Dari Tanpa Sehelai Daunpun sampai ke Desa Mandiri Energi

Oleh: Daru Asycarya

Bumi Indonesia kaya akan sumberdaya alam, yaitu tanah, air, hutan, tambang, biodiversity, laut serta apa yang terkandung di dalamnya. Di daratan, salah satu kekayaan kita adalah biomassa yang berasal dari proses fotosintesis tanaman, penyerapan CO2 dan pembentukan karbon padat dalam bentuk hemicellulose, cellulose, dan lignin. Selama ini pemanfaatan biomassa ini sangat minim, kecuali untuk pembuatan wood-based products secara komersial seperti kayu pertukangan, kayu lapis, papan partikel dan ratusan jenis produk berbasis kayu. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah pembuangan sampah biomassa besar-besaran dari sisa pengolahan kayu, sisa penebangan hutan berupa ranting dan cabang pohon yang teronggok di hutan sampai lapuk tanpa memberi manfaat ekonomi. Pola hidup yang bergantung pada alam sudah selayaknya diubah. Kebutuhan energi juga sudah harus digantikan dari bahan bakar fosil menjadi renewable energy seperti penggunaan biomassa untuk sumberdaya listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. Energi terbarukan yang dikombinasikan dengan ekonomi kreatif memunculkan aktifitas ekonomi rendah karbon yang menjadi sebuah siklus energi. Desa Mandiri energi bisa diciptakan dengan mudah, asal ada kemauan dari pemerintah dan kita semua. Konsep sederhana pemanfaatan siklus energi bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:

Konsep integrasi tanaman energi-listrik-dan biogas

Sumberbahan baku listrik yang dirancang dengan model gasifikasi biomassa harus berasal dari kebun energi yang dijamin kelestariannya melalui sistem rotasi. Short rotation coppice system merupakan pilihan terbaik dengan menggunakan tanaman cepat tumbuh, daur pendek, terubusan, dan memiliki nilai kalori tinggi, ditanam pada lahan-lahan kosong yang tidak produktif. Karena yang dipakai untuk listrik hanya kayunya, maka daun-daun tanaman energi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Daun kaliandra dan gamal memiliki kandungan protein yang sangat baik buat ternak. Kotoran sapi bisa kita manfaatkan untuk bahan bakar biogas yang bisa dialirkan ke rumah-rumah masyarakat. Listrik desa dari gasifikasi ini akan menjadi mini power plant yang mengkombinasikan budaya komersial dan sosial. Ingat sistem barter yang digunakan sebelum ada uang sebagai alat tukar? Sistem ini bisa diterapkan pada bisnis listrik desa, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu membayar dengan uang, namun mereka punya stok biomassa yang cukup ditukar dengan listrik. Jual kayu dapat cahaya, membeli cahaya hanya dengan 1 kilo kayu, ini belum banyak difikirkan orang. Jika ada listrik, masyarakat semakin bergirah, ada geliat baru untuk menciptakan peluang ekonomi rendah karbon, tanpa minyak bumi, tanpa batubara. Masyarakatpun bisa menikmati manisnya madu, madu kaliandra…cap Gerbang Lestari Bangkalan, Cap Rumpun Hijau Lombok Timur..dan cap SCF Mamuju, Sulsel. Mantap…

4 thoughts on “Dari Tanpa Sehelai Daunpun sampai ke Desa Mandiri Energi

  • February 17, 2016 at 3:54 pm
    Permalink

    saya ingin konsultasi tentang pembuatan proposal perubahan iklim

    Reply
    • March 1, 2016 at 11:32 am
      Permalink

      Dear Pak Maulidin, silakan Pak.
      Salam,
      Daru

      Reply
  • May 23, 2016 at 3:17 pm
    Permalink

    Saya tertarik untuk turut mengembangkan desa melalui program ini, apakah kami bisa mendapatkan bimbingan? Siapa yang harus kami hubungi untuk hal ini?

    Terima kasih,
    Goro Suwoko

    Reply
    • June 28, 2016 at 3:49 pm
      Permalink

      Dear Pak Goro,
      Kami dari IDEAS bisa mendiskusikan ini, bisa hubungi Daru 081311132706 atau email daru@ideas-consultant.com.
      terimakasih,
      Salam,

      Reply

Leave a Reply to Daru Asycarya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>