Apa kata Direktur APHI, Direktur GREEN LIVING LEI dan Praktisi Bisnis HR tentang Geger?

IMG_3711-5707116_200x200
Kegiatan berbasis bioenergi terbarukan telah menjadi ikon pengembangan energi ke depan. Pada tanggal 30 Agustus 2014, FMU Gerbang Lestari, Pabrik wood pellet, CV. Gerbang Lestari dan Kebun Energi Kaliandra dikunjungi oleh tiga orang tokoh penting di bidang Kehutanan. Pertama adalah Purwadi Suprihanto, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Kedua adalah Fadhil Nadila dari Green Living Indonesia yang diberi mandat oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) untuk ikut mengkampanyekan penggunaan produk-produk hijau dan bersertifikat ekolabel. Fadhil juga berkeinginan untuk mengedukasi pasar dan masyarakat untuk peduli pada lingkungan. Ketiga adalah Didin Aminudin, Praktisi bisnis yang menggandeng masyarakat untuk ikut menanam rempah-rempah dan kayu keras (Jabon, Gamal dan Sengon) yang berlokasi di Jawa Barat. Demikian petikan wawancara dengan Purwadi Suprihanto:

Apa yang membuat Anda tertarik berkunjung ke Geger, Bangkalan?

 “Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Pengelola Project ICCTF yang telah memberikan kesempatan saya bisa berkunjung ke Geger yang sangat indah ini. Saya telah lama mendengar bahwa di Geger ini ada sebuah Proyek yang menjadi perhatian banyak pihak. Salah satunya adalah pengembangan industri wood pellet berbasis masyarakat dengan mengitegrasikan kebun energi Kaliandra dengan kelembagaan hutan rakyat yang sudah bersertifikat ekolabel. Ini sangat menarik ketika saya hadapkan dengan kondisi di APHI. APHI punya anggota di hutan tanaman 250 anggota, dimana hanya sekitar 45% atau 105 anggota yang aktif. Ini meliputi luasan 11 juta hektar. Kenyataannya, banyak anggota yang mengeluh bahwa mereka kurang bisa memanfaatkan lahan secara optimal.

Selain itu, mereka juga dihadapkan pada harga bahan baku yang terlalu murah. Bayangkan bahwa dalam 6 tahun mereka hanya memperoleh angka Rp 100-250.000 /ton. Ini jauh sekali dengan harga Kaliandra disini yang katanya mencapai Rp 550.000/1,5 ton atau 1 pick up. Ini yang menurut saya pengembangan bioenergi. Saya menwakili APHI juga aktif di dalam keanggotaan POKJA Perubahan Iklim.Secara pribadi saya ingin melihat dari dekat bagaimana masyarakat di Bangkalan ini mengembangkan Biomass Energi dalam bentuk wood pellet. Saya juga ingin membuktikan bahwa proyek yang dikembangkan di Bangkalan ini adalah proyek yang nyata di tengah kebanyakan pandangan orang yang mendasarkan pada asumsi.

Apa kesan dan pesan Anda setelah melihat pengembangan Biomass Energi Wood Plellet di tempat ini?

“Menurut saya masih banyak hal-hal yang bisa dioptimalkan. Terutama didalam pemanfaatan sumber daya hutan rakyat. Masyarkat bisa digerakkan ada pengembangan bisnis yang baru. Namun jangan membuat mereka kecewa. Maksud saya, jangan mudah memberikan janji-janji yang kemudian tidak bisa terealisasikan. Saya juga melihat bahwa sebetulnya masyarakat disini punya kebutuhan dasar untuk memenuhi ketahanan pangan. Seperti misalkan bagaimana mereka memilih antara menanam palawija, jagung, padi dan kebutuhan yang instan dan yang cepat menghasilkan. Artinya bahwa food security perlu diperhatikan. Apa yang dilakukan oleh Project ICCTF disini memang tidak gampang. Apalagi, di akhir September 2014, proyek akan berakhir. Harus ada proses edukasi masyarakat terhadap hal-hal yang penting untuk meletakkan landasan pasca project agar masyarakat bisa lebih mandiri.

Berikutnya terkait dnegan pabrik, sebaiknya penataan mesin dan material di dalam pabrik bisa lebih rapi. Material handling dan produksi wood pellet harus ditempatkan ada lokasi yang memudahkan akses dan efisien. Saya melihat bahwa kebersihan pabrik perlu ditingkatkan. Aspek keselamatan baik untuk karyawan pabrik, maupun tamu/pengunjung perlu untuk diperhatikan. Penempatan bahan baku bisa diperhatikan agar kualitas bahan baku bisa terjaga. Saya berharap kepada pabrik ini bisa menjadi contoh bagi pengembangan ditempat lain. Jangan sampai seperti Solar Park, yang memiliki nama besar namun terganjal oleh keterbatasan bahan baku sehingga mengganggu produksi wood pellet.

Saya heran sama Korea, mereka punya policy yang hebat terhadap penggunaan energi biomassa di kantor APHI, saya hampir setiap minggu didatangi oleh orang Korea, mereka selalu bertanya bagaimana bisa mengajak anggota APHI untuk ikut mengembangkan energi biomassa. Saya juga prihatin mengapa bahan baku akasia hanya dihargai sekitar 150-200.000/ton. Saya berharap bahwa proyek ini bisa menjadi gerakan sosial dan dikembangkan menjadi skala yang lebih besar dan lebih komersial. Menurut saya ini masih dalam skala project, sehingga kedepan mengundang investor menjadi sebuah keniscayaan.Dari sisi suplai jenis yang sudah dikembangkan sekarang sebaiknya tetap dipertahankan. Setelah berhasil baru dicari berbagai alternatif.

Kedepan perlu melakukan riset untuk memperoleh biomassa yang produktif misalkan dengan menggunakan benih unggul supaya peningkatan produkstivitas wood pellet menjadi prioritas utama. Dihubungkan dengan kebutuhan petani untuk memeperoleh bahan pokok maka penanaman kebun energi bisa dikombinasikan dengan jenis-jenis tanaman pertanian lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk ketahanan pangan masyarakat. Dari sisi kelembagaan masyarakat, berdirinya industri wood pellet yang terintegrasi dengan FMU dan kebun energi Wood Pellet merupakan tanggung renteng antara kelompok tani dan industri. Jadi jika ada gap di satu sisi, maka ikatan kedua pihak harus diperbaiki agar akses ownership lebih kuat.

Apakah anda memandang bahwa ini merupakan cara memberikan insentif terhadap masyarakat yang telah mengelola hutan secara lestari?

“Menurut saya insentif tidak hanya melahirkan premium price. Seharusnya masyarakat bisa melakukan diversivikasi usaha untuk pemenuhan kebuthan masyarakat. Contohnya, kalau petani harus menunggu kayu berdiameter 20 cm lebih, maka itu perlu waktu yang lama. Untuk memperoleh akses pasar, maka pasar perlu di edukasi. Misalnya dengan memberikan kemasan informasi yang Aktraktif. Seperti produk ini adalah produk yang ramah lingkungan, dikelola oleh masyarakat yang peduli pada kelestarian hutan dan lingkungan. Contoh riil bagaimana edukasi pasar yang terjadi pada kopi Gayo, Aceh. Kemasan informasinya adalah kebun kopi disana dikelola oleh masyarakat yang memperdulikan faktor-faktor sosial dan lingkungan. Hasilnya akses pasar meningkat.

Petikan Wawancara dengan Fadhil Nadila:

Tadi Direktur APHI bicara tentang insentif untuk masyarakat. Apakah anda melihat bahwa insentif itu perlu bagi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan?

IMG_3697“Project ICCTF ini berdurasi pendek, namun punya potensi yang sangat besar. Saya rasa kita bisa mengajukan fase proyek berikutnya agar kumpulan cerita sukses tidak berhenti. Saya mengelola sebuah entitas bisnis bernama green living punya angan-angan kedepan bisa mengembangkan energi biomassa. Saya sadar bahwa membuat pabrik baru tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kita bisa mencari peran lain, yang ikut berkontribusi . Saya melihat banyak peluang disini.”

Sudah ada pabrik wood pellet meski belum sempurna. Hal ini wajar karena setiap membangun sebuah industri baru, tentunya akan mengalami fase trial and error. Sebaiknya tidak terjadi kekurangan pada mesin-mesin pabrik, maka tidak hanya teknisi yang diundang namun juga perlu hadirnya ahli teknik industri. Green living akan melihat jauh lagi diaman masyarakat jangan kecewa, karena ketulusan partisipasi mereka akan bisa mengubah orientasi dari tanaman pangan menjadi kayu energi atau mengubah lahan kritis menjadi lahan produktif.

Green living ingin mentrasnformasi konsep ini ke Sumatera. Pada prinsipnya konsep ini bisa mengurangi resiko kebakaran dan gangguan lahan lainnya. Saya kok optimis jika bahan baku energi biomassa ini bisa menggunakan waste seperti ranting-ranting yang terbuang. Saya berharap bahwa jika bisnis disini sangat cerah, maka green living bisa menajdi partner yang baik.

NuryantoSementara itu H. Noeryanto memberikan komentar bahwa di Bangkalan ini kayu akasia memiliki harga tertinggi di Indonesia. Taruh aja, Akasia dalam bentuk sawn timber dihargai Rp 6 juta-7 juta/m3 ini hampir sama dengan Jati yang nilainya Rp 8 juta/m3. Akasia disini memiliki fenotif yang tinggi-tinggi dan lurus. Kami tidak menempatkan akasia sebagai bahan baku industri wood pellet. Ketersediaan Kaliandra, Kemlandingan dan Gliricidae sudah sangat melimpah. Potensi yang sangat tinggi ini juga memberikan efek rehabilitasi lahan kritis yang luar biasa. Rumah saya yang di Arosbaya sebelum tahun 2001 selalu kebanjiran lebih dari 1 m dan dalam 1 tahun bisa sampai 7 kali kebanjiran. Namun sekarang, setelah geger berubah tidak lagi ketemu banjir. Menurut saya, premium price dari sertifikasi belum nyata. Menurut saya yang penting bahwa sertifikasi hutan rakyat adalah merupakan kesepakatan semua pihak untuk mewujudkan pengelolan hutan secara lestari dan ini telah berhasil disini.

Hasil Petikan dengan Didin Aminudin:

Menurut anda apakah prototipe integrasi pabrik wood pellet dan kebun energi disini bisa di scale up dan bagaimana potensinya?

Berangkat dari keprihatinan saya terhadap kondisi hutan di Jawa Barat pada 6-7 tahun yang lalu, saya ingin membangkitkan masyarakat untuk menanam. Saya rasa petani lebih membutuhkan pangan dengan daur yang cepat. Namun dari sektor Kehutanan, Jawa Barat sudah sangat berkembang pada saat itu. Kita saksikan banyak pabrik plywood yang menggunakan bahan baku sengon rakyat. Saat ini banyak orang menanam Jabon karena lebih potensial. Keunggulan Jabon adalah belum dijumpai penyakit. Kesamaan dengan disini, kami melakukan kerjasama kemitraan dengan petani dan ditanam di lahan-lahan kritis. Kami belajar dari kegagalan menanam jagung, padi, kapulogo. Daerah tanaman kami di Sumedang dan Subang, Jawa Barat. Hal yang penting adalah jangan sampai kendala-kendala yang kita lakukan menyebabkan petani kecewa. Harus diarahkan pengembangan hulu-hilir seperti yang sudah dilakukan di Geger, Bangkalan.

 

Daru Asycarya – 30 Agustus 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>