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan biomass dari `wood pellet’ ini. Jika kebutuhan batubara Korsel delapan juta ton per tahun, maka terdapat pasar potensial untuk produk biomass ini sekitar 400.000 ton per tahun. Berikut ini ditampilkan gambar wood pellet dari jenis soft wood dan hardwood
Konservasi dan Reklamasi Lahan Marginal

Kecepatan pertumbuhan dan kemampuan memfiksasi Nitrogen dari lingkungannya, Kaliandra dapat digunakan dalam program rehabilitasi lahan kritis. Pada awal penyebarannya tanaman Kaliandra ditanam sebagai pohon pelindung kopi dan teh atau pelindung di lokasi persemaian. Sebagai salah satu komponen sistem pertanian lahan kering, Kaliandra digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, teras, mencegah erosi, pengendalian pertumbuhan gulma seperti alang-alang, dan dapat mempertahankan kelembaban tanah. Tanaman Kaliandra dapat dikombinasikan dengan tanaman semusim seperti jagung, padi, kacang tanah, dan sayur sayuran pada sistem penanaman alley cropping, dan untuk mengurangi kerapatan naungan dan kompetisi dengan tanaman semusim kaliandra dipangkas 3-4 kali dalam setaun. Tinggi pangkasan umumnya antara 0.5 – 1 m, daun hasil pangkasannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau, pakan ternak, dan kayunya digunakan untuk kayu bakar atau pulp bahan kertas.

Produksi Madu

Kaliandra ditanam pada areal kawasan kehutanan selain untuk tanaman pelindung bagi tanaman utama seperti Karet, Pinus, Akasia, dan Damar, juga dimanfaatkan sebagai sumber pakan penting untuk lebah madu berupa residu nektar yang dihasilkan dari bungannya. Di daerah Sukabumi Jawa Barat telah ditanam kaliandra seluas 601 ha khusus untuk menyediakan pakan bagi ternak lebah, yang jumlahnya sebanyak 1800 sarang lebah. Dari setiap koloni per tahun dihasilkan madu rata-rata sebanyak 15 kg madu, dan total produksi secara keseluruhan sebanyak 27.000 kg/tahun madu.

Hijauan Pakan Ternak

Seperti kebanyakan hijauan ternak dari jenis pohon dan perdu lain, Kaliandra kaya protein, tetapi kandungan energi yang dapat dicerna relatif rendah. Bagian yang dapat dimakan mengandung 20-25% protein mentah sehingga sesuai sebagai tambahan protein bagi ternak yang makanan utamanya rumput atau jenis makanan lain yang kualitas proteinnya rendah. Namun pemberiannya sebaiknya dibatasi paling banyak 30-40% berat segar seluruh makanan, sebab jika lebih banyak, tidak akan dimanfaatkan seluruhnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai gizi adalah kecernaanya, dan sejauh mana hijauan ternak dapat dicerna dan diserap oleh ternak. Kecernaan kaliandra sangat bervariasi, dari sekitar 30% sampai 60%. Hijauan ternak C. calothyrsus segar dapat meningkatkan berat badan ternak pedaging dan produksi susu pada sapi.

Pemilihan Jenis

Pemilihan jenis tanaman harus mempertimbangkan sifat hubungan antara jenis tanaman dengan keadaan iklim, tinggi tempat di atas permukaan laut, letak permukaan air tanah dan sebagainya. Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh Soerianegara dan Indrawan (1998), bahwa ada beberapa keadaan ekologis yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pohon, yaitu:

1) Iklim, tiap jenis pohon mempunyai persyaratan tumbuh yang berhubungan erat dengan iklim. Faktor iklim-yang mempengaruhi pertumbuhan pohon adalah hujan.

2) Tanah, kesuburan dari tanah sangat penting untuk diperhatikan karena tiap jenis tanaman membutuhkan kesuburan yang berbeda-beda untuk dapat mencapai hasil maksimal.

3) Tinggi tempat, tiap jenis tanaman mempunyai kisaran tumbuh terhadap tinggi tempat dari permukaan laut.

4) Kebutuhan akan cahaya matahari, jenis pohon ada yang bersifat toleran, semi toleran dan in toleran.

5) Keadaaan lapangan, penting dalam menentukan jenis pohon untuk tujuannya misalnya untuk tujuan produksi, konservasi dan Iain-lain.

6) Kesarangan tanah, apakah jenis-jenis tertentu dapat tumbuh ditanah yang becek, sewaktu-waktu tergenang atau tidak dapat tumbuh sama sekali.

Kesesuaian jenis dengan tempat tumbuhnya memungkinkan tegakan hutan tumbuh secara optimal, sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan, baik berkenaan dengan perlindungan dan konservasi tanah maupun pengaturan tata air.