Teknik Silvikultur Kaliandra – 03

Oleh : Prijanto Pamoengkas dan Daru Asycarya

Persemaian-1

Persemaian/Pembuatan Bibit

Pengadaan Bibit
Pengadaan bibit dapat berasal dari biji atau pembiakan vegetatif melalui stump dan tunas/coppice system.

Pengadaan benih

1. Pengumpulan benih
Buah berbentuk polong. Buah (polong) masak berwarna coklat. Jumlah benih dapat mencapai 14.000-19.000 setiap kg.

2. Ekstraksi benih
Buah (polong) yang masak setelah dijemur di bawah sinar matahari selama 1-2 hari akan membuka dan menampakkan benih di dalamnya. Benih terlihat mengkilap, hitam, berbentuk seperti tetesan air mata seperti benih Leucaena tetapi agak sedikit lebih besar.

3. Penyimpanan benih
Penyimpanan benih di dalam refrigerator pada suhu 4° C dapat mempertahankan viabilitasnya setelah 2,5 tahun. Akan tetapi bila benih Kaliandra disimpan dalam kantong katun pada suhu ruang maka vaibilitasnya akan turun dari 75% menjadi 60% dalam 1 tahun. Namun penyimpanan benih Kaliandra untuk periode yang lama tidak selalu diperlukan karena Kaliandra berbuah secara terus menerus sepanjang tahun.

4. Perkecambahan benih
Benih ditaburkan tanpa menggunakan perlakukan pendahuluan. Tetapi benih akan berkecambah dengan cepat bila benih direndam air panas 1 menit kemudian direndam air dingin selama 24 jam.

benih kaliandra

Pembiakan vegetatif

1. Stump/Stek
Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan stump yang diambil dari pohon yang tingginya kira-kira 1 meter dengan memotong batangnya sampai ketinggian 30 cm dan akarnya sampai 20 cm. Stump dapat pula dibuat dengan ukuran panjang batang 30-50 cm dan panjang bagian akar 25 cm.

2. Coppice system/sistem trubusan
Perbanyakan tanaman Kaliandra dengan cara vegetatif dapat dilakukan dari semai muda yang sukulen atau tunas akar, cara perbanyakan vegetatif ini tidak banyak dilakukan di Indonesia. Perbanyakan secara vegetatif dari tunas muda atau akar perlu media tanam yang baik, yaitu campuran pasir dan serbuk gergaji dalam keadaan basah dan kelembabannya harus dipertahankan 80%. Pengambilan batang dari tunas muda atau akar sepanjang 5-7 cm, yang masing-masing memiliki 2-3 helai daun kemudian tanaman ditanam pada poly-propagator dengan jarak 5×5 cm. Potongan-potongan tersebut sebaiknya ditanam pada pagi hari, dan segera dipindahkan ketempat perbanyakan, karena batang yang sukulen sangat rentan terhadap kekeringan, oleh karena itu perlu penyiraman 2-3 hari sekali.

Persemaian

Setelah bibit berumur 4-6 bulan (diameter leher akar ± 1 cm ), atau dengan tinggi rata-rata 20-50 cm dan diameter leher akar 0,5 – 1 cm maka bibit siap ditanam di lapangan.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan cara semai langsung biji yang telah diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm atau dari bibit yang telah mencapai tinggi 20-50 cm yang telah ditumbuhkan pada tempat pembibitan. Bibit dapat ditanam berbaris dengan jarak tanam 3-4m, atau pada penggunaan sebagai sumber pakan ditanam dengan jarak 0,5-1 m secara menyebar. Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah baru ditanami. Pertumbuhan awal lambat tetapi pertumbuhan selanjutnya sangat cepat dan pohon dapat mencapai tinggi 3,5 m dalam 6 bulan. Tidak dapat tumbuh baik bila dipotong.

Semai dipindahkan ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan dua sampai empat minggu sebelumnya. Buat lubang dengan lebar sedikitnya 30 cm dan kedalaman 30 cm, gemburkan tanah, dan kemudian kembalikan ke dalam lubang. Sebelum menanam, sobeklah satu sisi kantung plastik dan pindahkan semai dengan hati-hati tanpa mengganggu gumpalan tanah pada akarnya. Jika akar mengelilingi gumpalan tanah potonglah di kedua sisi menggunakan pisau yang bersih dan tajam. Dengan demikian akarnya tidak tumbuh menggumpal setelah dipindahkan. Letakkan setiap semai di tengah lubang tanam. Bagian atas gumpalan tanahnya harus sama tinggi dengan permukaan tanah. Padatkan tanah yang longgar di sekitar semai dengan hatihati sehingga semai berdiri tegak. Jika penguapan air tanah merupakan masalah, tutuplah permukaan tanah di sekitar semai dengan mulsa. Pastikan bahwa mulsa ini tidak mengandung biji gulma.

Persemaian-2

Pemeliharaan

Semua tanaman muda Kaliandra menunjukkan pertumbuhan yang lambat pada awalnya, apa pun cara tanam yang diterapkan. Selama periode ini, tanaman sangat rentan terhadap persaingan dengan tumbuhan lain untuk mendapatkan sinar matahari, kelembaban dan hara tanah. Jenis rumput yang cepat tumbuh seperti Bothriochloa petusa (rumput perak), Bracharia mutica, dan Panicum maximum, memiliki perakaran yang sangat padat di permukaan tanah dan merupakan pesaing kuat bagi semai yang masih muda. Persaingan seperti ini harus dikendalikan supaya semai Kaliandra dapat tumbuh dengan baik. Secara umum semua tumbuhan liar yang berada pada jarak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>