Keunggulan Kaliandra Merah (5)

Keunggulan Kaliandra Merah

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru asycarya

Alasan yg dipakai untuk menanam Kaliandra merah karena mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut :
a. Mempunyai pertumbuhan yang cepat, sehingga mudah dan cepat untuk diproduksi sebagai penghasil bahan baku chip.
b. Toleran pada tanah yang masam (pH rendah) dimana jenis tanaman lainnya menunjukkan performa yang buruk pada kondisi lahan tersebut sehingga jenis ini dapat tumbuh pada areal yang luas dan kondisinya beragam.
c. Tanaman Kaliandra merupakan tanaman pengikat nitrogen dan mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah karena tanaman ini mampu bersimbiose dengan bakteri Rhizobium untuk pengikat unsur N dari udara yng kemudian disimpan dalam bintil-bintil akar sehingga digunakan bawah pada perkebunan kelapa, kopi dan tehm serta tanaman inang pada tanaman hutan.
d. Memiliki kemamapuan bertunas kembali setelah berkali-kali dilakukan pemangkasan, sehingga tanaman ini sering digunakan untuk pakan ternak.
e. Banyak digunakan sebagai kayu bakar oleh petani karena kayunya mudah dikeringkan serta cukup baik untuk dibuat arang kayu. Dalam 1 Ha tanaman kaliandara dapat menghasilkan 15-40 ton kayu dan masa produksinya selama 10-20 tahun.
f. Digunakan untuk merehabilitasi lahan alang-alang.
g. Pohonnya sering digunakan untuk kutu lak, melakukan sekresi guna menghasilkan lak (bahan untuk pembuatan vernis).
h. Dapat digunakan untuk memproduksi Chip yang digunakan bahan bakar industry.
i. Meningkatkan penyerapan air permukaan kedalam tanah karena perakarannya yang dalam dapat menahan air permukaan sehingga banyak menyerap air ke dalam tanah.
j. Penahan erosi, karena memiliki perakaran yang relative dalam sehingga dapat tumbuh dengan kokoh.

Karakteristik Pemanfaatan

Kayu Bakar/Arang (bioenergi konvensional)
Luas tanaman Kaliandra di Pulau Jawa dapat mencapai lebih dari 30,000 ha. Kayu dari tanaman kaliandra teksturnya cukup padat, mudah kering dan sifatnya mudah terbakar, sehingga kayu kaliandra sangat ideal untuk dijadikan kayu bakar atau kayu arang. Kayu Kaliandra memiliki berat jenis antara 0.5 – 0.8, dan dapat menghasilkan panas sebesar 4600 kcal/kg, sedangkan untuk kayu arang menghasilkan panas sebesar 7200 kcal/kg (Roshetko, J.M 2001). Untuk produksi kayu bakar penanaman kaliandra umumnya ditanam secara rapat dengan ukuran 1×1 m atau 1×2 m.

Pemangkasan pada tanaman kaliandra akan membentuk tunas baru dengan cepat dan merangsang pertumbuhan cabang-cabang lebih banyak dibanding tanaman jenis leguminosae lainnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa pada umur 1 tahun tanaman kaliandra dapat menghasilkan kayu bakar sebanyak 5-20 m3/ha/tahun, dan yang sudah berumur 20 tahun dapat menghasilkan kayu bakar sebanyak 30-65 m3/ha/tahun (Roshetko, J.M. 2001). Produksi kayu Kaliandra umur 1 tahun (5-20 m3/ha/tahun), setara dengan Biomass sebesar 4.35-17.42 ton/ha/tahun [produksi kayu (m3) x wood density (0.67) x Biomass Efficient Factor (1.3)]. Masih terkait dengan produksi kayu Kaliandra, data lain menunjukkan bahwa pada tahun pertama, dihasilkan kayu bakar sebesar 100 sm (staple meter) per ha (Vademekum Kehutanan 1976). Staple meter dapat diartikan sebagai tumpukan kayu, dengan ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 1 m. Dengan nilai konversi 1 sm = 0.7 m3, maka 100 sm setara dengan 70 m3, atau setara dengan 70 m3 x 0.67 x 1.3 ton/ha atau sebesar 60.97 ton/ha. Data ini jauh lebih besar dibandingkan dengan data Roshetko, JM (2001). Sementara itu, Ndayambaje J.D (2005) menyatakan bahwa produksi biomassa tanaman Kaliandra dengan pola Agroforestry di Rwanda, Afrika pada tahun pertama dapat mencapai 15-40 ton/ha.

Angka ini diperoleh dengan intensitas pengelolaan yang cukup baik. Mengacu kepada data produksi kayu Kaliandra di atas, maka menurut saya, produksi sebesar 4-17 ton/ha termasuk rendah dengan intensitas pengelolaan tergolong rendah (poor management), sedangkan produksi sebesar 60.97 ton/ha cenderung over-estimate. Berpedoman kepada produksi kayu energy secara umum dengan intensitas pengelolaan baik (good management) yaitu sebesar 20-30 ton/ha, maka tanaman Kaliandra di Bangkalan harus dikelola secara baik untuk mencapai angka tersebut. Produktivitas sangat tergantung pada kondisi tempat tumbuh dan pengelolaannya.

Kayu bakar dari tanaman kaliandra di Indonesia banyak digunakan masyarakat pedesaan untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil seperti produksi gula merah, karet, minyak kelapa, bata merah, dan batu bata.

Kaliandra dan Tumpangsari (4)

Oleh: Prijanto Pamoengkas & Daru Asycarya

Sistem tumpang sari/Wanatani

DSCN0039Petani di Sulawesi telah menanam Kaliandra sebagai tanaman peneduh di perkebunan kopi, demikian juga di Guatemala dan Costa Rica. Setelah kopi tua di Guatemala dan Costa Rica, Kaliandra diganti dengan pohon peneduh yang lebih besar, seperti Inga, Gliricidia (Gamal), dan Erythrina (Dadap). Di Sri Lanka, para petani sudah menunjukkan minat mereka untuk menggunakan Kaliandra sebagai pohon pelindung berukuran sedang di perkebunan teh. Di Jawa Barat, petani menanam Kaliandra sebagai pohon peneduh semai di hutan tanaman kayu bernilai tinggi, seperti Agathis loranthifolia (Damar) dan Tectona (Jati), Swietenia (Mahoni), dan Pinus. Kaliandra ditanam rapat di sepanjang garis kontur di antara barisan jenis tanaman kayu utama. Barisan tanaman pohon peneduh biasanya berjarak 2,5-3 m dari pohon penghasil kayu, bergantung pada kemiringan lahan. Kaliandra dipangkas secara berkala, dan hasil pangkasan dikembalikan ke tanah sebagai pupuk hijau dan mulsa. Pohon peneduh menghambat pertumbuhan gulma, mencegah erosi tanah, dan meningkatkan kesuburan tanah.

Kaliandra juga berpotensi tinggi untuk tumpang sari dengan tanaman pangan seperti jagung, padi atau kacang tanah. Hasil awal dari percobaan tumpang sari barisan menunjukkan bahwa pohon ini sebaiknya ditanam dengan jarak tanam 2,5 m dalam barisan dan dipangkas setinggi 50 cm. Biomassa hasil patumpangsaringkasan kemudian dikembalikan ke tanah sebelum penanaman tanaman pangan. Barisan Kaliandra mungkin juga perlu dipangkas sekali atau dua kali lebih banyak selama musim tanam, untuk mengurangi persaingan mendapatkan cahaya dan kelembaban tanah.

Petani di Indonesia juga melakukan tumpang sari antara Kaliandra dan jenis tumbuhan perdu lainnya bersama dengan tanaman pangan di lereng bukit (tingkat kemiringan kurang dari 45 persen) dalam barisan mengikuti garis kontur yang berjarak 1,5 m sampai 2 m. Barisan tanaman dipangkas untuk dijadikan mulsa selama musim kemarau dan pupuk hijau selama musim hujan. (DA-28/11-15)

Teknik Silvikultur Kaliandra – 03

Oleh : Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

Persemaian-1

Persemaian/Pembuatan Bibit

Pengadaan Bibit
Pengadaan bibit dapat berasal dari biji atau pembiakan vegetatif melalui stump dan tunas/coppice system.

Pengadaan benih

1. Pengumpulan benih
Buah berbentuk polong. Buah (polong) masak berwarna coklat. Jumlah benih dapat mencapai 14.000-19.000 setiap kg.

2. Ekstraksi benih
Buah (polong) yang masak setelah dijemur di bawah sinar matahari selama 1-2 hari akan membuka dan menampakkan benih di dalamnya. Benih terlihat mengkilap, hitam, berbentuk seperti tetesan air mata seperti benih Leucaena tetapi agak sedikit lebih besar.

3. Penyimpanan benih
Penyimpanan benih di dalam refrigerator pada suhu 4° C dapat mempertahankan viabilitasnya setelah 2,5 tahun. Akan tetapi bila benih Kaliandra disimpan dalam kantong katun pada suhu ruang maka vaibilitasnya akan turun dari 75% menjadi 60% dalam 1 tahun. Namun penyimpanan benih Kaliandra untuk periode yang lama tidak selalu diperlukan karena Kaliandra berbuah secara terus menerus sepanjang tahun.

4. Perkecambahan benih
Benih ditaburkan tanpa menggunakan perlakukan pendahuluan. Tetapi benih akan berkecambah dengan cepat bila benih direndam air panas 1 menit kemudian direndam air dingin selama 24 jam.

benih kaliandra

Pembiakan vegetatif

1. Stump/Stek
Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan stump yang diambil dari pohon yang tingginya kira-kira 1 meter dengan memotong batangnya sampai ketinggian 30 cm dan akarnya sampai 20 cm. Stump dapat pula dibuat dengan ukuran panjang batang 30-50 cm dan panjang bagian akar 25 cm.

2. Coppice system/sistem trubusan
Perbanyakan tanaman Kaliandra dengan cara vegetatif dapat dilakukan dari semai muda yang sukulen atau tunas akar, cara perbanyakan vegetatif ini tidak banyak dilakukan di Indonesia. Perbanyakan secara vegetatif dari tunas muda atau akar perlu media tanam yang baik, yaitu campuran pasir dan serbuk gergaji dalam keadaan basah dan kelembabannya harus dipertahankan 80%. Pengambilan batang dari tunas muda atau akar sepanjang 5-7 cm, yang masing-masing memiliki 2-3 helai daun kemudian tanaman ditanam pada poly-propagator dengan jarak 5×5 cm. Potongan-potongan tersebut sebaiknya ditanam pada pagi hari, dan segera dipindahkan ketempat perbanyakan, karena batang yang sukulen sangat rentan terhadap kekeringan, oleh karena itu perlu penyiraman 2-3 hari sekali.

Persemaian

Setelah bibit berumur 4-6 bulan (diameter leher akar ± 1 cm ), atau dengan tinggi rata-rata 20-50 cm dan diameter leher akar 0,5 – 1 cm maka bibit siap ditanam di lapangan.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan cara semai langsung biji yang telah diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm atau dari bibit yang telah mencapai tinggi 20-50 cm yang telah ditumbuhkan pada tempat pembibitan. Bibit dapat ditanam berbaris dengan jarak tanam 3-4m, atau pada penggunaan sebagai sumber pakan ditanam dengan jarak 0,5-1 m secara menyebar. Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah baru ditanami. Pertumbuhan awal lambat tetapi pertumbuhan selanjutnya sangat cepat dan pohon dapat mencapai tinggi 3,5 m dalam 6 bulan. Tidak dapat tumbuh baik bila dipotong.

Semai dipindahkan ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan dua sampai empat minggu sebelumnya. Buat lubang dengan lebar sedikitnya 30 cm dan kedalaman 30 cm, gemburkan tanah, dan kemudian kembalikan ke dalam lubang. Sebelum menanam, sobeklah satu sisi kantung plastik dan pindahkan semai dengan hati-hati tanpa mengganggu gumpalan tanah pada akarnya. Jika akar mengelilingi gumpalan tanah potonglah di kedua sisi menggunakan pisau yang bersih dan tajam. Dengan demikian akarnya tidak tumbuh menggumpal setelah dipindahkan. Letakkan setiap semai di tengah lubang tanam. Bagian atas gumpalan tanahnya harus sama tinggi dengan permukaan tanah. Padatkan tanah yang longgar di sekitar semai dengan hatihati sehingga semai berdiri tegak. Jika penguapan air tanah merupakan masalah, tutuplah permukaan tanah di sekitar semai dengan mulsa. Pastikan bahwa mulsa ini tidak mengandung biji gulma.

Persemaian-2

Pemeliharaan

Semua tanaman muda Kaliandra menunjukkan pertumbuhan yang lambat pada awalnya, apa pun cara tanam yang diterapkan. Selama periode ini, tanaman sangat rentan terhadap persaingan dengan tumbuhan lain untuk mendapatkan sinar matahari, kelembaban dan hara tanah. Jenis rumput yang cepat tumbuh seperti Bothriochloa petusa (rumput perak), Bracharia mutica, dan Panicum maximum, memiliki perakaran yang sangat padat di permukaan tanah dan merupakan pesaing kuat bagi semai yang masih muda. Persaingan seperti ini harus dikendalikan supaya semai Kaliandra dapat tumbuh dengan baik. Secara umum semua tumbuhan liar yang berada pada jarak

Ciri Morfologi dan Musim Buah Kaliandra – 02

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

4113

Ciri Morfologi

Kaliandra adalah pohon kecil bercabang yang tumbuh mencapai tinggi maksimum 12 m dan diameter batang maksimum 20 cm. Kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil, warnanya pucat berbentuk oval. Ke arah pucuk batang cenderung bergerigi, dan pada pohon yang batangnya coklat-kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah. Di bawah batang, sistem akarnya terdiri dari beberapa akar tunjang dengan akar yang lebih halus yang jumlahnya sangat banyak dan memanjang sampai ke luar permukaan tanah. Jika di dalam tanah terdapat rhizobia dan mikoriza, akan terbentuk asosiasi antara jamur dengan bintil-bintil akar.

Persemaian-4

Dalam populasi jenis tertentu pertumbuhan akar tumbuh menyerupai akar penghisap sehingga tanaman membentuk rumpun yang sebenarnya merupakan satu tanaman tunggal saja. Jenis ini memiliki daun-daun yang lunak yang terbagi menjadi daun-daun kecil. Panjang daun utama dapat mencapai 20 cm dan lebarnya mencapai 15 cm dan pada malam hari daun-daun ini melipat ke arah batang. Tangkai daun bergerigi dengan semacam tulang di bagian permukaan atasnya, tetapi tidak memiliki kelenjar-kelenjar pada tulang sekundernya. Bunganya bergerombol di sekitar ujung batang. Bunga menjadi matang dari pangkal ke ujung selama beberapa bulan. Bunga ini mekar selama satu malam saja dengan benang-benang mencolok yang umumnya berwarna putih di pangkalnya dan merah di ujungnya (walaupun kadang ada juga yang berwarna merah-jambu). Sehari kemudian benang-benang ini akan layu dan bunga yang tidak mengalami pembuahan akan gugur. Polong terbentuk selama dua sampai empat bulan dan ketika sudah masak, panjangnya dapat mencapai 14 cm dan lebarnya 2 cm. Polong berbentuk lurus dan berwarna agak coklat, dan berisi 8-12 bakal biji yang akan berkembang menjadi biji oval yang pipih.

Musim buah

Di Indonesia, Kalindra berbunga sepanjang tahun, tetapi produksi buahnya terbanyak pada musim kemarau ( antara Juni-September). Dari hasil pengamatan di Sri Lanka, ternyata musim bunga terbanyak berlangsung pada bulan April dan November. Secara umum, bunga mekar pada malam hari mulai jam 16.00-18.00 dan masa reseptif pollen antara jam 19.00-21.00 malam . Bunga mekar sekitar 16-19 jam. Bunga mekar hanya satu malam dan akan layu pada hari berikutnya. Setelah 3-4 bulan polongnya akan matang. Lamanya masa pembungaan adalah 4 bulan dan berlangsung sepanjang tahun.

IMG_0026

Mengenal Kaliandra Merah (Calliandra callothyrsus)- 01

IMG_9775-163425_200x200

Oleh: Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

1. Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan/King :Plantae
Divisi :Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :Mangnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)
Ordo :Fabales
Famili :Fabaceae (Suku polong-polongan)
Genus :Calliandra
Spesies :Calliandra calothyrsus

2. Nama Daerah

Di tempat asalnya, jenis ini memiliki beberapa nama umum, yang paling sering digunakan adalah “Cabello de Angel” (artinya rambut malaikat) dan “Barbe Sol” (artinya jenggot matahari). Di Indonesia jenis ini disebut Kaliandra Merah. Kaliandra putih adalah jenis yang berkerabat tetapi sekarang tidak lagi diklasifikasikan dalam Calliandra, tetapi spesiesnya adalah Zapoteca tetragona.

3. Penyebaran
Kaliandra merupakan jenis yang unik dalam marganya karena penggunaannya yang luas secara internasional sebagai pohon serbaguna untuk Wanatani. Jenis ini secara alami terdapat di Meksiko dan Amerika Tengah, dari negara bagian Colima, Meksiko, turun ke pesisir utara Panama bagian tengah. Pada tahun 1936 benih tanaman ini dikirimkan dari Guatemala Selatan ke Pulau Jawa. Benih ini kemungkinan besar dikumpulkan dari provenans “Santa Maria de Jesus” di Guatemala. Sampai tahun 1974, berbagai percobaan di tingkat desa telah dilakukan untuk menilai kesesuaiannya sebagai jenis tanaman penghijauan pada lahan-lahan yang tererosi di sekitar desa. Kaliandra terbukti sesuai untuk berbagai kegunaan sistem wanatani dan dipromosikan oleh instansi Kehutanan di Indonesia untuk penyebaran penanamannya. Dari Jawa jenis ini kemudian diperkenalkan ke berbagai pulau lainnya di Indonesia. Kepopuleran jenis ini lalu membangkitkan minat di tempat lain dan benihnya dikirimkan ke negara-negara lain di Afrika, Asia dan bahkan kembali ke Amerika Tengah. Sekarang jenis ini diyakini telah tersebar di seluruh kawasan tropis.

4. Persyaratan Tumbuh

Kaliandra tumbuh alami di sepanjang bantaran sungai, tetapi dengan cepat menempati areal yang lahannya terganggu. Jenis ini tidak tahan naungan dan cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Di Meksiko dan Amerika Tengah tanaman ini tumbuh di berbagai habitat sampai dengan ketinggian 1860 m dari permukaan laut. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000 dan 4000 mm per tahun, meskipun populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya hanya 800 mm. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan). Namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya mencapai 6 bulan. Jenis ini tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22° C. Di tempat tumbuh aslinya, jenis ini hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan terhadap tanah yang agak masam dengan pH sekitar 4,5. Jenis ini tidak tahan terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur. (Bersambung)

MOU Antara PONPES DARUL ITTIHAD, PT. EMI, Dan IDEAS Diteken

bersalaman
Hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015, bertempat di kantor PT Energy Management Indonesia (Persero) atau PT EMI telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama/ Nota Kesepahaman atau MoU antara Pondok Pesantren Darul Ittihad, PT EMI dan IDEAS Consultancy Services. Pihak Ponpes diwakili oleh Ketua Ponpes Darul Ittihad KH Irham Rofii didampingi oleh Aris Yunanto sebagai Dirut PT EMI, dan juga Daru Asycarya sebagai Dirut IDEAS. Penandatanganan MoU tersebut berlangsung sangat khidmat didahului dengan doa bersama yang dipimpin oleh Abah Irham sebagai pemuka agama di Geger Bangkalan sekaligus sebagai penanggung jawab pabrik wood pellets CV Gerbang Lestari. Siapa yang tak kenal Abah, panggilan akrab KH Irham Rofii? Abah mengatakan bahwa MoU ini sangat penting artinya untuk menghidupkan kembali pabrik yang hampir kehilangan napas,” katanya. Kami sebagai pemuka agama dan tokoh masyarakat di Bangkalan harus bisa mewujudkan gagasan dan praktek terbaik di daerah kami agar kepercayaan masyarakat tumbuh,” imbuhnya.
MoU ini memang sebagai bentuk komitmen bersama dari tiga pihak yaitu Ponpes Darrul Ittihad, PT EMI, dan IDEAS.

Penandatanagan Mou
Ponpes sebagai penerima hibah aset dari Kemenhut dan ICCTF akan mengkoordinir semua proses produksi dimulai dari jaminan penyediaan bahan baku kaliandra dan gliriside serta keterlibatan petani/ kelompok tani dalam memutar roda produksi. Ponpes juga lembaga yang dinilai akuntable untuk menerima mandat produksi wood pellet di bangkalan ini karena dari sisi kelembagaan cukup firm dan diakui oleh masyarakat lokal dan dari ketokohan, Abah Irham memiliki pengaruh – dalam pola paternalistik – yang sangat kuat baik dalam urusan sosial maupun hutan kemasyarakatan. Menggerakan masyarakat bisa dengan memberi contoh dan mengajak serta mampu menunjukkan bukti keberhasilan,’ kata dia. Sedangkan PT EMI adalah perusahaan BUMN yang tak diragukan lagi dalam memperjuangan energi terbarukan di Indonesia. Melalui dana investasi yang akan dikucurkannya kepada masyarakat Bangkalan, PT EMI berharap mimpi memasyarakatkan wood pellet di Indonesia bakal terwujud,” kata Aris Yunanto disela-sela penandatanganan MoU. Tak tanggung-tanggung, mesin pelletizer yang akan dibeli harus memiliki jaminan kualitas dan tahan lama, salah satunya adalah mesin-mesin pabrikan Jerman,” demikian kata Aris.

Doa menjelang MOU
Daru Asycarya, Presdir IDEAS menekankan pentingnya collaborative management dalam model pengelolaan wood pellet berbasis masyarakat seperti yang dilakukan di Bangkalan ini. Buat masyarakat, membangun industri modern di tengah-tengah kehidupan mereka yang adem ayem sebagai petani hutan merupakan suatu lompatan. Tantangannya sangat berat, namun kami optimis ini akan terwujud atas bimbingan Allah yang Maha berkehendak,” kata Daru. Selayaknya proses ini selalu didampingi untuk memastikan bahwa pasokan selalu kontinyu, kualitas wood pellet terjaga, pasar dan kinerja produksi berjalan dengan baik. IDEAS sudah terlibat sejak perumusan ide-ide proposal bersama Dr Yetti Rusli. Beliau adalah penggagas awal Bangkalan Model Project ini, termasuk pemilihan kaliandra sebagai spesies kebun energi dan lokasi pabrik di Bangkalan. Dr Yetti adalah think tank buat contoh-contoh model mitigasi perubahan iklim yang bisa diterapkan di lapangan. Semoga amal baik dan ibadah beliau mendapat pahala yang berlipat-lipat, termasuk juga para pendukung proyek ICCTF yang butuh pengorbanan tidak sedikit. Penjualan wood pellets ke PT HM Sampoerna walaupun baru 10 ton telah menyiramkan kesejukan di musim kemarau. Rasa percaya diri untuk bangkit bertambah, kami sangat yakin, Allah SWT akan memberikan jalan, demikian Abah selalu berdoa dalam setiap melangkah. Aamiin. (DRU-Akhir Aug 2015).

Alhamdulillah, Wood Pellets Terjual

Alhamdulillah, Wood Pellets Terjual

kcil (1)
Romli, pemuda bertubuh subur yang rajin mengurus pabrik wood pellets CV Gerbang Lestari tampak sumringah mendengar ada calon pembeli lokal dari Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kerja keras selama ini sudah mulai menuai hasil dengan dijualnya wood pellet ke NTB. Salah satu pabrik rokok terbesar yang mengelola tembakau bersama petani di NTB telah membeli wood pellets dari CV Gerbang Lestari sebanyak 10 ton untuk drying tembakau pertengahan Agustus lalu. Hitung-hitung hadiah kemerdekaan RI yang ke 70 katanya. Selama ini mereka selalu terkungkung dengan harapan-harapan “palsu” bahwa wood pellet CV Gerbang Lestari bisa dijual ke Korea maupun dijual lokal. Ternyata para Trader yang berjaji akan membeli wood pellet Bangkalan mengeluh karena produktivitas pabrik CV gerbang Lestari sangat rendah. Mereka berhitung bahwa jumlah barang yang diangkut harus layak secara ekonomi. Itulah yang menyebabkan produk wood pellets di gudang pabrik terkatung-katung belum ada yang mau mengangkut. Seperti pepatah “tetuko”, sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku.”

kcil (2)
Musabab kendala produksi wood pellet CV Gerbang lestari selama ini adalah kapasitas produksi wood pellets yang belum layak secara ekonomi, sehingga menurut KH Irham Rofii, sebaiknya produksi wood pellet ditunda dulu sebelum kapasitas mesin ditingkatkan. Pernyataan ini diaminkan juga oleh para tokoh masyarakat dan juga oleh mantan Project Manager, Daru Asycarya. Lebih lanjut Daru mengatakan bahwa upaya-upaya peningkatan kapasitas mesin wood pellet baik secara mandiri maupun bantuan investasi mutlak diperlukan. Jika tidak, maka mesin-mesin wood pellet yang berharga mahal ini akan menjadi besi tua. Banyak pihak yang ingin membantu pabrik CV gerbang Lestari melalui bantuan pendanaan berupa investasi perbaikan dan upgrade mesin-mesin pellet.

Tersebutlah PT Energy Management Indonesia (PT EMI) yang tergerak untuk membantu masyarakat Bangkalan ini dalam bentuk investasi upgrade mesin-mesin pemelet kayu kaliandra ini. Aris Yunanto, Direktur Utama PT EMI mengatakan bahwa pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari di Bangkalan layak untuk dibantu agar perekonomian lokal tidak mandeg. EMI pun bersedia untuk membantu program cantik ini yang diusung oleh Kemenhut dan ICCTF melalui pengelola proyek IDEAS Consultant menjadi proyek andalan Indonesia yang semakin berkembang dan menjadi percontohan Nasional. Tak tanggung-tanggung, peletizer harus ditambah kapasitasnya menjadi 1,5 ton per jam dan direncanakan menggunakan kualitas Jerman yang lebih terjamin produktivitasnya. “Selain itu, pabrik perlu dilengkapi dengan timbangan mobil, forklift, dan penyesuai-penyesuaian alat pendukung mesin,” lanjut Aris. Pola kemitraan (collaborative management) menjadi jalan keluar bagi seretnya putaran roda produksi wood pellet di Bangkalan. Kyai Irham, Ketua Yayasan Darrul Ittihaad menjelaskan bahwa, “Pada prinsipnya jika ada pihak-pihak yang mau membantu menjalankan pabrik wood pellet Bangkalan ini kami tidak berkeberatan, yang penting sama-sama memberikan keuntungan buat semua pihak.”katanya. Lagipula, jika pabrik Wood Pellets ini nggak jalan, saya mempertaruhkan nama dihadapan masyarakat banyak,” imbuhnya. PT EMI dan pihak Pondok Pesantren mengharap agar manajemen pengelolaan bisnis wood pellet di Bangkalan bisa dilakukan oleh IDEAS Consultant yang selama ini telah mendampingi masyarakat dan pengadaan industri wood pellets.

kcil
Tiga pihak antara Pondok Pesantren Darrul Ittihad, PT EMI dan IDEAS Consultant berencana untuk menandatangani MOU dalam waktu dekat. “Prosesnya tinggal persetujuan mengenai pembagian profit atau profit sharing, setelah beberapa lama terjadi perubahan nilai investasi yang diajukan oleh PT EMI,” kata Daru. Yang jelas, aset masyarakat berupa pabrik dan mesin-mesin wood pellet tetap dihitung sebagai bagian dari kepemilikan masyarakat seperti yang diinginkan oleh pemberi bohir, ICCTF dan pengelola dari BPDAS PS – Kemenhut. Jer Basuki mowo beyo, setiap usaha yang berhasil memerlukan kerja keras dan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan memberikan apa yang telah diupayakan. Bravo buat masyarakat Bangkalan, semoga sukses selalu mengiringi.. Aamiin.

Demam RE menular ke Lombok

Daru-IDEAS.3
Setelah beberapa masa proyek Kebun Energi dan Wood Pellet Bangkalan berjalan, sebuah ide yang sebentar lagi terealisir adalah membangun kebun energi kaliandra, gliricidia, atau tanaman banten (lannea coromandalica) di wilayah Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, NTB. Masih dalam tahap FS, kebun energi yang akan dibangun ini akan diintegarasikan dengan pembangunan power plant dengan kapasitas 300 KW berbasis gasifikasi biomassa. Pengalaman pembangunan kebun energi Bangkalan yang inspiratif akan ditularkan di wilayah Lombok ini agar pasokan biomassa sebagai feed stocks listrik bisa terpenuhi sepanjang masa. Kegiatan ini merupakan bantuan MCA Indonesia kepada konsorsium IDEAS Consultant, Perkumpulan KONSEPSI, dan Fak Teknik Kimia, UNS, Surakarta.

Feed stocks menjadi sangat penting karena pembangkit listrik berbasis biomasa atau PLTBm (Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa) akan selalu menggunakan biomas dalam produksi listriknya. Agar produksi berkelanjutan, kebun energi yang disiapkan pun harus dirancang dengan model yang sustainable pula. Kebun energi yang didisain di atas lahan HKM Santong, Lombok Utara ini menggunakan model agroforestry. Kemungkinan, pola tanaman lorong atau tanaman sabuk menjadi salah satu alternatif selain penanaman dengan model intensif dalam hamparan di lahan kosong. HKM Santong ini juga telah memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Masyarakat yang sangat butuh listrik ini bermimpi bisa menjual kayu bakar untuk memperoleh aliran listrik. Inilah saatnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.. (DRU-Awal August-2015)

Ringkasan Eksekutif Proyek

Slide show 3Proyek yang didanai oleh ICCTF ini menjalankan program utama yaitu: 1. Membangun kebun energi kaliandra merah dengan pola Short Rotation Coppice System (SRC) atau Tanam, Tebang, Trubus; 2. Membangun industri pelet kayu berbasis masyarakat dalam skala inkubator, dan 3. Mengembangkan kapasitas dan edukasi ke berbagai pihak seperti masyarakat terutama petani dan kelompok tani, pemerintah lokal, pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan. Setelah dua tahun (21 bulan) proyek ini dijalankan, beberapa hasil utama yang bisa dikembangkan adalah: 214 hektar kebun kaliandra merah yang siap menyuplai bahan baku wood pellet dan karbon tersimpan dalam bentuk biomasa; satu bangunan pabrik seluas 200 m2 beserta mesin-mesin pengolah wood pellet dan sambungan listrik PLN 197 KW yang telah menghasilkan produk wood pellets; kelembagaan masyarakat yang sudah tertata untuk mengelola kebun energi dan industri wood pellet, proses penghitungan karbon tersimpan dan monev, training dan bimbingan teknis petani, serta pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasional proyek.

Pembangunan Kebun energi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan energi biomasa merupakan penerapan Gerbang Lestari pelletprinsip carbon neutral dan baru pertama kali diterapkan di Indonesia, tepatnya di Bangkalan, Madura. CO2 yang diserap oleh tanaman melalui proses fotosintesis dan dibakar akan mengeluarkan emisi pada tingkat nol. Kebun Energi kaliandra merah dibangun oleh masyarakat atau kelompok tani FMU Gerbang Lestari yang terdiri dari 10 kelompok tani. Mereka mengembangkan persemaian kaliandra di perwakilan kelompok dan menanam kaliandra dan ditanam di kebun energi menggunakan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi setempat. Panen kaliandra baru bisa dimulai pada bulan Mei 2014 atau tepatnya setelah tanaman kaliandra berumur 14 bulan. Panen ini menandai aktivitas pabrik CV gerbang Lestari telah dimulai. Berdasarkan pengolahan data penghitungan karbon di Kebun Energi, perkiraan penurunan emisi (Estimated Emission Reducation) pada areal kebun energi kaliandra FMU sebesar 69,69 ton CO2eq/ha/tahun (emisi kebun energi kaliandra) – 22,02 ton CO2eq/ha/tahun (emisi hutan rakyat FMU) = 47,67 ton CO2eq/ha/tahun.

DSCN0046Sampai dengan akhir proyek ini telah dihasilkan wood pellets oleh CV Gerbang Lestari dan telah tersimpan di Gudang produksi sebanyak 12 ton. Pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat berskala inkubator dibangun di atas tanah dengan luas sekitar 200 m 2. Mengingat proses pengadaan barang yang cukup panjang, mesin-mesin wood pellet baru mulai dioperasikan pada bulan Juni 2014 dan melalui proses ujicoba dan perbaikan-perbaikan (fine-tuning) mesin serta variasi penggunaan bahan baku wood pellet. Walaupun berada ditengah-tengah kampung, CV Gerbang Lestari telah mengantongi semua persyaratan legalitas pabrik seperti SIUP, TDP, HO, dan kta Pendirian. Petani dan karyawan pabrik telah memperoleh pendidikan dan training manajemen pabrik dan pengolahan mesin-mesin pengolah wood pellet dan mereka mampun mengembangkan pengetahuan mesin dan produksi wood pellet berdasarkan ujicoba dan pengalaman empirik.

Proyek ini juga menjalankan aktivitas pengembangan kapasitas petani dan kelembagaan melalui program training, Focus Group Discussion (FGD),dan bimbingan teknis. Kegiatan training dan FGD ini meliputi pengembangan persemaian, penanaman, monev, dan pemeliharaan kebun energi kaliandra. Dalam konteks pengembangan model bisnis, aturan internal, policy, visi, misi, nilai-nilai, model produksi, model profit sharing, dan sebagainya mengkaitkan antara proses produksi wood pellet dengan kemampuan kebun energi kaliandra memasok bahan baku. Model bisnis ini menjadi modal utama pengelola pabrik CV gerbang Lestari menjalankan aktivitas bisnis yang bercorak kerakyatan.

Secara umum disain proyek ini sudah semuanya berjalan, integrasi antara mitigasi perubahan iklim, peningkatan kualitas ekosistem dan penguatan ekonomi masyarakat sudah bisa diwujudkan. Jika model proyek Bangkalan ini akan direplikasi di daerah lain, maka perlu disesuaikan dengan kondisi setempat dan memperhatikan hasil-hasil pengembangan kebun energi dan pabrik wood pellet serta penetrasi pasar yang lebih luas.

Kata kunci: Kebun Energi, Wood pellets, Carbon Neutral, SRC, kaliandra, emission reduction

Daru Asycarya – September 2014

Apa Keterkaitan Proyek ini dengan RAN GRK dan Prioritas Sektor Kehutanan?

IKETERKAITAN DENGAN RAN-GRK

IMG_9775-163425_200x200Pemerintah telah menerbitkan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) melalui Peraturan Presiden Nomor. 61 Tahun 2011. RAN-GRK tersebut merupakan dokumen rencana kerja untuk pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai dengan target pembangunan nasional, yang meliputi bidang: a). Pertanian; b). Kehutanan dan lahan gambut; c). Energi dan transportasi; d). Industri; e). Pengelolaan limbah; dan f). Kegiatan pendukung lain. Rencana aksi yang terkait dengan pengembangan biomasa tercakup dalam bidang Kehutanan dan lahan gambut dan bidang Energi dan transportasi.
RAN-GRK periode 2010-2014, pada bidang kehutanan telah ditetapkan sasaran terlaksananya rehabilitasi hutan pada DAS prioritas seluas 500.000 ha dan terlaksananya rehabilitasi lahan kritis pada DAS prioritas seluas 1.954.000 ha serta peningkatan usaha hutan tanaman seluas 3 juta ha. Proyek ini secara langsung mendorong program rehabilitasi lahan kritis di areal Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura melalui penanaman kaliandra di kebun energi. Wilayah Geger termasuk DAS Blega yang termasuk priioritas untuk direhabilitasi dan dihijaukan melalui program penghutanan, sekaligus membantu mengurangi potensi banjir. Areal-Geger-tahun-70-an
Dalam RAN-GRK periode 2010-2014, pada bidang energi telah ditetapkan sasaran terbangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa (PLTB) dengan kapasitas 16,50 MW. Apabila dari kapasitas tersebut diarahkan untuk menggunakan wood pellet, maka sumber energi terbarukan ini secara langsung menyumbang peran dalam menyediakan sumber bahan bakar biomasa buat PLTB.

KETERKAITAN DENGAN PRIORITAS SEKTOR

Dalam bidang Kehutanan, rencana aksi nasional GRK tersebut meliputi penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan, dan reklamasi hutan di DAS, pengembangan perhutanan sosial dan Peningkatan usaha hutan tanaman. Memang di bidang kehutanan lebih banyak terlibat dalam penyediaan lahan yang akan dikembangkan sebagai areal penanaman kebun energi biomasa, sekaligus untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis pada wilayah DAS prioritas. Pada bidang Energi dan transportasi, rencana aksi yang bisa dikaitkan dengan ppengembangan energi biomasa meliputi Penyediaan dan pengelolaan energi baru terbarukan dan konservasi energi (pembangunan pembangkit listrik tenaga biomasa) dan Reklamasi lahan pasca tambang (dengan penanaman pohon jenis kayu energi). Sebenarnya dalam bidang industri juga dapat diarahkan pada pengembangan energi biomasa yaitu tersusunnya pedoman penggunaan biomasa dan teknologi lainnya pada industri semen.
Pembakar-wp-modernSelain RAN GRK, proyek ini secara nyata mendukung Arah dan Kebijakan Ditjen BPDAS PS 2010-2014, yaitu Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan dan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kehutanan. Sedangkan penjabaran di level indikator, BPDAS PS memiliki prioritas utama terkait dengan Indikator Kinerja Utama (IKU), Indikator Kinerja Khusus (IKK) pada Direktorat Bina Perhutanan Sosial (BPS), Direktorat Jenderal BPDAS PS, dan sasaran proyek ini sejalan dengan indikator tersebut.

Daru Asycarya-September 2014