CV Gerbang Lestari siap Go International

Pelatihan Manajemen Pabrik

Tanggal 9-10 Mei yang lalu dilaksanakan pelatihan Manajemen Pabrik di Kombangan, Geger. Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan para personel yang akan terlibat di dalam pengelolaan pabrik, dan berbagai event ini mengajak para petani dan pengelola pabrik yang telah ditetapkan harus siap-siap dengan model manajemen berstandar internasional. Salah satu hal penting adalah standar produk wood pellet yang diterima konsumen dan ada jaminan sertifikat produk dari Pihak Ketiga.
Read more

Lautan Luas Penggunaan Wood Pellet

Kompor-wp

Aplikasi wood pellet sebagai bahan bakar sangat luas, mulai dari kompor rumah tangga (1 sampai 10 kW) hingga boiler terbesar untuk pembangkit listrik dan panas (>5 MW). Aplikasi skala menengah meliputi boiler kecil (10 sampai 50 kW), boiler ukuran sedang (50 sampai 150 kW) dan boiler besar (150 kW sampai 1 MW). Secara umum produksi energi dari wood pellet ini berupa panas dan listrik. Pembakaran wood pellet normalnya adalah hal mudah dan kebutuhan untuk inspeksi serta menjaga nyala api dari burner atau boiler umumnya minimal karena pengumpanan pellet yang umumnya dilakukan secara otomatis (automatic feed burner types). Tetapi problem pembakaran dapat muncul misalnya jumlah abu bertambah banyak yang menyebabkan sistem pembakaran terjadi slag dan efisiensinya menurun. Problem tersebut sering disebabkan oleh rendahnya kualitas pellet atau pilihan teknologi pembakaran yang salah atau setting sistemnya yang tidak pas.
Read more

Kiat Produksi Wood Pellet

Oleh: Eko SB Setyawan [1] Faiz Yajri [2] *

Pada umumnya biomasa di negara berkembang belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi biomasa Indonesia menurut ESDM ketika dikonversi listrik akan menjadi 49.810 MW dan yang dimanfaatkan baru 1618,40 MW atau kurang dari 4%. Salah satu sebabnya adalah mahalnya biaya investasi untuk penyediaan unit-unit pemanfaatan thermal biomasa tersebut seperti boiler untuk industri hingga pembangkit listrik dengan energi biomasa. Dilain sisi biomasa pada umumnya memiliki masalah berupa keberagamannya, kandungan energi rendah dan tingginya kadar air. Masalah tersebut bisa diatasi dengan teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) menjadi pellet dan briket dengan kualitas yang konsisten yakni standar dan stabil. Kriteria itu meliputi kandungan energinya tinggi, kadar air rendah serta ukuran dan bentuk yang homogen.
Read more

Wood Pellet vs Biomass Pellet: Siapa Lebih Unggul?

Wood Pellet vs Biomass Pellet Pada Aplikasi Powerplant
Oleh: Eko SB Setyawan [1]

Biomass

Pemanfaatan biomassa dengan rute thermal yakni pembakaran (combustion) dan gasifikasi akan menghasilkan residu berupa abu. Kadar abu (ash content) dan kimia abu (ash chemistry) sangat mempengaruhi proses pemanfaatan biomasa. Faktor lain berupa nilai kalor (heating value), ukuran material dan kadar air-nya. Secara umum karakterisasi dari abu dari biomassa dideskripsikan oleh Bryers sebagai berikut :
Read more

“Cofiring (pencampuran) Biomasa – Batubara”, Sebuah Langkah Awal

Cofiring Biomasa-Batubara Pada Coal-Powerplant
Oleh: Eko SB Setyawan [1]

Penggunaan bahan bakar biomasa semakin didorong dan ditingkatkan akhir-akhir ini sebagai akibat dorongan berbagai masalah lingkungan dan perubahan iklim global. Biomasa adalah bahan bakar diklasifikasikan sebagai bahan bakar terbarukan ketika diupayakan secara berkesinambungan dan termasuk bahan bakar “carbon neutral” . Wood pellet adalah bahan bakar biomasa lebih khusus dari biomasa berkayu yang telah ditreatment dengan densifikasi untuk perbaikan sifat-sifatnya seperti ukuran dan tingkat kekeringan seragam, serta kepadatan tinggi, sehingga memudahkan pemanfaatannya. Produk ini sebenarnya telah dikembangkan beberapa dekade lalu pada era krisis minyak dan sekarang mendapat perhatian besar karena alasan tersebut diatas.
Read more

Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Pertama dari 5 Tulisan)

BANGKALAN MODEL PROJECT

Sebuah Integrasi antara Mitigasi Perubahan Iklim, Perbaikan Lingkungan dan Penguatan Sosial Ekonomi
Oleh: Ir. Daru Asycarya, MM [1]

Sekitar satu dasawarsa, kontestasi paradigma perubahan iklim dan perdagangan karbon tak pernah berhenti. Maklum isu ini memberi pesan bahwa dibalik ancaman mengerikan akibat perubahan iklim terdapat harapan besar untuk memperoleh keuntungan jual beli karbon bila ada upaya mitigasi. Selain itu juga ada iming-iming bahwa dengan menyimpan karbon dalam bentuk biomasa atau menahan nafsu tidak menebang pohon dengan alasan Pengelolaan Hutan Lestari (SFM) akan memperoleh kompensasi. Negara-negara pengobral emisi karbon kabarnya sudah “insyaf”, dengan mencari sertifikat pengganti “dosa” mereka dan membayar kompensasi atas emisi yang dikeluarkannya kepada pihak lain yang bersedia mempertahankan kandungan karbonnya agar tidak terlepas ke udara. Dalam konteks transaksional karbon, sertifikat tersebut adalah carbon credit dalam bentuk CER (Certificate Emmision Reduction) untuk mekanisme Clean Development Mechanism atau VER (Verified Emision Reduction) untuk mekanisme voluntary carbon market yang dibeli dari pemilik kredit karbon. Sayangnya belum ada satupun contoh best practice transaksi perdagangan karbon di Indonesia yang benar-benar berhasil.
Read more

Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Kedua dari 5 Tulisan)

Integrasi sistem dalam Bangkalan Model Project

Pernahkah Anda membayangkan bahwa dengan perjalanan sekitar 2 jam dari Bandara Juanda Surabaya menuju Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu yang indah dan mengagumkan, menemukan areal yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari guna menjawab berbagai kegelisahan isu perubahan iklim, bioenergy, dan konsep pemberdayaan masyarakat yang genuine? Pasti tidak, karena Anda lebih kenal dengan Carok, karapan sapi, bebek Sinjai atau makam Syeh Kyai Kholil di Bangkalan. Berikut ini kita akan bahas tentang konsep sederhana mengenai carbon neutral, mitigasi perubahan iklim, dan pemberdayaan sosial masyarakat melalui proyek ICCTF dan Kementerian Kehutanan.
Read more

Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Ketiga dari 5 Tulisan)

2. Pengelolaan Wood Pellet Berbasis Masyarakat

Pada konsep awal, pengembangan pabrik wood pellet dirancang memiliki kapasitas 4 ton per jam. Namun belakangan disepakati untuk mengembangkan pabrik dengan kapasitas 1 ton per jam yang disebut sebagai inkubator industri wood pellet. Dengan kapasitas terpasang pabrik 1 ton perjam dengan jam kerja 7 jam sehari akan dibutuhkan sekitar 11 ton bahan baku wood pellets setiap harinya. Jika bahan baku kaliandra belum siap maka penggunaan limbah kayu dari jenis lain seperti ranting-ranting jati, akasia, lamtoro, dan gliriside telah disiapkan. Ini adalah laboratorium lapangan yang sangat menarik, sehingga istilah inkubator mengacu pada proses pembelajaran buat proyek dan buat masyarakat. Pabrik wood pellet ini harus beroperasi setiap harinya untuk menopang kegiatan ekonomi kelompok tani gerbang lestari di Geger Bangkalan. Untuk manajemen pabrik diperkerjakan masyarakat lokal yang berpotensi baik, termasuk tehnisi mesin-mesin yang berpengalaman. Karena tidak sepenuhnya berwatak akumulasi kapital, entitas bisnis wood pellet Gerbang lestari menerapkan nilai-nilai lokal yang agamis dengan manajemen global. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan siklus: Input-Proses-dan output produksi wood pellet.
Read more