Pasar Wood Pellet Lokal, Harus Banyak Akal

Penjualan Wood Pellet untuk ekspor sedang lesu, harga pasar di Korea maupun China masih belum menarik produsen pellet untuk menggerakan padatan serbuk kayu berbentuk pensil itu menuju destinasi ekspor. Tantangan ini tidak lantas membuat kita diam menunggu harga pellet semakin naik. Pasar lokal sudah semakin menyerap karena kebutuhan wood pellet ini sudah memasuki pasar-pasar baru sebagai pengganti gas elpiji maupun kayu bakar. Gas elpiji subsidi semakin langka di masyarakat, wood pellet menjadi energi alternatif pengganti gas. Wood pellet telah disukai konsumen untuk pembakar atau pemanas kompor rumah tangga,  industri rumah tangga dan UMKM. Wood pellet telah menjadi “emas coklat” pengganti gas karena bisa menghemat biaya pembakaran sebesar 40% s.d 50%.

IMG-20161230-WA0039

Baru baru ini pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang dikelola oleh IDEAS Semesta Energy telah mengirimkan 200 paket kompor biomassa dengan 120 karung wood pellet kaliandra yang dicampur dengan serbuk meranti belangiran menjadikannya kualitas premium. Tujuan penjualannya adalah ke Jawa Tengah untuk memasok daerah-daerah yang terjadi kelangkaan tabung gas dan masyarakat butuh energi alternatif yang murah dengan harga terjangkau. Kompor wood pellet UB memiliki keunggulan dalam menghemat wood pellet, nyala tanpa asap, dan mudah penggunaannya. Rencananya, pada satu Kabupaten yang dipasok wood pellet dibutuhkan sekitar 22.000 unit kompor biomassa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Daru Asycarya, Direktur Utama Ideas Semesta Energy, setelah bisa memenuhi target pemasaran kompor beserta wood pelletnya, maka pemasaran ini menjadi modal “gerakan sosial” memasyarakatkan kompor wood pellet pada kabupaten lain. Model bisnis yang dibangun adalah memanfaatkan agen-agen gas di tingkat kecamatan dan pedesaan dan merekalah yang menjadi ujung tombak pasar wood pellet yang head to head bertemu dengan masyarakat.

IMG-20161231-WA0006Tidak sampai disitu, pemasaran wood pellet dengan model satu paket bersama kompor ataupun burner bisa dipasarkan di pabrik-pabrik pengolahan makanan seperti tahu, gudeg jogja, pemanas ayam DOC, pengering teh, pengering tembakau, pengusaha gorengan. Salah satu kajian penggunaan wood pellet pada burner tahu telah berhasil menghemat 40% penggunaan gas elpiji. Demikian pula pengusaha peternakan ayam DOC merasakan bahwa penggunaan wood pellet lebih hemat, praktis, dan aman. Tak perlu pusing-pusing mikir ekspor, di negara kita sendiri banyak ladang untuk menjual pellet sekaligus menyelamatkan energi kita untuk kepentingan kita. Mari kita bentuk networking untuk menjadi energi terbarukan wood pellet sebagai “Gerakan Sosial” kemandirian energi sampai level masyarakat.

Daru Asycarya – 081311132706

 

Pelletizer China, Wajah Cantik Mendulang Penyakit

IMG-20160614-WA0007

Tak sesuai dengan promosinya, mesin wood pellet pabrikan China kebanyakan bermasalah pada saat digunakan. Jika mesin-mesin China bisa beroperasi dan menghasilkan produk bagus, tak berapa lama kita harus merogoh kocek dalam untuk memperbaiki banyak kerusakan organ dalam. Kualitas metal dan onderdilnya tidak bisa dijamin bagus karena merupakan komponen asli China yang tidak diketahui standar kualitasnya. Menurut Tursiyono, Ahli mesin pellet dan briket asal Wonosobo, Mesin Pellet China teknologinya sudah meniru Jerman, tapi tidak untuk kualitasnya. China hanya jual produk, tapi tidak jual kualitas,” katanya. Untuk konsumen yang hanya mengandalkan harga murah sering terkecoh, senang membeli di awal tapi bakal menangis kemudian. Ini pengalaman Tursiyono sebagai mekanikal dan ahli mesin pengolah biomassa, bahwa menangani mesin-mesin China lebih repot. Saat ini saya sibuk menerima panggilan reparasi mesin-mesin China yang bermasalah. Bahkan banyak diantara mereka mengeluh karena teknisi China yang dipanggil untuk memperbaiki kerusakanpun telah angkat tangan dan pulang tanpa pamit,’ imbuhnya. IMG-20160614-WA0012

Jual Kualitas

PT Ideas Semesta Energy bekerjasama dengan Suryabaja Engineering bertekad untuk menyediakan peralatan dan mesin-mesin yang unggul buatan anak negeri. Kami akan menyediakan kualitas mesin-mesin yang terpercaya dan bisa diandalkan dengan service purna jual yang menjamin pabrik wood pellet mampu memproduksi wood pellet atau briket secara maksimum, sehingga profit bisa dicapai sesuai target yang ditentukan,” Kata Daru Asycarya, Direktur IDEAS. Selain itu, teknologi yang diciptakan merupakan teknologi mutakhir yang efisien. Ini hasil dari kajian engineering Tursiyono selama hampir 16 tahun bergelut dibidang permesinan dan pengolahan produk bio energy. Pesan moral: jangan mudah tertipu dengan produk China yang murah, teliti sebelum membeli.
DA/14 Aug 16

Kompor Wood Pellet, Pembakar Ramah Energi

IMG_4819Akhir-akhir ini isu tentang penggunaan bahan bakar yang berasal dari energi terbarukan semakin kencang. Penggunaan bahan bakar non fosil menjadi harapan masa mendatang. Salah satunya adalah penggunaan wood pellet untuk bahan bakar rumah tangga. Setelah keberhasilan pemerintahan SBY mengkonversi minyak tanah menjadi gas, sekarang ada peluang bagus untuk menggunakan kompor wood pellet dengan bahan bakar berasal dari biomassa baik sampah biomassa maupun biomassa dari tanaman yang sengaja ditanam sebagai tanaman energi. Wood pellet sangat ekonomis dan membantu program mitigasi perubahan iklim. Penggunaan wood pellet pada hakekatnya menjalankan siklus karbon netral dengan level emisi nol.

Kompor wp yono2Jika kita bandingkan wood pellet dengan gas LPG tabung melon bersubsidi 3 kg maka masih lebih ekonomis wood pellet. Jika tinjauannya waktu, penggunaan gas LPG 3 kg akan habis selama 7 jam efektif, artinya biaya perjamnya Rp 2.850 (harga per tabung melon Rp 20.000). Sedangkan wood pellet, dengan jumlah 0,5 kg wood pellet, kompor bisa tetap menyala selama 1 jam, artinya biaya perjamnya kurang dari Rp.750,-. Namun jika ditinjau dari nilai kalorinya, gas LPG menghasilkan 11.000 kcal/kg sedangkan wood pellet hanya menghasilkan 4.700 kcal per kg. Artinya energi wood pellet perlu dikalikan 2,34 kali gas LPG. Dengan standard harga yang sama seperti contoh di atas, maka penggunaan wood pellet per kg akan berbiaya Rp 1.500 x 2,3 = Rp 3.510. Jika biaya LPG per kg adalah Rp. 6.600,- maka kita masih bisa berhemat Rp.3.156,- atau sekitar 47%. Jika dibandingkan dari sisi kepraktisan memang kompor wood pellet akan kalah dengan kompor gas yang tinggal klik langsung nyala. Namun untuk penggunaan memasak dalam jangka waktu lama, penggunaan wood pellet patut dipertimbangkan. Gambar berikut adalah percobaan penggunaan kompor wood pellet untuk memasak oleh keluarga Tursiono di Purworejo, Jawa Tengah.

Ini sebetulnya pancingan buat pemerintah terutama Kementerian ESDM untuk bisa memasyarakatkan kompor ini dengan skala yang luas. Kita bisa sediakan kompor yang satu paket dengan wood pelletnya. Jika bisa bekerjasama dengan retailer-retailer kecil seperti minimart (indomart,alfamart, SB, dll) dan supermarket, maka tidak mustahil penggunaan kompor wood pellet bisa mengindonesia karena murah, aman, dan ramah lingkungan. Bahan baku wood pellet yang berasal dari biomassa bisa menjadi pemicu masyarakat untuk gemar menanam atau penyedia solusi daur ulang sampah kayu dan ranting yang biasa nangkring di pintu-pintu air di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Gambar berikut adalah contoh sampah kayu yang selalu ngendon di pintu sungai (diunduh dari situs merdeka.com).

Sampah sungai-merdeka

Jika kita atau Pemda bisa bangun pabrik wood pellet yang bisa memanfaatkan sampah kayu dan biomassa ini, tentu akan memberikan solusi yang menguntungkan. Membersihkan sampah sekaligus menangguk rupiah. (Daru-Feb 16).

HULU-HILIR: MODEL BISNIS KEBUN ENERGI DAN WOOD PELLET

Penulis: Daru Asycarya (Pernah dimuat dalam majalah Rimba Indonesia)
Editor: Dr Wiratno

IMG_0237Mat Juri terlihat menenteng celurit setelah menebas beberapa tanaman kaliandra yang tumbuh di belakang rumahnya. Batang-batang kaliandra yang telah dipanen ini disiapkan untuk digiling menjadi wood pellet di pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang lokasinya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Ada sekitar 1 hektar lahan milik Mat Juri yang ditanami kaliandra dalam program penananaman Kebun Energi Kaliandra proyek ICCTF Kemenhut. Mat Juri tidak sendirian, karena ada sekitar 200 anggota kelompok tani Gerbang Lestari (dulu Gunung Mereh) aktif menanam di lahan-lahan milik di wilayah Kecamatan Geger, Bangkalan, Madura.

Sebetulnya mereka aktif menanam sudah sejak tahun 70 an, era dimulainya program penghijauan oleh pemerintah. Lahan-lahan gundul pada saat itu terbentang dimana-mana karena memang salah urus. Program penghijauan yang digagas oleh Haji Noeryanto bersama para ulama di Geger, disambut oleh Transtoto Handadari yang saat itu menjabat sebagai Kepala Balai RLKT di Kabupaten Bangkalan. Tantangan yang dihadapi pemerintah saat itu memang berat, stigma politik masyarakat terhadap partai kekuasaan sungguh kejam. Masyarakat Bangkalan pada era itu masih kental dengan partai politik tertentu yang menganggap bahwa semua bantuan dan barang-barang milik pemerintah dianggap haram, sehingga tanaman akasia, mahoni, dan buah-buahan bantuan pemerintah-pun disebut sebagai “pohon kafir”. Oleh karena itu peran ulama karismatik seperti ayahnya Abah Irham sangat besar untuk menstimulasi program penanaman melalui pendekatan akidah Islam. Masyarakat pun pada akhirnya tidak menolak lagi.

Perjalanan para petani dan kelompok tani di Kecamatan Geger Bangkalan ini dari tingkatan petani menuju pada level industrialisasi berbasis masyarakat, sangat menarik untuk dikaji. Bisa jadi ini merupakan lompatan budaya yang terlalu jauh sehingga ada kekhawatiran sebagian pihak bahwa mereka belum siap menghadapi dunia bisnis yang penuh tantangan. Forest Management Unit (FMU) Gerbang Lestari sebetulnya telah melampaui harapan banyak orang. Gapoktan ini telah berhasil mengantongi sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) pada tahun 2010. Sertifikat yang prestisius ini merupakan bukti bahwa petani bisa mengelola hutan rakyat secara lestari dengan memegang prinsip sustainability by the tripple bottom line: planet, people, profit. Di era Orde Baru, Gapoktan di wilayah ini juga memperoleh penghargaan “Kalpataru” pada tahun 1988 dari pemerintah atas upaya-upayanya menghijaukan lahan kritis dan mitigasi banjir. Kondisi hutan rakyat yang hijau yang banyak ditumbuhi dengan tanaman untuk kayu pertukangan, kelembagaan kelompok petani yang aktif, dan akses Madura yang semakin terbuka sejak Jembatan Suramadu dioperasionalkan, merupakan faktor yang mendorong pengembangan kelompok tani ini menuju tahap industrialisasi yang low carbon economy.

Pada tahun 2013, dana bantuan dari ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) mengalir ke Kementerian Kehutanan melalui sebuah proyek pengembangan kebun energi kaliandra dan pabrik wood pellet skala inkubator. Dr. Yetti Rusli sebagai penggagas awal bersama dengan IDEAS Consultant dan Ditjen BPDAS PS ikut memperjuangkan proyek yang “seksi” dimata banyak pihak donor dan penggiat perubahan iklim.3-serangkai-penjaga-hutan-geger-307129_200x200

Penerapan konsep hulu hilir

Proyek yang didanai oleh ICCTF ini menjalankan program utama yaitu: 1. Membangun kebun energi kaliandra merah dengan pola Short Rotation Coppice System (SRC) atau 3T yaitu Tanam, Tebang, Trubus; 2. Membangun industri pelet kayu berbasis masyarakat dalam skala inkubator, dan 3. Mengembangkan kapasitas dan edukasi ke berbagai pihak seperti masyarakat terutama petani dan kelompok tani, pemerintah lokal, pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan. Setelah dua tahun (21 bulan) proyek ini dijalankan, beberapa hasil utama yang bisa dikembangkan adalah: 214 hektar kebun kaliandra merah yang siap menyuplai bahan baku wood pellet dan karbon tersimpan dalam bentuk biomasa; satu unit bangunan pabrik seluas 200 m2 beserta mesin-mesin pengolah wood pellet dan sambungan listrik PLN 197 KW yang kini telah menghasilkan produk wood pellets; kelembagaan masyarakat yang sudah tertata untuk mengelola kebun energi dan industri wood pellet, proses penghitungan karbon tersimpan dan monev, training dan bimbingan teknis petani, serta pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasional proyek.

Pembangunan Kebun energi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan energi biomasa merupakan penerapan prinsip carbon neutral dan baru pertama kali diterapkan di Indonesia, tepatnya di Bangkalan, Madura. Kebun Energi kaliandra merah dibangun oleh masyarakat atau kelompok tani FMU Gerbang Lestari yang terdiri dari 10 kelompok tani sejak tahun 2013. Mereka mengembangkan persemaian kaliandra di perwakilan kelompok dan menanam kaliandra dan ditanam di kebun energi menggunakan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Panen kaliandra baru bisa dimulai pada bulan Mei 2014 atau tepatnya setelah tanaman kaliandra berumur 14 bulan. Panen ini menandai aktivitas pabrik CV gerbang Lestari telah dimulai. Berdasarkan pengolahan data penghitungan karbon di Kebun Energi, perkiraan penurunan emisi (Estimated Emission Reducation) pada areal kebun energi kaliandra FMU sebesar 69,69 ton CO2eq/ha/tahun (emisi kebun energi kaliandra) – 22,02 ton CO2eq/ha/tahun (emisi hutan rakyat FMU) = 47,67 ton CO2eq/ha/tahun.

Sampai dengan akhir proyek ini telah dihasilkan wood pellets oleh CV Gerbang Lestari dan telah tersimpan di Gudang produksi sebanyak 15 ton. Pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat berskala inkubator dibangun di atas tanah milik Haji Sahid salah satu anggota kelompok tani dengan luas sekitar 200 m2. Walaupun berada ditengah-tengah kampung, CV Gerbang Lestari telah mengantongi semua persyaratan legalitas pabrik seperti SIUP, TDP, HO, dan Akta Pendirian. Petani dan karyawan pabrik telah memperoleh pendidikan dan training manajemen pabrik dan pengolahan mesin-mesin pengolah wood pellet dan mereka mampun mengembangkan pengetahuan mesin dan produksi wood pellet berdasarkan ujicoba dan pengalaman empirik.

Proyek ini juga menjalankan aktivitas pengembangan kapasitas petani dan kelembagaan melalui program training, Focus Group Discussion (FGD), dan bimbingan teknis. Kegiatan training dan FGD ini meliputi pengembangan persemaian, penanaman, monev, dan pemeliharaan kebun energi kaliandra. Dalam konteks pengembangan model bisnis, aturan internal, policy, visi, misi, nilai-nilai, model produksi, model profit sharing, dan sebagainya mengkaitkan antara proses produksi wood pellet dengan kemampuan kebun energi kaliandra memasok bahan baku. Model bisnis ini menjadi modal utama pengelola pabrik CV gerbang Lestari menjalankan aktivitas bisnis yang bercorak kerakyatan.

Model bisnis yang inspiratif

Model Bisnis ini adalah contoh yang menarik yang bisa dikembangkan di tempat lain melalui scale up dan replikasi karena memberi dampak positif yang luas. Dari kebun energinya bisa meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan kayu energi, lebah madu, dan pendapatan ekonomi masyarakat. Sedangkan keberadaan pabrik wood pellet yang dikelola oleh masyarakat adalah sebagai salah satu contoh penciptaan industri hilir yang akan menyerap produksi kebun energi dan menghasilkan nilai tambah produk kayu energi dalam bentuk wood pellets. Upaya penggiat industri wood pellet dan kebun energi di Bangkalan sangat dihargai karena mendukung usaha pemerintah dalam program pro-job, pro-poor, pro-sustainability.
Salah satu hal penting yang perlu digarap adalah kesiapan masyarakat dan para petani terlibat dalam kegiatan ini, sehingga pemahaman terhadap prinsip-prinsip bisnis, pengelolaan pabrik yang efisien dan produktif, serta dukungan terus menerus dari masyarakat merupakan keniscayaan. Tatakelola pabrik wood pellet harus menyepakati aturan-aturan tertentu terkait dengan SOP pengolahan wood pellet, kolaborasi dengan para petani untuk memastikan pasokan kayu energi yang kontinyu, serta model2 profit sharing.

Model bisnis hulu hilir ini juga pro lingkungan dan salah satu konsep yang diterima dalam mitigasi perubahan iklim. Kebun energi kaliandra yang terintegrasi dengan industri pengolahan energi biomasa merupakan penerapan konsep carbon neutral. Konsep ini juga telah diterima oleh masyarakat ilmiah. Secara teoritis, CO2 yang terserap di dalam tanaman melalui proses fotosintesis akan menjadi karbon padat, dan dilepaskan kembali ketika dibakar sehingga hasilnya adalah kenaikan nol tingkat emisi karbondioksida (CO2) dalam atmosfir. Selain itu, ketika bahan
bakar berbasis biomasa seperti wood pellet dibakar, maka bersamaan dengan proses itu kita bisa mengerem laju pembakaran bahan bakar berbasis fosil seperti batu bara atau minyak bumi ke udara setara dengan jumlah wood pellet yang dibakar tersebut. Dengan demikian, wood pellets berfungsi sebagai barang substitusi terhadap bahan bakar fosil yang mengeluarkan emisi tinggi. Tidak hanya membangun pabrik wood pellet, proyek ini dirancang untuk menyediakan bahan baku secara lestari melalui penanaman kaliandra (calliandra callothyrsus) di lahan tidak produktif atau lahan kosong milik masyarakat yang kita sebut sebagai kebun energi (Biomass Energy Estate).
Kebun energi yang dibangun akan meningkatkan kualitas ekosistem dan memperbaiki struktur tanah dan tata air. Petani yang menanam kaliandra akan memperoleh insentif ekonomi melalui penjualan bahan baku kaliandra, pemanfaatan daun kaliandra sebagai makanan ternak, dan kemungkinan mengembangkan usaha perlebahan dan madu sebagai usaha tambahan, dimana akan berlangsung terus-menerus selama 15-20 tahun selama terubusan kaliandra tumbuh.

Carbon Neutral

Wood Pellet dan Pengembangan pabrik Gerbang Lestari

Pertumbuhan wood pellet telah melampaui harapan banyak orang, dan sedang dalam perjalanan untuk menuju menjadi salah satu bahan bakar hijau dapat masa kini dan masa depan. Pellet diproduksi dalam bentuk compressed saw dust dari hasil kayu-kayu bekas (residu), terutama dari limbah produksi kayu. Di bawah temperatur tertentu, serbuk kayu dipadatkan untuk dibentuk pellet. Pellet memiliki ukuran seragam, dengan profil fisik yang solid membuat sangat ideal sebagai sumber bahan bakar. Sebagian besar produksi wood pellet digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk pembangkit listrik, pemanasan rumah tangga (dimusim dingin), serta keperluan masak didapur. Hal ini untuk mengimbangi ketergantungan kita pada bahan bakar fossil seperti minyak bumi, gas dan batubara, disamping untuk mengurangi tingginya polusi udara dimana emisi gas buang karbon dapat mempengaruhi naiknya pemanasan global.
Wood pellet merupakan bahan bakar “hijau” terbarukan padat, dalam arti mereka merupakan sumber energi yang bersifat karbon netral. Oleh karena itu hasil pembakaran wood pellet juga dapat membantu mengatasi perubahan iklim.

Penanganannya dalam proses pembakaran lebih mudah dan bersih dengan kadar abu yang sangat sedikit, sehingga sangat menarik untuk digunakan. Bentuknya standar silinder dengan diameter 6 hingga 8 milimeter dan panjang tidak lebih dari 38 milimeter. Wood pellet juga dapat diproduksi dalam bentuk “briket”. Wood pellet pada dasarnya solid dan konsisten keras. Dengan kadar air sangat rendah (kelembaban antara 7-10%), mengandung komponen energi yang lebih tinggi yang mungkin dibandingkan dengan batubara kalori tinggi. Hal ini hanya akan berarti bahwa konten kelembaban rendah sangat menghemat banyak energi yang dibutuhkan untuk suatu pembakar. Kelembaban rendah dan kepadatan tinggi, memungkinkan wood pellet secara otomatis sangat efektif sebagai bahan bakar yang mudah dibakar. Wood pellet menghasilkan output panas yang sangat tinggi dengan kadar panasnya bisa mencapai 5.000 kilo kalori setara dengan batubara muda dan tergantung pada jenis biomasanya.

Pengembangan pabrik wood pellet dirancang memiliki kapasitas 1 ton per jam yang disebut sebagai inkubator industri wood pellet. Dengan kapasitas terpasang pabrik 1 ton per jam dengan jam kerja 8 jam sehari akan dibutuhkan sekitar 12 ton bahan baku wood pellets setiap harinya. Jika ingin melakukan peningkatan kapasitas produksi, penggunaan limbah kayu dari jenis lain seperti ranting-ranting jati, akasia, lamtoro, gliriside, dan serbuk gergaji bisa menjadi alternatif tanpa melakukan tekanan hutan yang ada. Ini adalah laboratorium alam yang sangat menarik, sehingga istilah inkubator mengacu pada proses pembelajaran buat proyek dan buat masyarakat. Pabrik wood pellet ini harus beroperasi setiap harinya untuk menopang kegiatan ekonomi kelompok tani gerbang lestari di Geger Bangkalan. Untuk manajemen pabrik diperkerjakan masyarakat lokal yang berpotensi baik, termasuk tehnisi mesin-mesin yang berpengalaman. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan siklus: Input-Proses-dan Output produksi wood pellet.

Gambar di atas menunjukan proses perubahan raw material menjadi wood pellet melalui proses pengolahan mesin wood pellet. Mengapa pengembangan pabrik wood pellet di Bangkalan menggunakan bahan baku dari tanaman kaliandra yang ditanam oleh masyarakat atau petani hutan? Beberapa pertimbangan penting yaitu:
a. Kebun energi biomasa (biomass energy estate) tanaman kaliandra didisain untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara terus-menerus melalui sistem pemanenan lestari (sistem SRC) dengan pengaturan hasil berdasarkan luasan tertentu dan volume tertentu.
b. Jenis tanaman kaliandra memiliki nilai kalor yang tinggi, pertumbuhan cepat, mudah ditanam, mampu menyuburkan tanah melalui fiksasi nitrogen, bersifat multi purposes karena daunnya bisa dimanfaatkan utuk makanan ternak dan bunganya bisa dikembangkan untuk usaha bisnis madu dengan usaha perlebahan.
c. Mendukung program mitigasi perubahan iklim melalui konsep carbon neutral dan substitusi bahan bakar fosil seperti batubara
d. Meningkatkan kualitas lingkungan melalui konservasi tanah dan air

Analisis Ekonomi Sederhana
Berdasarkan analisis, BEP dicapai pada harga Rp 1000/kg atau 165 ton per bulannya

Analisis Ekonomi

Penutup

Kehadiran pabrik baru ini diharapkan bisa melahirkan berbagai unit usaha kecil yang berkembang atas inisiatif masyarakat sendiri sehingga tercipta sebuah trickle down effect. Artinya bahwa suatu bisnis besar yang berpengaruh dalam suatu wilayah akan memberi pengaruh yang menguntungkan bagi bisnis-bisnis lain dan konsumen-konsumen lainnya. Bisnis wood pellet dan kebun energi oleh masyarakat diharapkan bisa melahirkan usaha perlebahan dan madu yang berkembang karena ada bunga-bungan dari kebun energi kaliandra, penjualan sekam padi dan serbuk gergajian karena ada kebutuhan bahan bakar dryer bahan baku wood pellet, usaha angkutan bahan baku, usaha pembuatan kompor biomasa wood pellet yang diperjual belikan di tingkat lokal, serta kemungkinan tumbuhnya usaha wisata pendidikan: lingkungan, wirausaha, dan industri berbasis masyarakat. Kebun enrgi ini juga mendorong perbaikan lingkungan yang masif menjadi gerakan penghijauan massal.

Tuhan telah menjabarkan dengan gamblang pelajaran-pelajaran yang dilakukan di Bangkalan ini melalui Firman Nya: “Dan suatu tanda ( kekuasaan Alloh yg besar ) bagi mereka adalah bumi yg mati, kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.( QS. Yaasin : 33 )” serta di ayat lain “Dan kami jadikan padanya kebun – kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air. ( QS. Yaasin : 34 )”. Lalu, apa yang sudah kita perbuat?

Ucapan Terima kasih.

Sukses dan keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kebun energi kaliandra dan industri wood pellet skala inkubator di Geger, Bangkalan sampai saat ini merupakan hasil dukungan dan jerih payah banyak pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangkalan, Dr Yetti Rusli sebagai penggagas dan pendorong terwujudnya keberhasilan proyek ini, Prof. Yanto Santosa dan ICCTF yang menjadi pendukung dalam pendanaan dan bimbingan teknis, para Kyai dan alim ulama di Bangkalan, Dinas Kehutanan Propinsi Jatim dan Dishutbun Kabupaten Bangkalan, Kepala BPDAS Brantas Jatim, Trio Penggerak Green Madura Geger: KH Irham Rofii, H. Ghozali Anshori, dan H. Noeryanto, Petani dan kelompok Tani, Staff BPDAS PS Kementerian Kehutanan, Staff Project Management Unit di Bogor, serta semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kami berharap bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat dan kelompok tani Gerbang Lestari beserta masyarakat pesantren Darrul Ittihaad Kecamatan Geger, Bangkalan mendapat apresiasi yang besar dari KLHK karena upaya-upaya mereka adalah upaya tanpa pamrih untuk melestarikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Aktor kunci keberhasilan di lapangan:
– KH Irham Rofii, Pimpinan Ponpes Darrul Ittihaad, Desa Campor, Geger, Bangkalan No. HP. 081330597107
– H. Noeryanto, Mantan penyuluh Dinas Kehutanan, Penggerak Kelompok Tani dan tokoh penghijauan di Kecamatan Geger, No. HP. 081332217002
– H. Ghozali Anshori, Ketua Gapoktan Gerbang Lestari, No. HP. 081330553870

Kaliandra dan Wood Pellet – 06

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru asycarya

Produksi wood pellet

IMG_3666Salah satu sumber energi alternatif yang dikembangkan dari hasil hutan, yaitu Wood pellet (Wood Biomass Energy). Bahan bakunya berasal dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan dan limbah industri kayu lainnya. Hasil olahan ini dikemas dalam bentuk pellet yang berdiameter 6 – 10 mm dan panjang 10 – 30 mm. Kepadatan rata-rata 650 kg/m3 atau 1.5 m3/ton. Kadar abunya rendah 0.5%. Tinggi kandungan energinya 4.7kWh/kg atau 19.6GJ./od Mg. Mempunyai rasio energi yang tinggi antara output dan inputnya yaitu 19:1 ~ 210:1. Wood pellet cocok digunakan sebagai bahan bakar kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri besar, bahkan juga bisa untuk industri pembangkit tenaga. Dengan kandungan panasnya mencapai 4.880 kilo kalori produk ini mampu menggantikan batu bara. Dengan kemampuannya mengeluarkan panas yang setara dengan batu bara, `wood pellet’ akan diterima pasar karena dunia kini sedang menuju mekanisme pembangunan bersih untuk membantu mengurangi efek gas rumah kaca.

Kayu Kaliandra merupakan salah satu bahan yang sangat berpotensi dalam produksi wood pellet. Jenis kayu tersebut memiliki rata-rata BJ 0.67 dengan kandungan tanin yang cukup tinggi yaitu sekitar 8% dan mampu menghasilkan kalor mencapai 4.200 kkal/kg dalam bentuk kayu mentah. Berikut ini merupakan perbandingan beberapa jenis kayu sebagai bahan baku bioenergi.

Minat investor Korea Selatan untuk menanamkan modalnya di industri ini karena kebijakan Presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak, yang akan mengimplementasikan “Green Growth” Korea terkait dengan agenda dunia mengatasi perubahan iklim (Climate Change. Melalui “Green Growth”, Korsel berharap dapat mengganti lima persen dari penggunaan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan biomass dari `wood pellet’ ini. Jika kebutuhan batubara Korsel delapan juta ton per tahun, maka terdapat pasar potensial untuk produk biomass ini sekitar 400.000 ton per tahun. Berikut ini ditampilkan gambar wood pellet dari jenis soft wood dan hardwood
Konservasi dan Reklamasi Lahan Marginal

Kecepatan pertumbuhan dan kemampuan memfiksasi Nitrogen dari lingkungannya, Kaliandra dapat digunakan dalam program rehabilitasi lahan kritis. Pada awal penyebarannya tanaman Kaliandra ditanam sebagai pohon pelindung kopi dan teh atau pelindung di lokasi persemaian. Sebagai salah satu komponen sistem pertanian lahan kering, Kaliandra digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, teras, mencegah erosi, pengendalian pertumbuhan gulma seperti alang-alang, dan dapat mempertahankan kelembaban tanah. Tanaman Kaliandra dapat dikombinasikan dengan tanaman semusim seperti jagung, padi, kacang tanah, dan sayur sayuran pada sistem penanaman alley cropping, dan untuk mengurangi kerapatan naungan dan kompetisi dengan tanaman semusim kaliandra dipangkas 3-4 kali dalam setaun. Tinggi pangkasan umumnya antara 0.5 – 1 m, daun hasil pangkasannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau, pakan ternak, dan kayunya digunakan untuk kayu bakar atau pulp bahan kertas.

Produksi Madu

Kaliandra ditanam pada areal kawasan kehutanan selain untuk tanaman pelindung bagi tanaman utama seperti Karet, Pinus, Akasia, dan Damar, juga dimanfaatkan sebagai sumber pakan penting untuk lebah madu berupa residu nektar yang dihasilkan dari bungannya. Di daerah Sukabumi Jawa Barat telah ditanam kaliandra seluas 601 ha khusus untuk menyediakan pakan bagi ternak lebah, yang jumlahnya sebanyak 1800 sarang lebah. Dari setiap koloni per tahun dihasilkan madu rata-rata sebanyak 15 kg madu, dan total produksi secara keseluruhan sebanyak 27.000 kg/tahun madu.

Hijauan Pakan Ternak

Seperti kebanyakan hijauan ternak dari jenis pohon dan perdu lain, Kaliandra kaya protein, tetapi kandungan energi yang dapat dicerna relatif rendah. Bagian yang dapat dimakan mengandung 20-25% protein mentah sehingga sesuai sebagai tambahan protein bagi ternak yang makanan utamanya rumput atau jenis makanan lain yang kualitas proteinnya rendah. Namun pemberiannya sebaiknya dibatasi paling banyak 30-40% berat segar seluruh makanan, sebab jika lebih banyak, tidak akan dimanfaatkan seluruhnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai gizi adalah kecernaanya, dan sejauh mana hijauan ternak dapat dicerna dan diserap oleh ternak. Kecernaan kaliandra sangat bervariasi, dari sekitar 30% sampai 60%. Hijauan ternak C. calothyrsus segar dapat meningkatkan berat badan ternak pedaging dan produksi susu pada sapi.

Pemilihan Jenis

Pemilihan jenis tanaman harus mempertimbangkan sifat hubungan antara jenis tanaman dengan keadaan iklim, tinggi tempat di atas permukaan laut, letak permukaan air tanah dan sebagainya. Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh Soerianegara dan Indrawan (1998), bahwa ada beberapa keadaan ekologis yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pohon, yaitu:

1) Iklim, tiap jenis pohon mempunyai persyaratan tumbuh yang berhubungan erat dengan iklim. Faktor iklim-yang mempengaruhi pertumbuhan pohon adalah hujan.

2) Tanah, kesuburan dari tanah sangat penting untuk diperhatikan karena tiap jenis tanaman membutuhkan kesuburan yang berbeda-beda untuk dapat mencapai hasil maksimal.

3) Tinggi tempat, tiap jenis tanaman mempunyai kisaran tumbuh terhadap tinggi tempat dari permukaan laut.

4) Kebutuhan akan cahaya matahari, jenis pohon ada yang bersifat toleran, semi toleran dan in toleran.

5) Keadaaan lapangan, penting dalam menentukan jenis pohon untuk tujuannya misalnya untuk tujuan produksi, konservasi dan Iain-lain.

6) Kesarangan tanah, apakah jenis-jenis tertentu dapat tumbuh ditanah yang becek, sewaktu-waktu tergenang atau tidak dapat tumbuh sama sekali.

Kesesuaian jenis dengan tempat tumbuhnya memungkinkan tegakan hutan tumbuh secara optimal, sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan, baik berkenaan dengan perlindungan dan konservasi tanah maupun pengaturan tata air.

Keunggulan Kaliandra Merah (5)

Keunggulan Kaliandra Merah

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru asycarya

Alasan yg dipakai untuk menanam Kaliandra merah karena mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut :
a. Mempunyai pertumbuhan yang cepat, sehingga mudah dan cepat untuk diproduksi sebagai penghasil bahan baku chip.
b. Toleran pada tanah yang masam (pH rendah) dimana jenis tanaman lainnya menunjukkan performa yang buruk pada kondisi lahan tersebut sehingga jenis ini dapat tumbuh pada areal yang luas dan kondisinya beragam.
c. Tanaman Kaliandra merupakan tanaman pengikat nitrogen dan mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah karena tanaman ini mampu bersimbiose dengan bakteri Rhizobium untuk pengikat unsur N dari udara yng kemudian disimpan dalam bintil-bintil akar sehingga digunakan bawah pada perkebunan kelapa, kopi dan tehm serta tanaman inang pada tanaman hutan.
d. Memiliki kemamapuan bertunas kembali setelah berkali-kali dilakukan pemangkasan, sehingga tanaman ini sering digunakan untuk pakan ternak.
e. Banyak digunakan sebagai kayu bakar oleh petani karena kayunya mudah dikeringkan serta cukup baik untuk dibuat arang kayu. Dalam 1 Ha tanaman kaliandara dapat menghasilkan 15-40 ton kayu dan masa produksinya selama 10-20 tahun.
f. Digunakan untuk merehabilitasi lahan alang-alang.
g. Pohonnya sering digunakan untuk kutu lak, melakukan sekresi guna menghasilkan lak (bahan untuk pembuatan vernis).
h. Dapat digunakan untuk memproduksi Chip yang digunakan bahan bakar industry.
i. Meningkatkan penyerapan air permukaan kedalam tanah karena perakarannya yang dalam dapat menahan air permukaan sehingga banyak menyerap air ke dalam tanah.
j. Penahan erosi, karena memiliki perakaran yang relative dalam sehingga dapat tumbuh dengan kokoh.

Karakteristik Pemanfaatan

Kayu Bakar/Arang (bioenergi konvensional)
Luas tanaman Kaliandra di Pulau Jawa dapat mencapai lebih dari 30,000 ha. Kayu dari tanaman kaliandra teksturnya cukup padat, mudah kering dan sifatnya mudah terbakar, sehingga kayu kaliandra sangat ideal untuk dijadikan kayu bakar atau kayu arang. Kayu Kaliandra memiliki berat jenis antara 0.5 – 0.8, dan dapat menghasilkan panas sebesar 4600 kcal/kg, sedangkan untuk kayu arang menghasilkan panas sebesar 7200 kcal/kg (Roshetko, J.M 2001). Untuk produksi kayu bakar penanaman kaliandra umumnya ditanam secara rapat dengan ukuran 1×1 m atau 1×2 m.

Pemangkasan pada tanaman kaliandra akan membentuk tunas baru dengan cepat dan merangsang pertumbuhan cabang-cabang lebih banyak dibanding tanaman jenis leguminosae lainnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa pada umur 1 tahun tanaman kaliandra dapat menghasilkan kayu bakar sebanyak 5-20 m3/ha/tahun, dan yang sudah berumur 20 tahun dapat menghasilkan kayu bakar sebanyak 30-65 m3/ha/tahun (Roshetko, J.M. 2001). Produksi kayu Kaliandra umur 1 tahun (5-20 m3/ha/tahun), setara dengan Biomass sebesar 4.35-17.42 ton/ha/tahun [produksi kayu (m3) x wood density (0.67) x Biomass Efficient Factor (1.3)]. Masih terkait dengan produksi kayu Kaliandra, data lain menunjukkan bahwa pada tahun pertama, dihasilkan kayu bakar sebesar 100 sm (staple meter) per ha (Vademekum Kehutanan 1976). Staple meter dapat diartikan sebagai tumpukan kayu, dengan ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 1 m. Dengan nilai konversi 1 sm = 0.7 m3, maka 100 sm setara dengan 70 m3, atau setara dengan 70 m3 x 0.67 x 1.3 ton/ha atau sebesar 60.97 ton/ha. Data ini jauh lebih besar dibandingkan dengan data Roshetko, JM (2001). Sementara itu, Ndayambaje J.D (2005) menyatakan bahwa produksi biomassa tanaman Kaliandra dengan pola Agroforestry di Rwanda, Afrika pada tahun pertama dapat mencapai 15-40 ton/ha.

Angka ini diperoleh dengan intensitas pengelolaan yang cukup baik. Mengacu kepada data produksi kayu Kaliandra di atas, maka menurut saya, produksi sebesar 4-17 ton/ha termasuk rendah dengan intensitas pengelolaan tergolong rendah (poor management), sedangkan produksi sebesar 60.97 ton/ha cenderung over-estimate. Berpedoman kepada produksi kayu energy secara umum dengan intensitas pengelolaan baik (good management) yaitu sebesar 20-30 ton/ha, maka tanaman Kaliandra di Bangkalan harus dikelola secara baik untuk mencapai angka tersebut. Produktivitas sangat tergantung pada kondisi tempat tumbuh dan pengelolaannya.

Kayu bakar dari tanaman kaliandra di Indonesia banyak digunakan masyarakat pedesaan untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil seperti produksi gula merah, karet, minyak kelapa, bata merah, dan batu bata.

Kaliandra dan Tumpangsari (4)

Oleh: Prijanto Pamoengkas & Daru Asycarya

Sistem tumpang sari/Wanatani

DSCN0039Petani di Sulawesi telah menanam Kaliandra sebagai tanaman peneduh di perkebunan kopi, demikian juga di Guatemala dan Costa Rica. Setelah kopi tua di Guatemala dan Costa Rica, Kaliandra diganti dengan pohon peneduh yang lebih besar, seperti Inga, Gliricidia (Gamal), dan Erythrina (Dadap). Di Sri Lanka, para petani sudah menunjukkan minat mereka untuk menggunakan Kaliandra sebagai pohon pelindung berukuran sedang di perkebunan teh. Di Jawa Barat, petani menanam Kaliandra sebagai pohon peneduh semai di hutan tanaman kayu bernilai tinggi, seperti Agathis loranthifolia (Damar) dan Tectona (Jati), Swietenia (Mahoni), dan Pinus. Kaliandra ditanam rapat di sepanjang garis kontur di antara barisan jenis tanaman kayu utama. Barisan tanaman pohon peneduh biasanya berjarak 2,5-3 m dari pohon penghasil kayu, bergantung pada kemiringan lahan. Kaliandra dipangkas secara berkala, dan hasil pangkasan dikembalikan ke tanah sebagai pupuk hijau dan mulsa. Pohon peneduh menghambat pertumbuhan gulma, mencegah erosi tanah, dan meningkatkan kesuburan tanah.

Kaliandra juga berpotensi tinggi untuk tumpang sari dengan tanaman pangan seperti jagung, padi atau kacang tanah. Hasil awal dari percobaan tumpang sari barisan menunjukkan bahwa pohon ini sebaiknya ditanam dengan jarak tanam 2,5 m dalam barisan dan dipangkas setinggi 50 cm. Biomassa hasil patumpangsaringkasan kemudian dikembalikan ke tanah sebelum penanaman tanaman pangan. Barisan Kaliandra mungkin juga perlu dipangkas sekali atau dua kali lebih banyak selama musim tanam, untuk mengurangi persaingan mendapatkan cahaya dan kelembaban tanah.

Petani di Indonesia juga melakukan tumpang sari antara Kaliandra dan jenis tumbuhan perdu lainnya bersama dengan tanaman pangan di lereng bukit (tingkat kemiringan kurang dari 45 persen) dalam barisan mengikuti garis kontur yang berjarak 1,5 m sampai 2 m. Barisan tanaman dipangkas untuk dijadikan mulsa selama musim kemarau dan pupuk hijau selama musim hujan. (DA-28/11-15)

Teknik Silvikultur Kaliandra – 03

Oleh : Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

Persemaian-1

Persemaian/Pembuatan Bibit

Pengadaan Bibit
Pengadaan bibit dapat berasal dari biji atau pembiakan vegetatif melalui stump dan tunas/coppice system.

Pengadaan benih

1. Pengumpulan benih
Buah berbentuk polong. Buah (polong) masak berwarna coklat. Jumlah benih dapat mencapai 14.000-19.000 setiap kg.

2. Ekstraksi benih
Buah (polong) yang masak setelah dijemur di bawah sinar matahari selama 1-2 hari akan membuka dan menampakkan benih di dalamnya. Benih terlihat mengkilap, hitam, berbentuk seperti tetesan air mata seperti benih Leucaena tetapi agak sedikit lebih besar.

3. Penyimpanan benih
Penyimpanan benih di dalam refrigerator pada suhu 4° C dapat mempertahankan viabilitasnya setelah 2,5 tahun. Akan tetapi bila benih Kaliandra disimpan dalam kantong katun pada suhu ruang maka vaibilitasnya akan turun dari 75% menjadi 60% dalam 1 tahun. Namun penyimpanan benih Kaliandra untuk periode yang lama tidak selalu diperlukan karena Kaliandra berbuah secara terus menerus sepanjang tahun.

4. Perkecambahan benih
Benih ditaburkan tanpa menggunakan perlakukan pendahuluan. Tetapi benih akan berkecambah dengan cepat bila benih direndam air panas 1 menit kemudian direndam air dingin selama 24 jam.

benih kaliandra

Pembiakan vegetatif

1. Stump/Stek
Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan stump yang diambil dari pohon yang tingginya kira-kira 1 meter dengan memotong batangnya sampai ketinggian 30 cm dan akarnya sampai 20 cm. Stump dapat pula dibuat dengan ukuran panjang batang 30-50 cm dan panjang bagian akar 25 cm.

2. Coppice system/sistem trubusan
Perbanyakan tanaman Kaliandra dengan cara vegetatif dapat dilakukan dari semai muda yang sukulen atau tunas akar, cara perbanyakan vegetatif ini tidak banyak dilakukan di Indonesia. Perbanyakan secara vegetatif dari tunas muda atau akar perlu media tanam yang baik, yaitu campuran pasir dan serbuk gergaji dalam keadaan basah dan kelembabannya harus dipertahankan 80%. Pengambilan batang dari tunas muda atau akar sepanjang 5-7 cm, yang masing-masing memiliki 2-3 helai daun kemudian tanaman ditanam pada poly-propagator dengan jarak 5×5 cm. Potongan-potongan tersebut sebaiknya ditanam pada pagi hari, dan segera dipindahkan ketempat perbanyakan, karena batang yang sukulen sangat rentan terhadap kekeringan, oleh karena itu perlu penyiraman 2-3 hari sekali.

Persemaian

Setelah bibit berumur 4-6 bulan (diameter leher akar ± 1 cm ), atau dengan tinggi rata-rata 20-50 cm dan diameter leher akar 0,5 – 1 cm maka bibit siap ditanam di lapangan.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan cara semai langsung biji yang telah diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm atau dari bibit yang telah mencapai tinggi 20-50 cm yang telah ditumbuhkan pada tempat pembibitan. Bibit dapat ditanam berbaris dengan jarak tanam 3-4m, atau pada penggunaan sebagai sumber pakan ditanam dengan jarak 0,5-1 m secara menyebar. Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah baru ditanami. Pertumbuhan awal lambat tetapi pertumbuhan selanjutnya sangat cepat dan pohon dapat mencapai tinggi 3,5 m dalam 6 bulan. Tidak dapat tumbuh baik bila dipotong.

Semai dipindahkan ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan dua sampai empat minggu sebelumnya. Buat lubang dengan lebar sedikitnya 30 cm dan kedalaman 30 cm, gemburkan tanah, dan kemudian kembalikan ke dalam lubang. Sebelum menanam, sobeklah satu sisi kantung plastik dan pindahkan semai dengan hati-hati tanpa mengganggu gumpalan tanah pada akarnya. Jika akar mengelilingi gumpalan tanah potonglah di kedua sisi menggunakan pisau yang bersih dan tajam. Dengan demikian akarnya tidak tumbuh menggumpal setelah dipindahkan. Letakkan setiap semai di tengah lubang tanam. Bagian atas gumpalan tanahnya harus sama tinggi dengan permukaan tanah. Padatkan tanah yang longgar di sekitar semai dengan hatihati sehingga semai berdiri tegak. Jika penguapan air tanah merupakan masalah, tutuplah permukaan tanah di sekitar semai dengan mulsa. Pastikan bahwa mulsa ini tidak mengandung biji gulma.

Persemaian-2

Pemeliharaan

Semua tanaman muda Kaliandra menunjukkan pertumbuhan yang lambat pada awalnya, apa pun cara tanam yang diterapkan. Selama periode ini, tanaman sangat rentan terhadap persaingan dengan tumbuhan lain untuk mendapatkan sinar matahari, kelembaban dan hara tanah. Jenis rumput yang cepat tumbuh seperti Bothriochloa petusa (rumput perak), Bracharia mutica, dan Panicum maximum, memiliki perakaran yang sangat padat di permukaan tanah dan merupakan pesaing kuat bagi semai yang masih muda. Persaingan seperti ini harus dikendalikan supaya semai Kaliandra dapat tumbuh dengan baik. Secara umum semua tumbuhan liar yang berada pada jarak

Ciri Morfologi dan Musim Buah Kaliandra – 02

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

4113

Ciri Morfologi

Kaliandra adalah pohon kecil bercabang yang tumbuh mencapai tinggi maksimum 12 m dan diameter batang maksimum 20 cm. Kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil, warnanya pucat berbentuk oval. Ke arah pucuk batang cenderung bergerigi, dan pada pohon yang batangnya coklat-kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah. Di bawah batang, sistem akarnya terdiri dari beberapa akar tunjang dengan akar yang lebih halus yang jumlahnya sangat banyak dan memanjang sampai ke luar permukaan tanah. Jika di dalam tanah terdapat rhizobia dan mikoriza, akan terbentuk asosiasi antara jamur dengan bintil-bintil akar.

Persemaian-4

Dalam populasi jenis tertentu pertumbuhan akar tumbuh menyerupai akar penghisap sehingga tanaman membentuk rumpun yang sebenarnya merupakan satu tanaman tunggal saja. Jenis ini memiliki daun-daun yang lunak yang terbagi menjadi daun-daun kecil. Panjang daun utama dapat mencapai 20 cm dan lebarnya mencapai 15 cm dan pada malam hari daun-daun ini melipat ke arah batang. Tangkai daun bergerigi dengan semacam tulang di bagian permukaan atasnya, tetapi tidak memiliki kelenjar-kelenjar pada tulang sekundernya. Bunganya bergerombol di sekitar ujung batang. Bunga menjadi matang dari pangkal ke ujung selama beberapa bulan. Bunga ini mekar selama satu malam saja dengan benang-benang mencolok yang umumnya berwarna putih di pangkalnya dan merah di ujungnya (walaupun kadang ada juga yang berwarna merah-jambu). Sehari kemudian benang-benang ini akan layu dan bunga yang tidak mengalami pembuahan akan gugur. Polong terbentuk selama dua sampai empat bulan dan ketika sudah masak, panjangnya dapat mencapai 14 cm dan lebarnya 2 cm. Polong berbentuk lurus dan berwarna agak coklat, dan berisi 8-12 bakal biji yang akan berkembang menjadi biji oval yang pipih.

Musim buah

Di Indonesia, Kalindra berbunga sepanjang tahun, tetapi produksi buahnya terbanyak pada musim kemarau ( antara Juni-September). Dari hasil pengamatan di Sri Lanka, ternyata musim bunga terbanyak berlangsung pada bulan April dan November. Secara umum, bunga mekar pada malam hari mulai jam 16.00-18.00 dan masa reseptif pollen antara jam 19.00-21.00 malam . Bunga mekar sekitar 16-19 jam. Bunga mekar hanya satu malam dan akan layu pada hari berikutnya. Setelah 3-4 bulan polongnya akan matang. Lamanya masa pembungaan adalah 4 bulan dan berlangsung sepanjang tahun.

IMG_0026

Mengenal Kaliandra Merah (Calliandra callothyrsus)- 01

IMG_9775-163425_200x200

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

1. Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan/King :Plantae
Divisi :Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :Mangnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)
Ordo :Fabales
Famili :Fabaceae (Suku polong-polongan)
Genus :Calliandra
Spesies :Calliandra calothyrsus

2. Nama Daerah

Di tempat asalnya, jenis ini memiliki beberapa nama umum, yang paling sering digunakan adalah “Cabello de Angel” (artinya rambut malaikat) dan “Barbe Sol” (artinya jenggot matahari). Di Indonesia jenis ini disebut Kaliandra Merah. Kaliandra putih adalah jenis yang berkerabat tetapi sekarang tidak lagi diklasifikasikan dalam Calliandra, tetapi spesiesnya adalah Zapoteca tetragona.

3. Penyebaran
Kaliandra merupakan jenis yang unik dalam marganya karena penggunaannya yang luas secara internasional sebagai pohon serbaguna untuk Wanatani. Jenis ini secara alami terdapat di Meksiko dan Amerika Tengah, dari negara bagian Colima, Meksiko, turun ke pesisir utara Panama bagian tengah. Pada tahun 1936 benih tanaman ini dikirimkan dari Guatemala Selatan ke Pulau Jawa. Benih ini kemungkinan besar dikumpulkan dari provenans “Santa Maria de Jesus” di Guatemala. Sampai tahun 1974, berbagai percobaan di tingkat desa telah dilakukan untuk menilai kesesuaiannya sebagai jenis tanaman penghijauan pada lahan-lahan yang tererosi di sekitar desa. Kaliandra terbukti sesuai untuk berbagai kegunaan sistem wanatani dan dipromosikan oleh instansi Kehutanan di Indonesia untuk penyebaran penanamannya. Dari Jawa jenis ini kemudian diperkenalkan ke berbagai pulau lainnya di Indonesia. Kepopuleran jenis ini lalu membangkitkan minat di tempat lain dan benihnya dikirimkan ke negara-negara lain di Afrika, Asia dan bahkan kembali ke Amerika Tengah. Sekarang jenis ini diyakini telah tersebar di seluruh kawasan tropis.

4. Persyaratan Tumbuh

Kaliandra tumbuh alami di sepanjang bantaran sungai, tetapi dengan cepat menempati areal yang lahannya terganggu. Jenis ini tidak tahan naungan dan cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Di Meksiko dan Amerika Tengah tanaman ini tumbuh di berbagai habitat sampai dengan ketinggian 1860 m dari permukaan laut. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000 dan 4000 mm per tahun, meskipun populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya hanya 800 mm. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan). Namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya mencapai 6 bulan. Jenis ini tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22° C. Di tempat tumbuh aslinya, jenis ini hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan terhadap tanah yang agak masam dengan pH sekitar 4,5. Jenis ini tidak tahan terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur. (Bersambung)