Wood Pellet Memikat, Pasar Lokal Mendekat

kirim ke ptpn 8
Walau pasar wood pellet ekspor sedang lesu, pasar lokal masih menunjukkan geliatnya. Ini tercermin dari perkembangan pasar wood pellet dari Gerbang lestari Bangkalan yang dikelola oleh IDEAS SEMESTA ENERGY (ISE). Setelah sukses menjual ke Gresik, produk dari Bangkalan ini bergerak lebih jauh menuju pasar PTPN 8 di Pangalengan, Bandung Selatan. Pasokan wood pellet untuk bahan bakar pengeringan daun teh ini masih sangat kurang, sehingga pabrik pellet berbasis masyarakat dan santri di Bangkalan ini terus digenjot. Dirut ISE, Daru Asycarya mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaharuan mesin pengolah pellet bantuan dari Investor Dr. Samedi dari TFCA Jakarta, produktivitas wood pellet berangsur naik. “Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa upaya keras kami mulai menunjukkan hasil.” Selain itu, KH Irham sebagai pengasuh Ponpes Darul ittihad sekaligus owner utama pabrik ini berharap bahwa mesin pellet lain yang masih rusak bisa segera diperbaiki dan berproduksi lagi agar target produksi bisa tercapai secara maksimal. Dengan berfungsinya mesin mesin ini akan membangkitkan semangat Agus dkk sebagai karyawan pabrik, imbuhnya.

proses pemeletan

Sebagai Pendukung pabrik wood pellet Bangkalan, Dr Samedi mengatakan bahwa permintaan wood pellet sebagai bahan bakar energi terbarukan pengganti batu bara akan semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Apalagi jika pengelolaan wood pellet dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan tatakelola lingkungan dan ekonomi yang rendah karbon, ujarnya. Mesin wood pellet yang baru ini buatan China, namun dari pengalaman yang lalu, pemilihan pabrikan, penentuan komponen mesin yang berkualitas, serta mengawal pada proses pembuatannya menjadi sangat penting. Sehingga kualitas mesin China yang termasuk KW 1 bisa diperoleh. Kami terus terang menggunakan partner atau agen penjualan yang bisa nongkrongin proses pengadaan mesin wood pellet, termasuk memilih motor merk Siemens pabrikan Jerman, Ring Dies kualitas bagus, dan PLC yang dilengkapi dengan inverter, kata Daru. Teknisi dari China pun di datangkan untuk memberikan training pengoperasian mesin dan melakukan trouble shooting. Dengan upaya ini, karyawan pabrik akan semakin menguasai teknologi pemeletan ini dengan langkah-langkah yang benar. Pepatah kuno mengatakan, Hasil tidak akan menghianati usaha keras… semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk Nya. Aamiin. DA/08-21-17

mesin baru hasil wp

Pabrik Wood Pellet Bangkalan, Bangun dari Hibernasi

IMG-20160624-WA0010
Setelah lama berhibernasi, pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari akhirnya menggeliat. Ini dilakukan untuk mempersiapkan penambahan kapasitas mesin dari 500 kg per jam menjadi 2 ton per jam. Langkah ini menunjukkan semangat yang masih menyala-nyala walaupun sempat terombang ambing oleh keputusan investasi yang “lamban” dari salah satu BUMN dalam kurun waktu satu tahun ini. Semangat ini muncul dari tiga pihak yaitu IDEAS Consultancy Services, PT Suryabaja Engineering dan tentu saja Ponpes Darul Ittihad. Kami bertiga memberanikan diri untuk memulai perbaikan dan penyesuaian upgrade mesin pellet untuk menuju skala ekonomis usaha wood pellet,” kata Daru, Presdir IDEAS Consultant. Ini sungguh-sungguh awal pekerjaan yang bersejarah untuk mewujudkan komitmen kuat membangun kembali kepercayaan masyarakat, pasar, dan juga para penggiat energi terbarukan,” lanjut Tursiyono, boss PT Suryabaja Engineering. PT Suryabaja ini sudah berpengalaman puluhan tahun menggeluti dunia hitam (arang), sawdust, briket, dan wood pellet terutama dalam menciptakan mesin-mesin yang handal dan efisien, imbuhnya. Mesin-mesin yang awalnya didisain dan dibuat oleh salah satu pabrikan mesin pertanian dari Citeureup Bogor ini menunjukan kinerja yang kurang handal dan tidak efisien. Pemakaian listrik sangat boros, namun hasilnya sangat minim, sehingga Tursiyono sebagai pawang mesin harus turun tangan dan terlibat langsung. Tangan dingin Tursiyono terbukti mampu mengubah kinerja chipper dan hammer menjadi super kapasitas melenggang 1,5 ton perjam yang sebelumnya hanya 250 kg per jam saja.

Pasar yang menggiurkan

IMG-20160624-WA0031Wood pellet adalah energi terbarukan masa depan yang miracle. Korea masih menjadi pasar yang haus akan energi terbarukan. Walaupun harga wood pellet sempet naik turun, saat ini cukup stabil di kisaran 130 USD per ton. Konon harga wood pellet mengikuti harga minyak bumi, jika harga minyak dunia turun maka pellet ikut turun. Selain Korea, China dan Jepang menjadi konsumen pellet terbesar dunia. Harga bersaing diantara mereka. Yang paling penting sebetulnya adalah kualitas wood pellet yang selalu terjaga sesuai dengan persyaratan pasar,” kata Wahyu Riva, Direktur Program IDEAS. Pengujian mutu pellet secara kontinyu dan jaminan mutu menjadi kunci kepercayaan pasar, katanya. Tanaman Kaliandra sebagai short rotation coppice system sangat cocok dibudidayakan untuk tanaman energi yang sustainable. Pengembangan kebun energi di hutan rakyat bisa diduplikasikan di luar jawa dalam skala luas dengan beberapa catatan penyesuaian seperti jenis tanaman yang cocok, upah pekerja yang tidak terlalu mahal, kedekatan dengan pelabuhan ekspor, dan efisiensi produksi. Menggeliatnya Bangkalan adalah dalam rangka menjawab permintaan pasar yang terus menerus bertanya, kapan pabrik berderum lagi? Kami membuka kesempatan buat investor baru yang ikut berinvestasi mengembangkan Bangkalan. Ditunggu..
(DA/ Juni 2016)

Dari Tanpa Sehelai Daunpun sampai ke Desa Mandiri Energi

Oleh: Daru Asycarya

Bumi Indonesia kaya akan sumberdaya alam, yaitu tanah, air, hutan, tambang, biodiversity, laut serta apa yang terkandung di dalamnya. Di daratan, salah satu kekayaan kita adalah biomassa yang berasal dari proses fotosintesis tanaman, penyerapan CO2 dan pembentukan karbon padat dalam bentuk hemicellulose, cellulose, dan lignin. Selama ini pemanfaatan biomassa ini sangat minim, kecuali untuk pembuatan wood-based products secara komersial seperti kayu pertukangan, kayu lapis, papan partikel dan ratusan jenis produk berbasis kayu. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah pembuangan sampah biomassa besar-besaran dari sisa pengolahan kayu, sisa penebangan hutan berupa ranting dan cabang pohon yang teronggok di hutan sampai lapuk tanpa memberi manfaat ekonomi. Pola hidup yang bergantung pada alam sudah selayaknya diubah. Kebutuhan energi juga sudah harus digantikan dari bahan bakar fosil menjadi renewable energy seperti penggunaan biomassa untuk sumberdaya listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. Energi terbarukan yang dikombinasikan dengan ekonomi kreatif memunculkan aktifitas ekonomi rendah karbon yang menjadi sebuah siklus energi. Desa Mandiri energi bisa diciptakan dengan mudah, asal ada kemauan dari pemerintah dan kita semua. Konsep sederhana pemanfaatan siklus energi bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:

Konsep integrasi tanaman energi-listrik-dan biogas

Sumberbahan baku listrik yang dirancang dengan model gasifikasi biomassa harus berasal dari kebun energi yang dijamin kelestariannya melalui sistem rotasi. Short rotation coppice system merupakan pilihan terbaik dengan menggunakan tanaman cepat tumbuh, daur pendek, terubusan, dan memiliki nilai kalori tinggi, ditanam pada lahan-lahan kosong yang tidak produktif. Karena yang dipakai untuk listrik hanya kayunya, maka daun-daun tanaman energi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Daun kaliandra dan gamal memiliki kandungan protein yang sangat baik buat ternak. Kotoran sapi bisa kita manfaatkan untuk bahan bakar biogas yang bisa dialirkan ke rumah-rumah masyarakat. Listrik desa dari gasifikasi ini akan menjadi mini power plant yang mengkombinasikan budaya komersial dan sosial. Ingat sistem barter yang digunakan sebelum ada uang sebagai alat tukar? Sistem ini bisa diterapkan pada bisnis listrik desa, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu membayar dengan uang, namun mereka punya stok biomassa yang cukup ditukar dengan listrik. Jual kayu dapat cahaya, membeli cahaya hanya dengan 1 kilo kayu, ini belum banyak difikirkan orang. Jika ada listrik, masyarakat semakin bergirah, ada geliat baru untuk menciptakan peluang ekonomi rendah karbon, tanpa minyak bumi, tanpa batubara. Masyarakatpun bisa menikmati manisnya madu, madu kaliandra…cap Gerbang Lestari Bangkalan, Cap Rumpun Hijau Lombok Timur..dan cap SCF Mamuju, Sulsel. Mantap…

Ringkasan Eksekutif Proyek

Slide show 3Proyek yang didanai oleh ICCTF ini menjalankan program utama yaitu: 1. Membangun kebun energi kaliandra merah dengan pola Short Rotation Coppice System (SRC) atau Tanam, Tebang, Trubus; 2. Membangun industri pelet kayu berbasis masyarakat dalam skala inkubator, dan 3. Mengembangkan kapasitas dan edukasi ke berbagai pihak seperti masyarakat terutama petani dan kelompok tani, pemerintah lokal, pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan. Setelah dua tahun (21 bulan) proyek ini dijalankan, beberapa hasil utama yang bisa dikembangkan adalah: 214 hektar kebun kaliandra merah yang siap menyuplai bahan baku wood pellet dan karbon tersimpan dalam bentuk biomasa; satu bangunan pabrik seluas 200 m2 beserta mesin-mesin pengolah wood pellet dan sambungan listrik PLN 197 KW yang telah menghasilkan produk wood pellets; kelembagaan masyarakat yang sudah tertata untuk mengelola kebun energi dan industri wood pellet, proses penghitungan karbon tersimpan dan monev, training dan bimbingan teknis petani, serta pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasional proyek.

Pembangunan Kebun energi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan energi biomasa merupakan penerapan Gerbang Lestari pelletprinsip carbon neutral dan baru pertama kali diterapkan di Indonesia, tepatnya di Bangkalan, Madura. CO2 yang diserap oleh tanaman melalui proses fotosintesis dan dibakar akan mengeluarkan emisi pada tingkat nol. Kebun Energi kaliandra merah dibangun oleh masyarakat atau kelompok tani FMU Gerbang Lestari yang terdiri dari 10 kelompok tani. Mereka mengembangkan persemaian kaliandra di perwakilan kelompok dan menanam kaliandra dan ditanam di kebun energi menggunakan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Panen kaliandra baru bisa dimulai pada bulan Mei 2014 atau tepatnya setelah tanaman kaliandra berumur 14 bulan. Panen ini menandai aktivitas pabrik CV gerbang Lestari telah dimulai. Berdasarkan pengolahan data penghitungan karbon di Kebun Energi, perkiraan penurunan emisi (Estimated Emission Reducation) pada areal kebun energi kaliandra FMU sebesar 69,69 ton CO2eq/ha/tahun (emisi kebun energi kaliandra) – 22,02 ton CO2eq/ha/tahun (emisi hutan rakyat FMU) = 47,67 ton CO2eq/ha/tahun.

DSCN0046Sampai dengan akhir proyek ini telah dihasilkan wood pellets oleh CV Gerbang Lestari dan telah tersimpan di Gudang produksi sebanyak 12 ton. Pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat berskala inkubator dibangun di atas tanah dengan luas sekitar 200 m 2. Mengingat proses pengadaan barang yang cukup panjang, mesin-mesin wood pellet baru mulai dioperasikan pada bulan Juni 2014 dan melalui proses ujicoba dan perbaikan-perbaikan (fine-tuning) mesin serta variasi penggunaan bahan baku wood pellet. Walaupun berada ditengah-tengah kampung, CV Gerbang Lestari telah mengantongi semua persyaratan legalitas pabrik seperti SIUP, TDP, HO, dan kta Pendirian. Petani dan karyawan pabrik telah memperoleh pendidikan dan training manajemen pabrik dan pengolahan mesin-mesin pengolah wood pellet dan mereka mampun mengembangkan pengetahuan mesin dan produksi wood pellet berdasarkan ujicoba dan pengalaman empirik.

Proyek ini juga menjalankan aktivitas pengembangan kapasitas petani dan kelembagaan melalui program training, Focus Group Discussion (FGD),dan bimbingan teknis. Kegiatan training dan FGD ini meliputi pengembangan persemaian, penanaman, monev, dan pemeliharaan kebun energi kaliandra. Dalam konteks pengembangan model bisnis, aturan internal, policy, visi, misi, nilai-nilai, model produksi, model profit sharing, dan sebagainya mengkaitkan antara proses produksi wood pellet dengan kemampuan kebun energi kaliandra memasok bahan baku. Model bisnis ini menjadi modal utama pengelola pabrik CV gerbang Lestari menjalankan aktivitas bisnis yang bercorak kerakyatan.

Secara umum disain proyek ini sudah semuanya berjalan, integrasi antara mitigasi perubahan iklim, peningkatan kualitas ekosistem dan penguatan ekonomi masyarakat sudah bisa diwujudkan. Jika model proyek Bangkalan ini akan direplikasi di daerah lain, maka perlu disesuaikan dengan kondisi setempat dan memperhatikan hasil-hasil pengembangan kebun energi dan pabrik wood pellet serta penetrasi pasar yang lebih luas.

Kata kunci: Kebun Energi, Wood pellets, Carbon Neutral, SRC, kaliandra, emission reduction

Daru Asycarya – September 2014

Kaliandra Nan Menjulang

IMG_9873-313527_200x200
Indra Eka Prabowo tercekat. Staff Monitoring dan Evaluasi ICCTF-Mofor ini pangling saat berjalan menyambangi kebun Musawwi di Blok Tretah Desa Togubang, Kecamatan Geger, Bangkalan. Mafhum saja 6 bulan silam saat berkunjung kondisi lahan seluas 1.500 m2 itu tidak lebih dari rerimbunan pohon kaliandra seolah “malas” tumbuh. Tinggi kaliandra merah tampak bersaingan dengan rerumputan yang juga tidak kalah subur.
Read more

Selamat Rupiah Berkat Limbah

IMG_0923-202104_200x200
Pemakaian biomassa ternyata bikin kantong makin gembung. Tidak percaya? Tengok saja pengalaman perusahaan penghasil semen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Sejak 2009, Semen Indonesia mulai memanfaatkan limbah biomassa sebagai subtitusi batubara. Mafhum saja batubara selama ini menjadi andalan industri semen. Namun, batubara kalori tinggi mulai sulit didapat. Walhasil alternatif lain seperti batubara kalori menengah serta limbah biomassa menjadi incaran.
Cara terakhir itulah yang dilakoni oleh pabrik PT Semen Indonesia di Tuban, Jawa Timur. Limbah biomassa yang berlimpah seperti sekam padi, sisa tembakau tidak lulus uji, serbuk gergaji dan cocopeat menjadi andalan. Hasilnya mujarab, sejak 2009 hingga 2012 terjadi penghemata batubara sebanyak 162.990 ton. Jumlah itu setara dengan Rp57,272-miliar.
Read more

Mau Bakulan Wood Pellet apa Briket Biomasa?

Mau Bakulan Wood Pellet ataukah Briket?
Eko SB Setyawan
Editor: Daru Asycarya

Pellet-or-Briket-85239_200x200

Indonesia adalah negara tropis yang kaya akan potensi biomasa baik dari kuantitas maupun keanekaragamannya. Menurut ESDM potensi limbah biomasa Indonesia bila dikonversi menjadi energi listrik sebesar 49.810 MW dan yang sudah dimanfaatkan sebesar 1.618,40 MW atau baru 3,25%-nya. Padahal biomasa tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain untuk energi, memperbaiki kesuburan tanah, menyerap karbon dioksida dari atmosfer hingga produksi berbagai bahan kimia. Secara skema tingkat kesiapan teknologi dan nilai keekonomian dari pemanfaatan limbah biomassa tersebut seperti pada skema dibawah ini:
Read more

Sosialisasi Model Bisnis Hulu-Hilir ala Petani Bangkalan

IMG_4449-346172_200x200
Tanggal 30 September 2014 yang lalu di desa Kombangan, Geger, Bangkalan berlangsung acara diskusi meriah terkait model bisnis yang baru pertama kali di-endorse di Indonesia ini. Hal ini diakui oleh Ir. Wiratno, MSc selaku Direktur Bina Perhutanan Sosial, Ditjen BPDAS PS bahwa kegiatan proyek Wood Pellet yang terintegrasi dengan Kebun Energi Kaliandra adalah yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia, tepatnya di daerah Geger Bangkalan. Atas inisiatif dari Dr Yetti Rusli dan dukungan Prof Yanto Santosa, Guru besar IPB sekaligus Expert Perubahan Iklim ICCTF proyek ini bisa menggelinding,” katanya.
Read more

Dahlan Iskan: Kaliandra Setelah Tumpengan di Komisi VI

Dahlan-32741_200x200
Dahlan Iskan membuat geger di Kecamatan Geger Bangkalan setelah aksi blusukannya meninjau kebun energi kaliandra — bertemu dan berbincang dengan para Kyai/masyarakat– membaca proyek wood pellet bangkalan adalah model bagus yang menerapkan konsep pembangunan lahan kritis melalui penanaman kaliandra. Tidak cukup menanam kaliandra disana, tetapi juga menggarap industri hilir pembangunan pabrik wood pellet yang bahan bakunya kaliandra yang memiliki kalori tinggi untuk ahan bakar. Berikut ini petikan tulisan tentang Dahlan di Jawa Pos tanggal 29 September 2014 dan Detik.com.
Read more

Pilih Menggunakan Gas LPG apa Wood Pellet?

168188_620-93852_200x200
Indonesia mengalami beberapa kali krisis bahan bakar fosil dan gas LPG. Langka dan mahalnya gas LPG di sejumlah tempat sangat ironi karena sebetulnya kita punya potensi yang luar biasa untuk menggunakan energi biomasa yang terbarukan. Contoh kongkrit adalah potensi bahan baku pellet dari limbah kayu dan biomasa lainnya yang melimpah, adalah merupakan peluang yang belum banyak dilirik oleh banyak orang. Hampir semua limbah kayu dan biomasa bisa dijadikan pellet bahan bakar dengan nilai kalor yang tinggi. Apabila telah dicetak dalam bentuk pellet, maka penggunaannya menjadi lebih mudah, murah dan aplikasinya luas. Mengapa saat ini belum banyak yang menggunakan pellet khususnya untuk dalam negeri atau lebih khusus untuk aplikasi rumah tangga? Hal ini karena belum banyak yang memproduksi pellet bahan bakar ini untuk konsumsi rumah tangga, karena umumnya sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan eksport. Sedangkan untuk industri dalam negeri sudah cukup banyak yang melakukan konversi bahan bakar ke pellet.
Read more