Pilih Menggunakan Gas LPG apa Wood Pellet?

168188_620-93852_200x200
Indonesia mengalami beberapa kali krisis bahan bakar fosil dan gas LPG. Langka dan mahalnya gas LPG di sejumlah tempat sangat ironi karena sebetulnya kita punya potensi yang luar biasa untuk menggunakan energi biomasa yang terbarukan. Contoh kongkrit adalah potensi bahan baku pellet dari limbah kayu dan biomasa lainnya yang melimpah, adalah merupakan peluang yang belum banyak dilirik oleh banyak orang. Hampir semua limbah kayu dan biomasa bisa dijadikan pellet bahan bakar dengan nilai kalor yang tinggi. Apabila telah dicetak dalam bentuk pellet, maka penggunaannya menjadi lebih mudah, murah dan aplikasinya luas. Mengapa saat ini belum banyak yang menggunakan pellet khususnya untuk dalam negeri atau lebih khusus untuk aplikasi rumah tangga? Hal ini karena belum banyak yang memproduksi pellet bahan bakar ini untuk konsumsi rumah tangga, karena umumnya sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan eksport. Sedangkan untuk industri dalam negeri sudah cukup banyak yang melakukan konversi bahan bakar ke pellet.

Pembakaran-wood-pellet2
Dengan nilai kalor gas LPG sekitar 11.000 kkal/kg sedangkan wood pellet atau pellet bahan bakar memiliki nilai kalor sekitar 4.500 kkal/kg, berarti satu kg LPG setara dengan kurang lebih tiga kg pellet bahan bakar. Mari kita simulasikan secara sederhana perbandingan wood pellet dengan gas LPG yang disubsidi pemerintah. Gas LPG subsidi saat ini harganya Rp 6000,-/kg, sedangkan pellet bahan bakar harga perkg-nya sekitar seperempatnya atau Rp 1500/kg. Hal ini tentu akan menghemat sekitar 25% apabila melakukan subtitusi bahan bakar ke jenis bahan bakar ini. Kompor-kompor yang dirancang khusus mudah dan efisien dalam penggunaan akan membuat penggunaan pellet meningkat pesat untuk rumah tangga. Baik skala rumah tangga maupun industri akan banyak melakukan penghematan apabila melakukan subtitusi tersebut. Khusus untuk industri yang menggunakan bahan bakar non-subsidi penghematan akan lebih banyak lagi apabila menggunakan pellet bahan bakar ini. Harga tabung gas LPG 12 kg selisihnya sangat jauh dengan yang 3 kg karena non-subsidi.
Kompor-wP2
Program pengembangan industri wood pellet di Geger Bangkalan, Madura sangat potensial dikembangkan buat masyarakat lokal yang saat ini telah menggunakan gas LPG. Walaupun pototype kompor wood pellet sudah dikenalkan di pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari, namun pengembangan ke skala produksi massal belum dilakukan. Mungkin menunggu kepedulian dan bantuan pemerintah untuk mensupportnya. Negeri kita yang kaya akan biomasa dan limbah biomasa bisa terus melakukan riset yang mendalam untuk memproduksi pellet dari limbah biomasa seperti produk pertanian dan perkebunan. Sisa produksi pertanian yang bisa dimanfaatkan seperti tongkol dan batang jagung, batang singkong, baggase, sekam padi, tandan kosong sawit dan sebagainya bisa menjadi potensi yang sangat besar. Jadi masihkah kita tetap tergantung pada Gas LPG yang harganya akan selalu naik dan sewaktu-waktu susah dicari di warung depan rumah kita?

 

Eko SB Setyawan
Daru Asycarya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>