Dahlan Iskan: Kaliandra Setelah Tumpengan di Komisi VI

Dahlan-32741_200x200
Dahlan Iskan membuat geger di Kecamatan Geger Bangkalan setelah aksi blusukannya meninjau kebun energi kaliandra — bertemu dan berbincang dengan para Kyai/masyarakat– membaca proyek wood pellet bangkalan adalah model bagus yang menerapkan konsep pembangunan lahan kritis melalui penanaman kaliandra. Tidak cukup menanam kaliandra disana, tetapi juga menggarap industri hilir pembangunan pabrik wood pellet yang bahan bakunya kaliandra yang memiliki kalori tinggi untuk ahan bakar. Berikut ini petikan tulisan tentang Dahlan di Jawa Pos tanggal 29 September 2014 dan Detik.com.

Kalau bulan depan saya tidak jadi menteri lagi, saya akan memfokuskan diri pada satu jenis kerja sosial yang belum ditangani siapa pun: melistriki daerah-daerah terpencil, pulau-pulau terpencil, dan pedalaman-pedalaman terpencil. Tentu dengan kriteria khusus: daerah itu kira-kira 10 tahun lagi pun belum akan mendapat listrik.Untuk daerah-daerah yang belum berlistrik tapi diperkirakan akan segera dapat listrik, tidak kami masuki.

Kegiatan sosial ini saya sebut sosiopreneur. Sosiopreneur Demi Indonesia (SDI): sebuah kegiatan sosial yang dikelola secara entrepreneur. Meski kegiatan sosial tapi harus berlaba. Hanya saja labanya tidak boleh diambil. Harus untuk program serupa berikutnya. SDI tidak menangani, misalnya, membagi sembako atau menyelenggarakan khitanan masal. Sudah banyak lembaga sosial lain yang melakukan itu.

Persiapannya pun sudah matang. Sudah satu bulan ini SDI mendidik 30 anak muda untuk menjadi pimpinan di 30 pelosok yang belum berlistrik. Itulah 30 daerah yang kami pilih untuk tahap pertama. Mereka kami didik sampai bagaimana menanam bahan baku. Sistem listrik itu nanti memang biomass: menggunakan bahan bakar pohon Kaliandra Merah (Calliandra Calothyrsus).

Mengapa Kaliandra Merah?

Ada tujuh alasan sekaligus. 1) Kaliandra adalah tanaman energi. Kalau dibakar, mengandung energi 4.000 kalori. Sudah mirip batubara. 2). Mudah tumbuh, termasuk di daerah marjinal sekali pun. Tidak bisa tumbuh hanya di rawa-rawa. 3). Umur satu tahun sudah bisa ditebang. Rakyat bisa cepat dapat uang. 4) Setelah ditebang, tidak perlu tanam baru. Trubus sendiri. Tiap tahun bisa ditebang lagi. Tumbuh lagi. Terus menerus.
5) Akar Kaliandra yang berbintil-bintil mengandung nitrogen sehingga menyuburkan tanah. 6) Hutan Kaliandra tidak mudah terbakar karena daun yang gugur cepat sekali menyatu dengan tanah. 7) Bunga Kaliandra Merah, yang indah itu, sangat disenangi lebah. Rakyat bisa beternak lebah. Madu Kaliandra amat baik khasiatnya.

Bunga Kaliandra juga sering disebut rambut malaikat karena halusnya.

Untuk permulaan SDI-lah yang akan menanam. Tapi, kelak, rakyat setempat yang menanam untuk menambah penghasilan. Rakyat yang mengeluarkan uang untuk membayar listrik, akan mendapat uang dari penjualan bahan baku listrik.
Singkatnya: SDI menjual listrik ke rakyat. Rakyat menjual Kaliandra ke SDI. Beda dengan yang berlaku sekarang: rakyat membayar listrik, uangnya dipakai untuk membeli bahan baku dari negara lain atau dari perusahaan batubara. Perusahaan batubara mendapat batubara dari negara. Negara dapat kekuasaan dari rakyat.

Pertanyaan: Mengapa saya tidak membuat program Kaliandra saat jadi Dirut PLN atau saat menjabat Menteri BUMN?

Jawabnya agak memalukan: Saya baru tahu tentang pohon Kaliandra ini enam bulan lalu. Kian saya pelajari kian menarik. Tapi waktu juga kian mepet. Tinggal setengah bulan lagi menjabat Menteri BUMN, tentu tidak cukup untuk mengawal sendiri program itu sampai sukses. Kalau tidak dikawal, dan kalau ternyata gagal, bisa dikira konsepnya yang salah.

Bahkan baru bulan lalu saya berhasil bertemu ahli Kaliandra dari Institut Pertanian Bogor (IPB) seperti Dr Andi Sukendro. Beliau yang mengajak saya melihat tanaman Kaliandra milik Perhutani di Bandung Selatan minggu lalu. Dr Andi membenarkan semua keterangan tentang Kaliandra.

Di Bandung Selatan, Kaliandra hanya difungsikan untuk penghijauan lahan kritis yang terjal.

Telat mengetahui pohon asal Meksiko itu, tidak membuat saya menyerah. Belajar memang harus dilakukan terus meski sudah tua sekali pun. Kian saya dalami, kian menarik saja si Kaliandra ini. Saya tidak mungkin tidak tergoda olehnya. Karena itu action langsung saya siapkan. Jadi menteri atau tidak jadi menteri. Tidak ada pengaruhnya.
Izinkan saya melangkah dengan Kaliandra. Semoga, kelak, semua perizinan dari pemerintah bisa lancar. Kalau tidak, saya akan mengadu ke Komisi VI.

Sumber: Finance detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>