Saatnya Membangun Bisnis Untuk Rakyat

IMG_4698-min

KH Ali petani hutan rakyat di Kombangan, Geger, Bangkalan merasa jengkel. Betapa tidak, tanaman kaliandra yang sudah ditanam 3 tahun lalu baru sekali saja dipanen untuk dikirim ke pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari dan habis itu tak ada permintaan lagi. Namun setelah mengikuti acara Dialog Stakeholder dalam rangka Penyerahan Pabrik Wood Pellet dan Pengembangan Wood Pellet Berbasis Masyarakat tanggal 27 September 2016 yang digelar oleh Ditjen PSKL KLHK, Haji Ali merasa lega karena peluang bangkitnya pabrik wood pellet ini ternyata masih ada. Acara tersebut dihadiri sekitar 130 orang dari berbagai latar belakang seperti BPDAS Brantas, Perum Perhutani, Buyer, Praktisi Bisnis, Kelompok Tani Gerbang Lestari, Tokoh Masyarakat, Pemda Bangkalan, Dishutbun, Akademisi dan pemerhati menjadi momen penting untuk menyaksikan keluarnya “bayi” dari sang inkubator. Mafhum saja jika pabrik wood pellet ini belum menghasilkan lagi sejak akhir 2014 karena berada pada masa inkubasi yang terus dievaluasi dan ditemukan kendala-kendala serta pemecahannya. Dari mulai persoalan kualitas mesin sampai dengan efisiensi yang rendah dan persoalan sosial. Tak gampang memang mengubah pola manajemen tradisional menjadi manajemen modern yang perlu ditransformasikan ditengah watak ketradisionalan masyarakat madura.

IMG_4735-min

Haji Ali adalah potret dari 20 Ketua dan wakil Poktan yang hadir pada acara tersebut yang tak kuasa menyembunyikan ekspresi wajah kegembiraannya. “Saya melihat perkembangan pabrik wood pellet seperti ini sangat lega dan bersyukur karena mesin-mesin pencetak pellet tidak lagi menjadi besi tua dan tempat jemuran pakaian,” ujar Apik Karyana sambil tersenyum. Sekditjen PSKL ini juga meninjau mesin-mesin yang sudah direhab secara signifikan dan pameran produk-produk energi terbarukan berbasis biomassa. Optimalisasi mesin-mesin wood pellet dilakukan oleh IDEAS Consultant menggandeng CV Suryabaja Engineering setelah mendapat restu dari KH Irham Rofii Pimpinan Ponpes Darul Ittihad yang mewakili juga FMU Gerbang Lestari dan masyarakat Geger. Rencananya pabrik wood pellet ini akan bisa mencetak pellet kayu sebanyak 2 ton per jam atau sekitar 25 ton per hari dengan shift panjang. Manajemen pabrik dan bahan baku akan ditangani langsung oleh IDEAS dengan melibatkan masyarakat lokal. Aspek manajerial akan diperhatikan dan ditangani secara profesional agar pabrik ini bisa menangguk untung lebih banyak dan administrasi dilakukan secara transparan melibatkan pihak Ponpes dan SBE sebagai bagian dari Konsorsium. Pihak ICCTF yang menghadiri acara ini yaitu Yosep dan Fauzan turut mengapresiasi perkembangan pabrik pellet ini. Salah satu keberhasilan proyek ICCTF adalah direplikasikannya konsep Bangkalan Model Project ke lokasi lain, katanya. Di sela-sela pertemuan, Daru Asycarya Direktur Utama IDEAS menyampaikan bahwa proyek serupa ini telah dikembangkan di daerah Mamuju Sulbar dan di Lombok Utara NTB melalui funding MCA Indonesia dengan sedikit variasi di kemasan konsepnya. Namun penanaman kaliandra sebagai bentuk short rotation coppice system menjadi fokus utama dalam membangun energi terbarukan yang sustainable.

IMG_9997-343075_200x200

Pantang menyerah

Pondok Pesantren Darul Ittihaad sebagai penerima hibah menurut KH Irham Rofii berperan aktif dalam ikut “menyelamatkan” aset pabrik dan aset sosial masyarakat yang rata-rata mereka hidup sebagai petani hutan. Jika Ponpes tidak turun tangan, kekhawatiran akan tidak terurusnya pabrik wood pellet ini bakalan terjadi. Pak Kyai Irham adalah mainstream dari Three Musketeer yang menjadi tokoh pergerakan lingkungan di Bangkalan selain H. Ghozali Anshori dan H. Nuryanto yang masih peduli. Dengan menggandeng IDEAS dan Surya Baja Engineering persoalan-persoalan pabrik bisa perlahan-lahan diatasi. Kami saling memompa semangat untuk berjuang, jika saya turun semangat maka Pak Daru dan Pak Yono memompannya agar bangkit, atau sebaliknya jika Pak Daru nglokro maka saya dorong agar dia tetap tegar. Inilah bagian dari persaudaraan kami untuk membesarkan “bayi” kami yang masih tidur dalam “inkubator” tandas KH Irham. Selain tiga pihak di atas, PT EMI atau Energy Management Indonesia akan memberikan support penyambungan listrik dan modal kerja demi suksesnya pabrik wood pellet di Bangkalan ini, kata Agung Jatmiko selaku Dirut EMI dan Burhan yang turut mempresentasikan pandangannya dalam dialog stakeholder selasa lalu. EMI sangat concern untuk membantu pabrik ini karena sejalan dengan visi dan misinya dan akan dikembangkan kajian penggunaan kompor wood pellet bagi masyarakat,”imbuhnya.

Menurut perhitungan Tursiyono, proses pemulihan pabrik ini sudah mendekati rampung, tinggal melengkapi panel listrik dan kabel-kabel, setting alat, serta penyambungan listrik PLN. Teknisi kami bekerja siang malam untuk merehab mesin dan mempercantik tongkrongan mesin, walaupun kadangkala aliran listrik byar pet. Kami akan mengawal pekerjaan penyempurnaan mesin sampai beroperasi dan melakukan maintainance secara teratur,” imbuh Tursiyono. Apresiasi diberikan juga oleh Sugeng Marsudiarto mantan Kasubdit di Perhutanan Sosial KLHK yang saat ini bekerja di KIFC (Korea Indonesia Forest Centre). Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh IDEAS dan SBE sungguh luar biasa, kerjakeras dan saling menopang memberikan kekuatan terwujudnya pabrik wood pellet yang lebih berpengharapan kedepan. “Pengalaman kegagalan memberikan pelajaran yang terbaik, semoga para penggiat pabrik ini terus berjuang sampai menemukan kesuksesan. Apalagi pada hari ini hadir beberapa praktisi bisnis wood pellet seperti Ibu Sari dari Subang Jabar dan Pak Herbert yang bisa membimbing pasar yang lebih menjanjikan,” imbuhnya.

IMG_4510-min

Pilihan Pasar Wood Pellet

Sari seorang pengusaha Pellet dari Subang membeberkan pengalamannya bergulat dengan bisnis sosis kayu ini yang mengalami pasang surut. Terakhir dia mampu mendulang “emas coklat” di pasar lokalan. Permintaan pabrik tahu terhadap wood pellet sangat tinggi dengan harga yang bersaing dengan pasar Korea. Bahkan kita memperoleh beberapa keuntungan, pertama harga wood pellet lokal cukup tinggi, kedua tidak perlu repot-repot melakukan ekspor yang urusannya bikin pening kepala, ketiga bisa membantu usaha kecil menengah meningkatkan efisiensi bahan bakar sehingga menguntungkan buat mareka, kata dia. Sugeng menambahkan jika harga wood pellet dunia saat ini memang sedang agak lesu karena pengaruh anjloknya harga BBM dan batubara. Pasar Korea juga ikut-ikutan lesu. Menurut Herbert, pengusaha pelletizer merek Jerman mengatakan bahwa harga pellet kayu di Korea berkisar 110 USD sampai 120 USD per ton. Tapi masih ada peluang untuk bisa ekspor ke Jepang maupun Eropa dengan harga diatas 250 USD per ton walaupun permintaan kualitas produknya sangat ketat. China tampaknya juga butuh pellet dengan harga yang sangat murah. Jika pabrik pellet kita tidak efisien, maka kita bisa rugi karena kalah bersaing dengan lainnya.

IMG_4551-min

Pabrik pellet Bangkalan ini bisa memilih bagaimana mendongkrak pasar yang lebih ramah buat bangsa ini. Jika BUMN memiliki tagline Berbakti Buat Negeri” maka pabrik ini bisa mensosialisasikan tagline “Energi terbarukan untuk masyarakat Indonesia”. Mungkin sebagian masyarakat masih memandang ini sebagai hal yang absurd. Namun, melihat pada potensi-potensi pengembangan industri hilir dari produk wood pellet ini tak mustahil proyek Bangkalan ini akan membuka mata dunia bahwa bisnis oleh rakyat ini sesuatu yang bisa diandalkan,” ujar Apik Karyana. Pameran produk pada acara ini yang mengilustrasikan produk hulu-hilir mulai wood chips, wood pellet, briket, arang beriket, briket sisha, asap cair, serta demonstrasi penggunaan kompor biomassa dan alat pemanas ternak ayam (brooder) adalah peluang-peluang menarik usaha di tingkat lokal yang nantinya bisa dikembangkan. Peluang pengkajian pendanaan melalui proposal masih sangat terbuka,”katanya. Bahkan Suwardi dan Enik yang sehari-hari bekerja di Lantai 11 Manggala wana bakti merasa optimis bahwa pasar dalam negeri tampak lebih menjanjikan. Kegiatan serah terima aset ini tidak berarti apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan pencarian inovasi bisnis yang sesuai dengan karakteristik masyarakat, imbuh Suwardi. Apapun bentuk bisnisnya, masyarakatlah sebagai pengambil keputusannya. (DA/29-09-16)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>