HULU-HILIR: MODEL BISNIS KEBUN ENERGI DAN WOOD PELLET

Penulis: Daru Asycarya (Pernah dimuat dalam majalah Rimba Indonesia)
Editor: Dr Wiratno

IMG_0237Mat Juri terlihat menenteng celurit setelah menebas beberapa tanaman kaliandra yang tumbuh di belakang rumahnya. Batang-batang kaliandra yang telah dipanen ini disiapkan untuk digiling menjadi wood pellet di pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang lokasinya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Ada sekitar 1 hektar lahan milik Mat Juri yang ditanami kaliandra dalam program penananaman Kebun Energi Kaliandra proyek ICCTF Kemenhut. Mat Juri tidak sendirian, karena ada sekitar 200 anggota kelompok tani Gerbang Lestari (dulu Gunung Mereh) aktif menanam di lahan-lahan milik di wilayah Kecamatan Geger, Bangkalan, Madura.

Sebetulnya mereka aktif menanam sudah sejak tahun 70 an, era dimulainya program penghijauan oleh pemerintah. Lahan-lahan gundul pada saat itu terbentang dimana-mana karena memang salah urus. Program penghijauan yang digagas oleh Haji Noeryanto bersama para ulama di Geger, disambut oleh Transtoto Handadari yang saat itu menjabat sebagai Kepala Balai RLKT di Kabupaten Bangkalan. Tantangan yang dihadapi pemerintah saat itu memang berat, stigma politik masyarakat terhadap partai kekuasaan sungguh kejam. Masyarakat Bangkalan pada era itu masih kental dengan partai politik tertentu yang menganggap bahwa semua bantuan dan barang-barang milik pemerintah dianggap haram, sehingga tanaman akasia, mahoni, dan buah-buahan bantuan pemerintah-pun disebut sebagai “pohon kafir”. Oleh karena itu peran ulama karismatik seperti ayahnya Abah Irham sangat besar untuk menstimulasi program penanaman melalui pendekatan akidah Islam. Masyarakat pun pada akhirnya tidak menolak lagi.

Perjalanan para petani dan kelompok tani di Kecamatan Geger Bangkalan ini dari tingkatan petani menuju pada level industrialisasi berbasis masyarakat, sangat menarik untuk dikaji. Bisa jadi ini merupakan lompatan budaya yang terlalu jauh sehingga ada kekhawatiran sebagian pihak bahwa mereka belum siap menghadapi dunia bisnis yang penuh tantangan. Forest Management Unit (FMU) Gerbang Lestari sebetulnya telah melampaui harapan banyak orang. Gapoktan ini telah berhasil mengantongi sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) pada tahun 2010. Sertifikat yang prestisius ini merupakan bukti bahwa petani bisa mengelola hutan rakyat secara lestari dengan memegang prinsip sustainability by the tripple bottom line: planet, people, profit. Di era Orde Baru, Gapoktan di wilayah ini juga memperoleh penghargaan “Kalpataru” pada tahun 1988 dari pemerintah atas upaya-upayanya menghijaukan lahan kritis dan mitigasi banjir. Kondisi hutan rakyat yang hijau yang banyak ditumbuhi dengan tanaman untuk kayu pertukangan, kelembagaan kelompok petani yang aktif, dan akses Madura yang semakin terbuka sejak Jembatan Suramadu dioperasionalkan, merupakan faktor yang mendorong pengembangan kelompok tani ini menuju tahap industrialisasi yang low carbon economy.

Pada tahun 2013, dana bantuan dari ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) mengalir ke Kementerian Kehutanan melalui sebuah proyek pengembangan kebun energi kaliandra dan pabrik wood pellet skala inkubator. Dr. Yetti Rusli sebagai penggagas awal bersama dengan IDEAS Consultant dan Ditjen BPDAS PS ikut memperjuangkan proyek yang “seksi” dimata banyak pihak donor dan penggiat perubahan iklim.3-serangkai-penjaga-hutan-geger-307129_200x200

Penerapan konsep hulu hilir

Proyek yang didanai oleh ICCTF ini menjalankan program utama yaitu: 1. Membangun kebun energi kaliandra merah dengan pola Short Rotation Coppice System (SRC) atau 3T yaitu Tanam, Tebang, Trubus; 2. Membangun industri pelet kayu berbasis masyarakat dalam skala inkubator, dan 3. Mengembangkan kapasitas dan edukasi ke berbagai pihak seperti masyarakat terutama petani dan kelompok tani, pemerintah lokal, pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan. Setelah dua tahun (21 bulan) proyek ini dijalankan, beberapa hasil utama yang bisa dikembangkan adalah: 214 hektar kebun kaliandra merah yang siap menyuplai bahan baku wood pellet dan karbon tersimpan dalam bentuk biomasa; satu unit bangunan pabrik seluas 200 m2 beserta mesin-mesin pengolah wood pellet dan sambungan listrik PLN 197 KW yang kini telah menghasilkan produk wood pellets; kelembagaan masyarakat yang sudah tertata untuk mengelola kebun energi dan industri wood pellet, proses penghitungan karbon tersimpan dan monev, training dan bimbingan teknis petani, serta pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasional proyek.

Pembangunan Kebun energi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan energi biomasa merupakan penerapan prinsip carbon neutral dan baru pertama kali diterapkan di Indonesia, tepatnya di Bangkalan, Madura. Kebun Energi kaliandra merah dibangun oleh masyarakat atau kelompok tani FMU Gerbang Lestari yang terdiri dari 10 kelompok tani sejak tahun 2013. Mereka mengembangkan persemaian kaliandra di perwakilan kelompok dan menanam kaliandra dan ditanam di kebun energi menggunakan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Panen kaliandra baru bisa dimulai pada bulan Mei 2014 atau tepatnya setelah tanaman kaliandra berumur 14 bulan. Panen ini menandai aktivitas pabrik CV gerbang Lestari telah dimulai. Berdasarkan pengolahan data penghitungan karbon di Kebun Energi, perkiraan penurunan emisi (Estimated Emission Reducation) pada areal kebun energi kaliandra FMU sebesar 69,69 ton CO2eq/ha/tahun (emisi kebun energi kaliandra) – 22,02 ton CO2eq/ha/tahun (emisi hutan rakyat FMU) = 47,67 ton CO2eq/ha/tahun.

Sampai dengan akhir proyek ini telah dihasilkan wood pellets oleh CV Gerbang Lestari dan telah tersimpan di Gudang produksi sebanyak 15 ton. Pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat berskala inkubator dibangun di atas tanah milik Haji Sahid salah satu anggota kelompok tani dengan luas sekitar 200 m2. Walaupun berada ditengah-tengah kampung, CV Gerbang Lestari telah mengantongi semua persyaratan legalitas pabrik seperti SIUP, TDP, HO, dan Akta Pendirian. Petani dan karyawan pabrik telah memperoleh pendidikan dan training manajemen pabrik dan pengolahan mesin-mesin pengolah wood pellet dan mereka mampun mengembangkan pengetahuan mesin dan produksi wood pellet berdasarkan ujicoba dan pengalaman empirik.

Proyek ini juga menjalankan aktivitas pengembangan kapasitas petani dan kelembagaan melalui program training, Focus Group Discussion (FGD), dan bimbingan teknis. Kegiatan training dan FGD ini meliputi pengembangan persemaian, penanaman, monev, dan pemeliharaan kebun energi kaliandra. Dalam konteks pengembangan model bisnis, aturan internal, policy, visi, misi, nilai-nilai, model produksi, model profit sharing, dan sebagainya mengkaitkan antara proses produksi wood pellet dengan kemampuan kebun energi kaliandra memasok bahan baku. Model bisnis ini menjadi modal utama pengelola pabrik CV gerbang Lestari menjalankan aktivitas bisnis yang bercorak kerakyatan.

Model bisnis yang inspiratif

Model Bisnis ini adalah contoh yang menarik yang bisa dikembangkan di tempat lain melalui scale up dan replikasi karena memberi dampak positif yang luas. Dari kebun energinya bisa meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan kayu energi, lebah madu, dan pendapatan ekonomi masyarakat. Sedangkan keberadaan pabrik wood pellet yang dikelola oleh masyarakat adalah sebagai salah satu contoh penciptaan industri hilir yang akan menyerap produksi kebun energi dan menghasilkan nilai tambah produk kayu energi dalam bentuk wood pellets. Upaya penggiat industri wood pellet dan kebun energi di Bangkalan sangat dihargai karena mendukung usaha pemerintah dalam program pro-job, pro-poor, pro-sustainability.
Salah satu hal penting yang perlu digarap adalah kesiapan masyarakat dan para petani terlibat dalam kegiatan ini, sehingga pemahaman terhadap prinsip-prinsip bisnis, pengelolaan pabrik yang efisien dan produktif, serta dukungan terus menerus dari masyarakat merupakan keniscayaan. Tatakelola pabrik wood pellet harus menyepakati aturan-aturan tertentu terkait dengan SOP pengolahan wood pellet, kolaborasi dengan para petani untuk memastikan pasokan kayu energi yang kontinyu, serta model2 profit sharing.

Model bisnis hulu hilir ini juga pro lingkungan dan salah satu konsep yang diterima dalam mitigasi perubahan iklim. Kebun energi kaliandra yang terintegrasi dengan industri pengolahan energi biomasa merupakan penerapan konsep carbon neutral. Konsep ini juga telah diterima oleh masyarakat ilmiah. Secara teoritis, CO2 yang terserap di dalam tanaman melalui proses fotosintesis akan menjadi karbon padat, dan dilepaskan kembali ketika dibakar sehingga hasilnya adalah kenaikan nol tingkat emisi karbondioksida (CO2) dalam atmosfir. Selain itu, ketika bahan
bakar berbasis biomasa seperti wood pellet dibakar, maka bersamaan dengan proses itu kita bisa mengerem laju pembakaran bahan bakar berbasis fosil seperti batu bara atau minyak bumi ke udara setara dengan jumlah wood pellet yang dibakar tersebut. Dengan demikian, wood pellets berfungsi sebagai barang substitusi terhadap bahan bakar fosil yang mengeluarkan emisi tinggi. Tidak hanya membangun pabrik wood pellet, proyek ini dirancang untuk menyediakan bahan baku secara lestari melalui penanaman kaliandra (calliandra callothyrsus) di lahan tidak produktif atau lahan kosong milik masyarakat yang kita sebut sebagai kebun energi (Biomass Energy Estate).
Kebun energi yang dibangun akan meningkatkan kualitas ekosistem dan memperbaiki struktur tanah dan tata air. Petani yang menanam kaliandra akan memperoleh insentif ekonomi melalui penjualan bahan baku kaliandra, pemanfaatan daun kaliandra sebagai makanan ternak, dan kemungkinan mengembangkan usaha perlebahan dan madu sebagai usaha tambahan, dimana akan berlangsung terus-menerus selama 15-20 tahun selama terubusan kaliandra tumbuh.

Carbon Neutral

Wood Pellet dan Pengembangan pabrik Gerbang Lestari

Pertumbuhan wood pellet telah melampaui harapan banyak orang, dan sedang dalam perjalanan untuk menuju menjadi salah satu bahan bakar hijau dapat masa kini dan masa depan. Pellet diproduksi dalam bentuk compressed saw dust dari hasil kayu-kayu bekas (residu), terutama dari limbah produksi kayu. Di bawah temperatur tertentu, serbuk kayu dipadatkan untuk dibentuk pellet. Pellet memiliki ukuran seragam, dengan profil fisik yang solid membuat sangat ideal sebagai sumber bahan bakar. Sebagian besar produksi wood pellet digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk pembangkit listrik, pemanasan rumah tangga (dimusim dingin), serta keperluan masak didapur. Hal ini untuk mengimbangi ketergantungan kita pada bahan bakar fossil seperti minyak bumi, gas dan batubara, disamping untuk mengurangi tingginya polusi udara dimana emisi gas buang karbon dapat mempengaruhi naiknya pemanasan global.
Wood pellet merupakan bahan bakar “hijau” terbarukan padat, dalam arti mereka merupakan sumber energi yang bersifat karbon netral. Oleh karena itu hasil pembakaran wood pellet juga dapat membantu mengatasi perubahan iklim.

Penanganannya dalam proses pembakaran lebih mudah dan bersih dengan kadar abu yang sangat sedikit, sehingga sangat menarik untuk digunakan. Bentuknya standar silinder dengan diameter 6 hingga 8 milimeter dan panjang tidak lebih dari 38 milimeter. Wood pellet juga dapat diproduksi dalam bentuk “briket”. Wood pellet pada dasarnya solid dan konsisten keras. Dengan kadar air sangat rendah (kelembaban antara 7-10%), mengandung komponen energi yang lebih tinggi yang mungkin dibandingkan dengan batubara kalori tinggi. Hal ini hanya akan berarti bahwa konten kelembaban rendah sangat menghemat banyak energi yang dibutuhkan untuk suatu pembakar. Kelembaban rendah dan kepadatan tinggi, memungkinkan wood pellet secara otomatis sangat efektif sebagai bahan bakar yang mudah dibakar. Wood pellet menghasilkan output panas yang sangat tinggi dengan kadar panasnya bisa mencapai 5.000 kilo kalori setara dengan batubara muda dan tergantung pada jenis biomasanya.

Pengembangan pabrik wood pellet dirancang memiliki kapasitas 1 ton per jam yang disebut sebagai inkubator industri wood pellet. Dengan kapasitas terpasang pabrik 1 ton per jam dengan jam kerja 8 jam sehari akan dibutuhkan sekitar 12 ton bahan baku wood pellets setiap harinya. Jika ingin melakukan peningkatan kapasitas produksi, penggunaan limbah kayu dari jenis lain seperti ranting-ranting jati, akasia, lamtoro, gliriside, dan serbuk gergaji bisa menjadi alternatif tanpa melakukan tekanan hutan yang ada. Ini adalah laboratorium alam yang sangat menarik, sehingga istilah inkubator mengacu pada proses pembelajaran buat proyek dan buat masyarakat. Pabrik wood pellet ini harus beroperasi setiap harinya untuk menopang kegiatan ekonomi kelompok tani gerbang lestari di Geger Bangkalan. Untuk manajemen pabrik diperkerjakan masyarakat lokal yang berpotensi baik, termasuk tehnisi mesin-mesin yang berpengalaman. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan siklus: Input-Proses-dan Output produksi wood pellet.

Gambar di atas menunjukan proses perubahan raw material menjadi wood pellet melalui proses pengolahan mesin wood pellet. Mengapa pengembangan pabrik wood pellet di Bangkalan menggunakan bahan baku dari tanaman kaliandra yang ditanam oleh masyarakat atau petani hutan? Beberapa pertimbangan penting yaitu:
a. Kebun energi biomasa (biomass energy estate) tanaman kaliandra didisain untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara terus-menerus melalui sistem pemanenan lestari (sistem SRC) dengan pengaturan hasil berdasarkan luasan tertentu dan volume tertentu.
b. Jenis tanaman kaliandra memiliki nilai kalor yang tinggi, pertumbuhan cepat, mudah ditanam, mampu menyuburkan tanah melalui fiksasi nitrogen, bersifat multi purposes karena daunnya bisa dimanfaatkan utuk makanan ternak dan bunganya bisa dikembangkan untuk usaha bisnis madu dengan usaha perlebahan.
c. Mendukung program mitigasi perubahan iklim melalui konsep carbon neutral dan substitusi bahan bakar fosil seperti batubara
d. Meningkatkan kualitas lingkungan melalui konservasi tanah dan air

Analisis Ekonomi Sederhana
Berdasarkan analisis, BEP dicapai pada harga Rp 1000/kg atau 165 ton per bulannya

Analisis Ekonomi

Penutup

Kehadiran pabrik baru ini diharapkan bisa melahirkan berbagai unit usaha kecil yang berkembang atas inisiatif masyarakat sendiri sehingga tercipta sebuah trickle down effect. Artinya bahwa suatu bisnis besar yang berpengaruh dalam suatu wilayah akan memberi pengaruh yang menguntungkan bagi bisnis-bisnis lain dan konsumen-konsumen lainnya. Bisnis wood pellet dan kebun energi oleh masyarakat diharapkan bisa melahirkan usaha perlebahan dan madu yang berkembang karena ada bunga-bungan dari kebun energi kaliandra, penjualan sekam padi dan serbuk gergajian karena ada kebutuhan bahan bakar dryer bahan baku wood pellet, usaha angkutan bahan baku, usaha pembuatan kompor biomasa wood pellet yang diperjual belikan di tingkat lokal, serta kemungkinan tumbuhnya usaha wisata pendidikan: lingkungan, wirausaha, dan industri berbasis masyarakat. Kebun enrgi ini juga mendorong perbaikan lingkungan yang masif menjadi gerakan penghijauan massal.

Tuhan telah menjabarkan dengan gamblang pelajaran-pelajaran yang dilakukan di Bangkalan ini melalui Firman Nya: “Dan suatu tanda ( kekuasaan Alloh yg besar ) bagi mereka adalah bumi yg mati, kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.( QS. Yaasin : 33 )” serta di ayat lain “Dan kami jadikan padanya kebun – kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air. ( QS. Yaasin : 34 )”. Lalu, apa yang sudah kita perbuat?

Ucapan Terima kasih.

Sukses dan keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kebun energi kaliandra dan industri wood pellet skala inkubator di Geger, Bangkalan sampai saat ini merupakan hasil dukungan dan jerih payah banyak pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangkalan, Dr Yetti Rusli sebagai penggagas dan pendorong terwujudnya keberhasilan proyek ini, Prof. Yanto Santosa dan ICCTF yang menjadi pendukung dalam pendanaan dan bimbingan teknis, para Kyai dan alim ulama di Bangkalan, Dinas Kehutanan Propinsi Jatim dan Dishutbun Kabupaten Bangkalan, Kepala BPDAS Brantas Jatim, Trio Penggerak Green Madura Geger: KH Irham Rofii, H. Ghozali Anshori, dan H. Noeryanto, Petani dan kelompok Tani, Staff BPDAS PS Kementerian Kehutanan, Staff Project Management Unit di Bogor, serta semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kami berharap bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat dan kelompok tani Gerbang Lestari beserta masyarakat pesantren Darrul Ittihaad Kecamatan Geger, Bangkalan mendapat apresiasi yang besar dari KLHK karena upaya-upaya mereka adalah upaya tanpa pamrih untuk melestarikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Aktor kunci keberhasilan di lapangan:
– KH Irham Rofii, Pimpinan Ponpes Darrul Ittihaad, Desa Campor, Geger, Bangkalan No. HP. 081330597107
– H. Noeryanto, Mantan penyuluh Dinas Kehutanan, Penggerak Kelompok Tani dan tokoh penghijauan di Kecamatan Geger, No. HP. 081332217002
– H. Ghozali Anshori, Ketua Gapoktan Gerbang Lestari, No. HP. 081330553870

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>