MENGEMBANGKAN HUTAN TANAMAN ENERGI (HTE) – Bagian 1

Oleh: Daru Asycarya

Pendahuluan

Akhir-akhir ini banyak perdebatan mengenai layak tidaknya mengembangkan sebuah hutan tanaman energi (HTE) yang dilaksanakan di luar Jawa maupun di Jawa. Banyak orang berhitung bahwa mengembangkan HTE untuk tujuan penyediaan bahan baku industri biomassa seperti wood chips dan wood pellets masih belum menguntungkan secara ekonomi. Pendapat ini umumnya didasarkan pada analisis  perhitungan kalayakan penanaman HTE yang mana diasumsikan sama dengan  variable perhitungan kelayakan  HTI untuk tujuan kayu pertukangan dan kayu untuk pulp. Tentu saja ini menimbulkan banyak pertanyaan, misalnya apakah daur tanaman HTE sama dengan HTI? Apakah system silvikulturnya sama? Apakah komponen kegiatan pengelolaan HTE sama dengan HTI? Apakah aspek pasar berpengaruh pada harga bahan baku dan pemilihan jenis tanamannya? Apakah pemilihan jenis tanaman energi sudah sesuai dengan karakteristik tempat tumbuh yang akan dijadikan sebagai site proyek penanaman? Beberapa pertanyaan tersebut berhubungan dengan teknis pelaksanaan pembangunan kebun energi. Lalu bagaimana dengan potensi pasarnya?

Di Indonesia, Pemerintah telah mengeluarkan PP no 79 mengenai target bauran energi dimana 23% penggunaan energi terbarukan harus dicapai pada tahun 2025. Sampai saat ini Indonesia baru bisa merangkak di angka 7% dengan sisa waktu yang tinggal 5 tahun lagi. Jika Pemerintah punya komitmen kuat mengenai target bauran energi ini, jelaslah bahwa pasar biomassa dalam negeri sangatlah besar.  Salah satu potensi pasarnya adalah penggunaan wood chips atau wood pellets untuk bahan bakar pengganti batubara atau untuk cofiring (campuran bahan bakar) batubara pada pembangkit listrik (PLTU dan PLTBm). Jika kebutuhan batubara nasional untuk pembangkit listrik adalah 90 juta ton per tahun (angka tahun 2018), maka 10 persen untuk cofiring membutuhkan 9 juta ton biomassa per tahun atau 750.000 ton per bulan.  Biomassa sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang belum banyak dikembangkan merupakan karbon padat yang diperoleh dari potongan pohon atau tanaman berupa batang, cabang atau ranting yang digunakan sebagai bahan baku wood chips atau wood pellets.

Biomassa untuk energi akan diperlukan dalam jumlah besar dan sustainable yang bisa dipenuhi dengan membangun hutan tanaman energi (HTE). Selain ketersediaan lahan yang masih luas, pengelolaan HTE bisa didisain lebih sederhana dibandingkan dengan pengelolaan HTI. Disain pengelolaan HTE bisa dilihat pada gambar berikut:

HTE Concept

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan mengenai kelayakan pengelolaan HTE bisa dikaji dari sisi Kelayakan Teknis, Kelayakan Ekonomi, Market, dan Pembangunan HTE dan Industri Biomassa (Bersambung..).

Merancang Kebun Energi Terintegrasi Pembangkit Listrik

PT IDEAS Semesta Energi bekerjasama dengan EDF Perancis (PLN nya Perancis) sedang merencanakan pengembangan Power Plant berbasis biomasa dengan sistem Hybrid — mengembangkan 3 model pembangkit dari biomassa, tenaga surya, dan baterai di Kepulauan Umbele, sebuah gugusan pulau kecil di wilayah Sulawesi Tengah. Perencanaan yang matang tentunya sangat diperlukan, mulai dari FS teknis kemungkinan dibangun pembangkit listrik, FS Kebun energi dengan mengembangkan kayu kaliandra, gamal atau jenis-jenis lokal yang cocok untuk kayu energi, serta studi pendahuluan tentang kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Awal tahun 2020 ditargetkan studi pendahuluan lingkungan dan sosial bakal rampung sehingga PLTBM di Pulau Umbele dapat segera diwujudkan.

Pulau Umbele-low

Wood Pellet Bangkalan Rambah Pasar Baru

bersama abah Irham
Baru baru ini pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang dimiliki oleh Masyarakat Geger yang berada dalam Wadah Ponpes Darul Ittihad telah menjual produknya ke lokasi yang cukup jauh, Pangalengan Bandung. Pabrik wood pellet ini dikelola oleh IDEAS Semesta Energi dengan karyawan lokal dengan kemampuan yang tinggi. Abah Irham, Pengasuh Ponpes Darul Ittihad sekaligus Penggagas dan Founder Pabrik Wood Pellet Bangkalan mengatakan bahwa pasar-pasar lokal sudah terbuka peluang untuk menyerap wood pellet.
Pemuatan ke truk
Selain itu, Direktur IDEAS, Daru Asycarya bermimpi bahwa pabrik wood pellet Bangkalan yang menjadi perintis perpelettan akan terus berkembang menjadi penyumbang utama penyediaan energi terbarukan di Indonesia. Bukan pellet biasa, karena wood pellet dari Bangkalan ini berasal dari bahan baku kaliandra dan kayu kemlandingan yang memiliki kalori tinggi, ash konten rendah dan mutu pembakaran yang sangat bagus. Seperti diketahui, tanaman kaliandra adalah jenis tanaman trubusan berotasi pendek yang memiliki ketangguhan luar biasa terutama di lahan lahan kritis dan tidak produktif. Sebagi strategi pengelolaan, menjemur serbuk saat listrik mati menjadi cara yang baik untuk mengurangi beban biaya operasional. DA/09.09.17
Jemur serbuk

Wood Pellet Memikat, Pasar Lokal Mendekat

kirim ke ptpn 8
Walau pasar wood pellet ekspor sedang lesu, pasar lokal masih menunjukkan geliatnya. Ini tercermin dari perkembangan pasar wood pellet dari Gerbang lestari Bangkalan yang dikelola oleh IDEAS SEMESTA ENERGY (ISE). Setelah sukses menjual ke Gresik, produk dari Bangkalan ini bergerak lebih jauh menuju pasar PTPN 8 di Pangalengan, Bandung Selatan. Pasokan wood pellet untuk bahan bakar pengeringan daun teh ini masih sangat kurang, sehingga pabrik pellet berbasis masyarakat dan santri di Bangkalan ini terus digenjot. Dirut ISE, Daru Asycarya mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaharuan mesin pengolah pellet bantuan dari Investor Dr. Samedi dari TFCA Jakarta, produktivitas wood pellet berangsur naik. “Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa upaya keras kami mulai menunjukkan hasil.” Selain itu, KH Irham sebagai pengasuh Ponpes Darul ittihad sekaligus owner utama pabrik ini berharap bahwa mesin pellet lain yang masih rusak bisa segera diperbaiki dan berproduksi lagi agar target produksi bisa tercapai secara maksimal. Dengan berfungsinya mesin mesin ini akan membangkitkan semangat Agus dkk sebagai karyawan pabrik, imbuhnya.

proses pemeletan

Sebagai Pendukung pabrik wood pellet Bangkalan, Dr Samedi mengatakan bahwa permintaan wood pellet sebagai bahan bakar energi terbarukan pengganti batu bara akan semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Apalagi jika pengelolaan wood pellet dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan tatakelola lingkungan dan ekonomi yang rendah karbon, ujarnya. Mesin wood pellet yang baru ini buatan China, namun dari pengalaman yang lalu, pemilihan pabrikan, penentuan komponen mesin yang berkualitas, serta mengawal pada proses pembuatannya menjadi sangat penting. Sehingga kualitas mesin China yang termasuk KW 1 bisa diperoleh. Kami terus terang menggunakan partner atau agen penjualan yang bisa nongkrongin proses pengadaan mesin wood pellet, termasuk memilih motor merk Siemens pabrikan Jerman, Ring Dies kualitas bagus, dan PLC yang dilengkapi dengan inverter, kata Daru. Teknisi dari China pun di datangkan untuk memberikan training pengoperasian mesin dan melakukan trouble shooting. Dengan upaya ini, karyawan pabrik akan semakin menguasai teknologi pemeletan ini dengan langkah-langkah yang benar. Pepatah kuno mengatakan, Hasil tidak akan menghianati usaha keras… semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk Nya. Aamiin. DA/08-21-17

mesin baru hasil wp

Pasar Wood Pellet Lokal, Harus Banyak Akal

Penjualan Wood Pellet untuk ekspor sedang lesu, harga pasar di Korea maupun China masih belum menarik produsen pellet untuk menggerakan padatan serbuk kayu berbentuk pensil itu menuju destinasi ekspor. Tantangan ini tidak lantas membuat kita diam menunggu harga pellet semakin naik. Pasar lokal sudah semakin menyerap karena kebutuhan wood pellet ini sudah memasuki pasar-pasar baru sebagai pengganti gas elpiji maupun kayu bakar. Gas elpiji subsidi semakin langka di masyarakat, wood pellet menjadi energi alternatif pengganti gas. Wood pellet telah disukai konsumen untuk pembakar atau pemanas kompor rumah tangga,  industri rumah tangga dan UMKM. Wood pellet telah menjadi “emas coklat” pengganti gas karena bisa menghemat biaya pembakaran sebesar 40% s.d 50%.

IMG-20161230-WA0039

Baru baru ini pabrik wood pellet Gerbang Lestari yang dikelola oleh IDEAS Semesta Energy telah mengirimkan 200 paket kompor biomassa dengan 120 karung wood pellet kaliandra yang dicampur dengan serbuk meranti belangiran menjadikannya kualitas premium. Tujuan penjualannya adalah ke Jawa Tengah untuk memasok daerah-daerah yang terjadi kelangkaan tabung gas dan masyarakat butuh energi alternatif yang murah dengan harga terjangkau. Kompor wood pellet UB memiliki keunggulan dalam menghemat wood pellet, nyala tanpa asap, dan mudah penggunaannya. Rencananya, pada satu Kabupaten yang dipasok wood pellet dibutuhkan sekitar 22.000 unit kompor biomassa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Daru Asycarya, Direktur Utama Ideas Semesta Energy, setelah bisa memenuhi target pemasaran kompor beserta wood pelletnya, maka pemasaran ini menjadi modal “gerakan sosial” memasyarakatkan kompor wood pellet pada kabupaten lain. Model bisnis yang dibangun adalah memanfaatkan agen-agen gas di tingkat kecamatan dan pedesaan dan merekalah yang menjadi ujung tombak pasar wood pellet yang head to head bertemu dengan masyarakat.

IMG-20161231-WA0006Tidak sampai disitu, pemasaran wood pellet dengan model satu paket bersama kompor ataupun burner bisa dipasarkan di pabrik-pabrik pengolahan makanan seperti tahu, gudeg jogja, pemanas ayam DOC, pengering teh, pengering tembakau, pengusaha gorengan. Salah satu kajian penggunaan wood pellet pada burner tahu telah berhasil menghemat 40% penggunaan gas elpiji. Demikian pula pengusaha peternakan ayam DOC merasakan bahwa penggunaan wood pellet lebih hemat, praktis, dan aman. Tak perlu pusing-pusing mikir ekspor, di negara kita sendiri banyak ladang untuk menjual pellet sekaligus menyelamatkan energi kita untuk kepentingan kita. Mari kita bentuk networking untuk menjadi energi terbarukan wood pellet sebagai “Gerakan Sosial” kemandirian energi sampai level masyarakat.

Daru Asycarya – 081311132706

 

Saatnya Membangun Bisnis Untuk Rakyat

IMG_4698-min

KH Ali petani hutan rakyat di Kombangan, Geger, Bangkalan merasa jengkel. Betapa tidak, tanaman kaliandra yang sudah ditanam 3 tahun lalu baru sekali saja dipanen untuk dikirim ke pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari dan habis itu tak ada permintaan lagi. Namun setelah mengikuti acara Dialog Stakeholder dalam rangka Penyerahan Pabrik Wood Pellet dan Pengembangan Wood Pellet Berbasis Masyarakat tanggal 27 September 2016 yang digelar oleh Ditjen PSKL KLHK, Haji Ali merasa lega karena peluang bangkitnya pabrik wood pellet ini ternyata masih ada. Acara tersebut dihadiri sekitar 130 orang dari berbagai latar belakang seperti BPDAS Brantas, Perum Perhutani, Buyer, Praktisi Bisnis, Kelompok Tani Gerbang Lestari, Tokoh Masyarakat, Pemda Bangkalan, Dishutbun, Akademisi dan pemerhati menjadi momen penting untuk menyaksikan keluarnya “bayi” dari sang inkubator. Mafhum saja jika pabrik wood pellet ini belum menghasilkan lagi sejak akhir 2014 karena berada pada masa inkubasi yang terus dievaluasi dan ditemukan kendala-kendala serta pemecahannya. Dari mulai persoalan kualitas mesin sampai dengan efisiensi yang rendah dan persoalan sosial. Tak gampang memang mengubah pola manajemen tradisional menjadi manajemen modern yang perlu ditransformasikan ditengah watak ketradisionalan masyarakat madura.

IMG_4735-min

Haji Ali adalah potret dari 20 Ketua dan wakil Poktan yang hadir pada acara tersebut yang tak kuasa menyembunyikan ekspresi wajah kegembiraannya. “Saya melihat perkembangan pabrik wood pellet seperti ini sangat lega dan bersyukur karena mesin-mesin pencetak pellet tidak lagi menjadi besi tua dan tempat jemuran pakaian,” ujar Apik Karyana sambil tersenyum. Sekditjen PSKL ini juga meninjau mesin-mesin yang sudah direhab secara signifikan dan pameran produk-produk energi terbarukan berbasis biomassa. Optimalisasi mesin-mesin wood pellet dilakukan oleh IDEAS Consultant menggandeng CV Suryabaja Engineering setelah mendapat restu dari KH Irham Rofii Pimpinan Ponpes Darul Ittihad yang mewakili juga FMU Gerbang Lestari dan masyarakat Geger. Rencananya pabrik wood pellet ini akan bisa mencetak pellet kayu sebanyak 2 ton per jam atau sekitar 25 ton per hari dengan shift panjang. Manajemen pabrik dan bahan baku akan ditangani langsung oleh IDEAS dengan melibatkan masyarakat lokal. Aspek manajerial akan diperhatikan dan ditangani secara profesional agar pabrik ini bisa menangguk untung lebih banyak dan administrasi dilakukan secara transparan melibatkan pihak Ponpes dan SBE sebagai bagian dari Konsorsium. Pihak ICCTF yang menghadiri acara ini yaitu Yosep dan Fauzan turut mengapresiasi perkembangan pabrik pellet ini. Salah satu keberhasilan proyek ICCTF adalah direplikasikannya konsep Bangkalan Model Project ke lokasi lain, katanya. Di sela-sela pertemuan, Daru Asycarya Direktur Utama IDEAS menyampaikan bahwa proyek serupa ini telah dikembangkan di daerah Mamuju Sulbar dan di Lombok Utara NTB melalui funding MCA Indonesia dengan sedikit variasi di kemasan konsepnya. Namun penanaman kaliandra sebagai bentuk short rotation coppice system menjadi fokus utama dalam membangun energi terbarukan yang sustainable.

IMG_9997-343075_200x200

Pantang menyerah

Pondok Pesantren Darul Ittihaad sebagai penerima hibah menurut KH Irham Rofii berperan aktif dalam ikut “menyelamatkan” aset pabrik dan aset sosial masyarakat yang rata-rata mereka hidup sebagai petani hutan. Jika Ponpes tidak turun tangan, kekhawatiran akan tidak terurusnya pabrik wood pellet ini bakalan terjadi. Pak Kyai Irham adalah mainstream dari Three Musketeer yang menjadi tokoh pergerakan lingkungan di Bangkalan selain H. Ghozali Anshori dan H. Nuryanto yang masih peduli. Dengan menggandeng IDEAS dan Surya Baja Engineering persoalan-persoalan pabrik bisa perlahan-lahan diatasi. Kami saling memompa semangat untuk berjuang, jika saya turun semangat maka Pak Daru dan Pak Yono memompannya agar bangkit, atau sebaliknya jika Pak Daru nglokro maka saya dorong agar dia tetap tegar. Inilah bagian dari persaudaraan kami untuk membesarkan “bayi” kami yang masih tidur dalam “inkubator” tandas KH Irham. Selain tiga pihak di atas, PT EMI atau Energy Management Indonesia akan memberikan support penyambungan listrik dan modal kerja demi suksesnya pabrik wood pellet di Bangkalan ini, kata Agung Jatmiko selaku Dirut EMI dan Burhan yang turut mempresentasikan pandangannya dalam dialog stakeholder selasa lalu. EMI sangat concern untuk membantu pabrik ini karena sejalan dengan visi dan misinya dan akan dikembangkan kajian penggunaan kompor wood pellet bagi masyarakat,”imbuhnya.

Menurut perhitungan Tursiyono, proses pemulihan pabrik ini sudah mendekati rampung, tinggal melengkapi panel listrik dan kabel-kabel, setting alat, serta penyambungan listrik PLN. Teknisi kami bekerja siang malam untuk merehab mesin dan mempercantik tongkrongan mesin, walaupun kadangkala aliran listrik byar pet. Kami akan mengawal pekerjaan penyempurnaan mesin sampai beroperasi dan melakukan maintainance secara teratur,” imbuh Tursiyono. Apresiasi diberikan juga oleh Sugeng Marsudiarto mantan Kasubdit di Perhutanan Sosial KLHK yang saat ini bekerja di KIFC (Korea Indonesia Forest Centre). Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh IDEAS dan SBE sungguh luar biasa, kerjakeras dan saling menopang memberikan kekuatan terwujudnya pabrik wood pellet yang lebih berpengharapan kedepan. “Pengalaman kegagalan memberikan pelajaran yang terbaik, semoga para penggiat pabrik ini terus berjuang sampai menemukan kesuksesan. Apalagi pada hari ini hadir beberapa praktisi bisnis wood pellet seperti Ibu Sari dari Subang Jabar dan Pak Herbert yang bisa membimbing pasar yang lebih menjanjikan,” imbuhnya.

IMG_4510-min

Pilihan Pasar Wood Pellet

Sari seorang pengusaha Pellet dari Subang membeberkan pengalamannya bergulat dengan bisnis sosis kayu ini yang mengalami pasang surut. Terakhir dia mampu mendulang “emas coklat” di pasar lokalan. Permintaan pabrik tahu terhadap wood pellet sangat tinggi dengan harga yang bersaing dengan pasar Korea. Bahkan kita memperoleh beberapa keuntungan, pertama harga wood pellet lokal cukup tinggi, kedua tidak perlu repot-repot melakukan ekspor yang urusannya bikin pening kepala, ketiga bisa membantu usaha kecil menengah meningkatkan efisiensi bahan bakar sehingga menguntungkan buat mareka, kata dia. Sugeng menambahkan jika harga wood pellet dunia saat ini memang sedang agak lesu karena pengaruh anjloknya harga BBM dan batubara. Pasar Korea juga ikut-ikutan lesu. Menurut Herbert, pengusaha pelletizer merek Jerman mengatakan bahwa harga pellet kayu di Korea berkisar 110 USD sampai 120 USD per ton. Tapi masih ada peluang untuk bisa ekspor ke Jepang maupun Eropa dengan harga diatas 250 USD per ton walaupun permintaan kualitas produknya sangat ketat. China tampaknya juga butuh pellet dengan harga yang sangat murah. Jika pabrik pellet kita tidak efisien, maka kita bisa rugi karena kalah bersaing dengan lainnya.

IMG_4551-min

Pabrik pellet Bangkalan ini bisa memilih bagaimana mendongkrak pasar yang lebih ramah buat bangsa ini. Jika BUMN memiliki tagline Berbakti Buat Negeri” maka pabrik ini bisa mensosialisasikan tagline “Energi terbarukan untuk masyarakat Indonesia”. Mungkin sebagian masyarakat masih memandang ini sebagai hal yang absurd. Namun, melihat pada potensi-potensi pengembangan industri hilir dari produk wood pellet ini tak mustahil proyek Bangkalan ini akan membuka mata dunia bahwa bisnis oleh rakyat ini sesuatu yang bisa diandalkan,” ujar Apik Karyana. Pameran produk pada acara ini yang mengilustrasikan produk hulu-hilir mulai wood chips, wood pellet, briket, arang beriket, briket sisha, asap cair, serta demonstrasi penggunaan kompor biomassa dan alat pemanas ternak ayam (brooder) adalah peluang-peluang menarik usaha di tingkat lokal yang nantinya bisa dikembangkan. Peluang pengkajian pendanaan melalui proposal masih sangat terbuka,”katanya. Bahkan Suwardi dan Enik yang sehari-hari bekerja di Lantai 11 Manggala wana bakti merasa optimis bahwa pasar dalam negeri tampak lebih menjanjikan. Kegiatan serah terima aset ini tidak berarti apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan pencarian inovasi bisnis yang sesuai dengan karakteristik masyarakat, imbuh Suwardi. Apapun bentuk bisnisnya, masyarakatlah sebagai pengambil keputusannya. (DA/29-09-16)

Pelletizer China, Wajah Cantik Mendulang Penyakit

IMG-20160614-WA0007

Tak sesuai dengan promosinya, mesin wood pellet pabrikan China kebanyakan bermasalah pada saat digunakan. Jika mesin-mesin China bisa beroperasi dan menghasilkan produk bagus, tak berapa lama kita harus merogoh kocek dalam untuk memperbaiki banyak kerusakan organ dalam. Kualitas metal dan onderdilnya tidak bisa dijamin bagus karena merupakan komponen asli China yang tidak diketahui standar kualitasnya. Menurut Tursiyono, Ahli mesin pellet dan briket asal Wonosobo, Mesin Pellet China teknologinya sudah meniru Jerman, tapi tidak untuk kualitasnya. China hanya jual produk, tapi tidak jual kualitas,” katanya. Untuk konsumen yang hanya mengandalkan harga murah sering terkecoh, senang membeli di awal tapi bakal menangis kemudian. Ini pengalaman Tursiyono sebagai mekanikal dan ahli mesin pengolah biomassa, bahwa menangani mesin-mesin China lebih repot. Saat ini saya sibuk menerima panggilan reparasi mesin-mesin China yang bermasalah. Bahkan banyak diantara mereka mengeluh karena teknisi China yang dipanggil untuk memperbaiki kerusakanpun telah angkat tangan dan pulang tanpa pamit,’ imbuhnya. IMG-20160614-WA0012

Jual Kualitas

PT Ideas Semesta Energy bekerjasama dengan Suryabaja Engineering bertekad untuk menyediakan peralatan dan mesin-mesin yang unggul buatan anak negeri. Kami akan menyediakan kualitas mesin-mesin yang terpercaya dan bisa diandalkan dengan service purna jual yang menjamin pabrik wood pellet mampu memproduksi wood pellet atau briket secara maksimum, sehingga profit bisa dicapai sesuai target yang ditentukan,” Kata Daru Asycarya, Direktur IDEAS. Selain itu, teknologi yang diciptakan merupakan teknologi mutakhir yang efisien. Ini hasil dari kajian engineering Tursiyono selama hampir 16 tahun bergelut dibidang permesinan dan pengolahan produk bio energy. Pesan moral: jangan mudah tertipu dengan produk China yang murah, teliti sebelum membeli.
DA/14 Aug 16

Pabrik Wood Pellet Bangkalan, Bangun dari Hibernasi

IMG-20160624-WA0010
Setelah lama berhibernasi, pabrik wood pellet CV Gerbang Lestari akhirnya menggeliat. Ini dilakukan untuk mempersiapkan penambahan kapasitas mesin dari 500 kg per jam menjadi 2 ton per jam. Langkah ini menunjukkan semangat yang masih menyala-nyala walaupun sempat terombang ambing oleh keputusan investasi yang “lamban” dari salah satu BUMN dalam kurun waktu satu tahun ini. Semangat ini muncul dari tiga pihak yaitu IDEAS Consultancy Services, PT Suryabaja Engineering dan tentu saja Ponpes Darul Ittihad. Kami bertiga memberanikan diri untuk memulai perbaikan dan penyesuaian upgrade mesin pellet untuk menuju skala ekonomis usaha wood pellet,” kata Daru, Presdir IDEAS Consultant. Ini sungguh-sungguh awal pekerjaan yang bersejarah untuk mewujudkan komitmen kuat membangun kembali kepercayaan masyarakat, pasar, dan juga para penggiat energi terbarukan,” lanjut Tursiyono, boss PT Suryabaja Engineering. PT Suryabaja ini sudah berpengalaman puluhan tahun menggeluti dunia hitam (arang), sawdust, briket, dan wood pellet terutama dalam menciptakan mesin-mesin yang handal dan efisien, imbuhnya. Mesin-mesin yang awalnya didisain dan dibuat oleh salah satu pabrikan mesin pertanian dari Citeureup Bogor ini menunjukan kinerja yang kurang handal dan tidak efisien. Pemakaian listrik sangat boros, namun hasilnya sangat minim, sehingga Tursiyono sebagai pawang mesin harus turun tangan dan terlibat langsung. Tangan dingin Tursiyono terbukti mampu mengubah kinerja chipper dan hammer menjadi super kapasitas melenggang 1,5 ton perjam yang sebelumnya hanya 250 kg per jam saja.

Pasar yang menggiurkan

IMG-20160624-WA0031Wood pellet adalah energi terbarukan masa depan yang miracle. Korea masih menjadi pasar yang haus akan energi terbarukan. Walaupun harga wood pellet sempet naik turun, saat ini cukup stabil di kisaran 130 USD per ton. Konon harga wood pellet mengikuti harga minyak bumi, jika harga minyak dunia turun maka pellet ikut turun. Selain Korea, China dan Jepang menjadi konsumen pellet terbesar dunia. Harga bersaing diantara mereka. Yang paling penting sebetulnya adalah kualitas wood pellet yang selalu terjaga sesuai dengan persyaratan pasar,” kata Wahyu Riva, Direktur Program IDEAS. Pengujian mutu pellet secara kontinyu dan jaminan mutu menjadi kunci kepercayaan pasar, katanya. Tanaman Kaliandra sebagai short rotation coppice system sangat cocok dibudidayakan untuk tanaman energi yang sustainable. Pengembangan kebun energi di hutan rakyat bisa diduplikasikan di luar jawa dalam skala luas dengan beberapa catatan penyesuaian seperti jenis tanaman yang cocok, upah pekerja yang tidak terlalu mahal, kedekatan dengan pelabuhan ekspor, dan efisiensi produksi. Menggeliatnya Bangkalan adalah dalam rangka menjawab permintaan pasar yang terus menerus bertanya, kapan pabrik berderum lagi? Kami membuka kesempatan buat investor baru yang ikut berinvestasi mengembangkan Bangkalan. Ditunggu..
(DA/ Juni 2016)

Kompor Wood Pellet, Pembakar Ramah Energi

IMG_4819Akhir-akhir ini isu tentang penggunaan bahan bakar yang berasal dari energi terbarukan semakin kencang. Penggunaan bahan bakar non fosil menjadi harapan masa mendatang. Salah satunya adalah penggunaan wood pellet untuk bahan bakar rumah tangga. Setelah keberhasilan pemerintahan SBY mengkonversi minyak tanah menjadi gas, sekarang ada peluang bagus untuk menggunakan kompor wood pellet dengan bahan bakar berasal dari biomassa baik sampah biomassa maupun biomassa dari tanaman yang sengaja ditanam sebagai tanaman energi. Wood pellet sangat ekonomis dan membantu program mitigasi perubahan iklim. Penggunaan wood pellet pada hakekatnya menjalankan siklus karbon netral dengan level emisi nol.

Kompor wp yono2Jika kita bandingkan wood pellet dengan gas LPG tabung melon bersubsidi 3 kg maka masih lebih ekonomis wood pellet. Jika tinjauannya waktu, penggunaan gas LPG 3 kg akan habis selama 7 jam efektif, artinya biaya perjamnya Rp 2.850 (harga per tabung melon Rp 20.000). Sedangkan wood pellet, dengan jumlah 0,5 kg wood pellet, kompor bisa tetap menyala selama 1 jam, artinya biaya perjamnya kurang dari Rp.750,-. Namun jika ditinjau dari nilai kalorinya, gas LPG menghasilkan 11.000 kcal/kg sedangkan wood pellet hanya menghasilkan 4.700 kcal per kg. Artinya energi wood pellet perlu dikalikan 2,34 kali gas LPG. Dengan standard harga yang sama seperti contoh di atas, maka penggunaan wood pellet per kg akan berbiaya Rp 1.500 x 2,3 = Rp 3.510. Jika biaya LPG per kg adalah Rp. 6.600,- maka kita masih bisa berhemat Rp.3.156,- atau sekitar 47%. Jika dibandingkan dari sisi kepraktisan memang kompor wood pellet akan kalah dengan kompor gas yang tinggal klik langsung nyala. Namun untuk penggunaan memasak dalam jangka waktu lama, penggunaan wood pellet patut dipertimbangkan. Gambar berikut adalah percobaan penggunaan kompor wood pellet untuk memasak oleh keluarga Tursiono di Purworejo, Jawa Tengah.

Ini sebetulnya pancingan buat pemerintah terutama Kementerian ESDM untuk bisa memasyarakatkan kompor ini dengan skala yang luas. Kita bisa sediakan kompor yang satu paket dengan wood pelletnya. Jika bisa bekerjasama dengan retailer-retailer kecil seperti minimart (indomart,alfamart, SB, dll) dan supermarket, maka tidak mustahil penggunaan kompor wood pellet bisa mengindonesia karena murah, aman, dan ramah lingkungan. Bahan baku wood pellet yang berasal dari biomassa bisa menjadi pemicu masyarakat untuk gemar menanam atau penyedia solusi daur ulang sampah kayu dan ranting yang biasa nangkring di pintu-pintu air di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Gambar berikut adalah contoh sampah kayu yang selalu ngendon di pintu sungai (diunduh dari situs merdeka.com).

Sampah sungai-merdeka

Jika kita atau Pemda bisa bangun pabrik wood pellet yang bisa memanfaatkan sampah kayu dan biomassa ini, tentu akan memberikan solusi yang menguntungkan. Membersihkan sampah sekaligus menangguk rupiah. (Daru-Feb 16).

Dari Tanpa Sehelai Daunpun sampai ke Desa Mandiri Energi

Oleh: Daru Asycarya

Bumi Indonesia kaya akan sumberdaya alam, yaitu tanah, air, hutan, tambang, biodiversity, laut serta apa yang terkandung di dalamnya. Di daratan, salah satu kekayaan kita adalah biomassa yang berasal dari proses fotosintesis tanaman, penyerapan CO2 dan pembentukan karbon padat dalam bentuk hemicellulose, cellulose, dan lignin. Selama ini pemanfaatan biomassa ini sangat minim, kecuali untuk pembuatan wood-based products secara komersial seperti kayu pertukangan, kayu lapis, papan partikel dan ratusan jenis produk berbasis kayu. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah pembuangan sampah biomassa besar-besaran dari sisa pengolahan kayu, sisa penebangan hutan berupa ranting dan cabang pohon yang teronggok di hutan sampai lapuk tanpa memberi manfaat ekonomi. Pola hidup yang bergantung pada alam sudah selayaknya diubah. Kebutuhan energi juga sudah harus digantikan dari bahan bakar fosil menjadi renewable energy seperti penggunaan biomassa untuk sumberdaya listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. Energi terbarukan yang dikombinasikan dengan ekonomi kreatif memunculkan aktifitas ekonomi rendah karbon yang menjadi sebuah siklus energi. Desa Mandiri energi bisa diciptakan dengan mudah, asal ada kemauan dari pemerintah dan kita semua. Konsep sederhana pemanfaatan siklus energi bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:

Konsep integrasi tanaman energi-listrik-dan biogas

Sumberbahan baku listrik yang dirancang dengan model gasifikasi biomassa harus berasal dari kebun energi yang dijamin kelestariannya melalui sistem rotasi. Short rotation coppice system merupakan pilihan terbaik dengan menggunakan tanaman cepat tumbuh, daur pendek, terubusan, dan memiliki nilai kalori tinggi, ditanam pada lahan-lahan kosong yang tidak produktif. Karena yang dipakai untuk listrik hanya kayunya, maka daun-daun tanaman energi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Daun kaliandra dan gamal memiliki kandungan protein yang sangat baik buat ternak. Kotoran sapi bisa kita manfaatkan untuk bahan bakar biogas yang bisa dialirkan ke rumah-rumah masyarakat. Listrik desa dari gasifikasi ini akan menjadi mini power plant yang mengkombinasikan budaya komersial dan sosial. Ingat sistem barter yang digunakan sebelum ada uang sebagai alat tukar? Sistem ini bisa diterapkan pada bisnis listrik desa, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu membayar dengan uang, namun mereka punya stok biomassa yang cukup ditukar dengan listrik. Jual kayu dapat cahaya, membeli cahaya hanya dengan 1 kilo kayu, ini belum banyak difikirkan orang. Jika ada listrik, masyarakat semakin bergirah, ada geliat baru untuk menciptakan peluang ekonomi rendah karbon, tanpa minyak bumi, tanpa batubara. Masyarakatpun bisa menikmati manisnya madu, madu kaliandra…cap Gerbang Lestari Bangkalan, Cap Rumpun Hijau Lombok Timur..dan cap SCF Mamuju, Sulsel. Mantap…