Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Kedua dari 5 Tulisan)

Integrasi sistem dalam Bangkalan Model Project

Pernahkah Anda membayangkan bahwa dengan perjalanan sekitar 2 jam dari Bandara Juanda Surabaya menuju Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu yang indah dan mengagumkan, menemukan areal yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari guna menjawab berbagai kegelisahan isu perubahan iklim, bioenergy, dan konsep pemberdayaan masyarakat yang genuine? Pasti tidak, karena Anda lebih kenal dengan Carok, karapan sapi, bebek Sinjai atau makam Syeh Kyai Kholil di Bangkalan. Berikut ini kita akan bahas tentang konsep sederhana mengenai carbon neutral, mitigasi perubahan iklim, dan pemberdayaan sosial masyarakat melalui proyek ICCTF dan Kementerian Kehutanan.

Secara skematik, Bangkalan Model Project yang didanai oleh ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal BPDAS PS Kementerian kehutanan dapat diilutrasikan melalui gambar sebagai berikut [1]:

1

1. Kebun Energi Kaliandra

Kebun energi (Biomass Energy Estate) adalah sebuah hamparan lahan yang ditanami jenis-jenis tanaman tertentu yang nantinya akan dipanen sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar biomasa. Sebetulnya cukup banyak jenis yang cocok digunakan sebagai tanaman Kebun Energi selain kaliandra seperti glirisidea, lamtoro, akasia, dan lain-lain, namun pemilihan kaliandra didasarkan pada alasan yang sangat masuk akal. Kaliandra adalah jenis tanaman perdu yang gampang dan cepat tumbuh di lahan miskin hara, miskin air, namun bisa menyuburkan tanah melalui fiksasi Nitrogen dalam tanah.

Kayu kaliandra juga menghasilkan kalori yang tinggi ketika dibakar (4,7 kkal) sehingga banyak masyarakat menggunakannya untuk kayu bakar. Daun kaliandra juga banyak dipakai sebagai pakan ternak yang potensial. Bunga kaliandra memberi daya pikat buat lebah madu, sehingga membuka peluang untuk bisnis madu dari nektar bunga kaliandra. Rekomendasi Dr Prijanto Pamoengkas, ahli silvikultur IPB juga menyatakan bahwa keunggulan arsitektur pohon Calliandra callothyrsus atau kaliandra merah dengan silvikultur terubusan atau coppice system sangat cocok dalam segala hal untuk dijadikan pilihan jenis tanaman kebun energi yang bisa menghasilkan energi wood pellets setara dengan energi batubara.

2

Proyek ini juga melakukan desk study untuk menghitung berapa sebenarnya luasan kebun energi yang optimum bisa mencukupi kebutuhan industri wood pellet? Mari kita membuat hitungan sederhana sebagai berikut:

Dengan memilih spesies Caliandra Callothyrsus kita bisa menghitung berapa areal kebun energi yang dibutuhkan. Menurut data riset,kaliandra bisa menghasilkan 15-40 ton/ha/year atau 27 ton/ha/year rata-rata dengan jarak tanam 1 m x 1 m (Tangenjaya et.al.1992).

Sebagaimana telah didisain dalam proyek ini bahwa kapasitas industrinya adalah 1 ton per jam, dan dengan asumsi bahwa jam kerja efektif pabrik adalah 7 jam sehari, maka pabrik akan menghasilkan 7 ton per hari.

Berapa hektar kebun energi yang dibutuhkan untuk memproduksi raw material wood pellet dengan output wood pellet 1 ton perjam atau 7 ton sehari? Menurut hasil penelitian, raw material yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 ton wood pellet adalah sebanyak 1,5 ton atau satu setengah kalinya jika kadar air raw material tersebut 40%. Namun jika kadar air mencapai 10% (sangat kering) maka input raw material bisa 1:1,1. Walaupun iklim Madura kering, kita bisa mengasumsikan kebutuhan raw material adalah sebanyak 10,5 ton dengan kondisi batang basah.

Jika 1 tahun 365 hari, dan setiap hari Jumat libur, maka kurang lebih ada 317 hari kerja dalam setahun, dibulatkan menjadi 310 karena ada beberapa tanggal merah dalam setahun. Jadi kebutuhan raw material dalam 1 tahun adalah 10,5 ton x 310 hari = 3.255 ton/ tahun.

Dengan mengambil angka rata-rata penelitian Tangenjaya bahwa produksi kaliandra perhektarnya sebanyak 27 ton/ha, kita akan memperoleh angka 3.255/27 = 121 ha. Jika kita mengambil nilai terendah produksi kaliandra 15 tons/ha, kita akan butuh lahan 3.255/15 = 217 ha. Sehingga, proyek ini perlu mempersiapkan lahan seluas 121 ha menjadi 217 ha tergantung pada kondisi kesuburan tanah dan kemampuan tumbuh kaliandra di tempat tersebut.

Seberapa luas rata-rata kebun energi akan dipanen dalam 1 hari? Maka akan kita hitung 121 ha : 310 hari = 0.39 ha

Kelompok Tani FMU Gerbang Lestari akan mengatur bagaimana menyediakan areal seluas 121 ha yang berada di lahan kosong. Namun kenyataannya cukup sulit memperolehnya di areal FMU Gerbang lestari karena hutannya sudah tertata baik. Hasil kesepakatan dengan para kelompok tani telah diperoleh luasan kebun energi seluas 214 ha, sehingga sudah melebihi hitungan areal lestari pada kondisi ideal.

Tidak gampang memperoleh lahan yang cukup luas yang digunakan sebagai Kebun Energi karena selain kawasan hutan yang semakin menciut, konflik dan tumpang tindih tatarung lahan bisa menyulitkan pengelolaan. Ketersediaan lahan yang dipakai untuk kebun energi sangat penting untuk memberi kepastian panen kayu kaliandra secara lestari. Karena bagi konsep ini, kebun energi harus disesuaikan dengan model siklus pengaturan hasil kayu kaliandra – mengatur jadwal panen agar pasokan kayu tidak tekor setiap kali dibutuhkan oleh industri wood pellet.

Tipologi kepemilikan lahan hutan rakyat seperti yang terdapat di Geger Bangkalan adalah lahan milik individual yang banyak ditanami tanaman kehutanan seperti akasia, mahoni dan jati. Secara komunal mereka membentuk kelompok tani dan gabungan kelompok tani Gunung Mereh atau terakhir dikenal sebagai Gabungan Kelompok Tani FMU “Gerbang Lestari” yang memiliki aturan kelembagaan lokal yang khas. Pantas saja bahwa FMU Gerbang lestari ini telah memperoleh sertifikat ekolabel dari LEI melalui Lembaga Sertifikasi PT Mutuagung Lestari karena dari sisi kelembagaan mereka telah siap menerima model pengelolaan kebun energi kaliandra. Kelembagaan lokal yang sudah tertata biasanya memiliki aturan-aturan internal diantara anggota, legalitas lembaga seperti Koperasi, hak dan kewajiban anggota, serta micro finance untuk mendukung perekonomian lokal. LSM Persepsi Wonogiri banyak berkiprah dalam kegiatan bimbingan teknis menuju sertifikasi ekolabel LEI.

Namun demikian, banyak dijumpai lahan yang ditinggalkan pemiliknya merantau ke daerah lain tanpa dikelola dengan baik menjadi lahan kosong atau lahan yang di-bera-kan. Target dari penanaman kebun energi sebetulnya adalah lahan yang kosong dan tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya. Namun banyak pula anggota kelompok tani yang mengembangkan model agroforestry dimana kaliandra ditanam bersama-sama tanaman pertukangan atau pertanian. Disini pula Kelompok Tani dan kelembagaan lokal berperan aktif dalam mewujudkan kontrak sosial terutama terkait lahan yang akan digunakan untuk kebun energi.

Komunitas santri sebagai bagian dari akar budaya masyarakat Madura menempatkan sosok Kyai atau Pepunden dan Pinisepuh sebagai sentral penggerak masyarakat. Pada kondisi tertentu titah kiai bisa menjadi “hukum” yang harus ditaati. Mungkin mereka akan lebih manut pada Kyai daripada Polisi. Dalam konteks pengadaan lahan kebun energi, peran Kiai dan pemuka masyarakat cukup besar untuk memastikan bahwa lahan yang akan di kontrak terbebas dari konflik dan si pemilik bersedia lahannya ditanami kaliandra dalam waktu tertentu.

Ponpes Darrul Ittihad adalah pesantren semi modern yang tidak hanya belajar ngaji agama dan nahwu sorof, namun kajian tadabur alam seperti bertani dan merawat hutan menjadi menu wajib sebagai bagian dari ibadah. Para pemilik lahan baik yang tinggal di Bangkalan maupun yang merantau di daerah lain umumnya masih punya keterikatan dengan Pondok Pesantren dimana mereka dulu pernah dibesarkan sehingga untuk menggalang komitmen mereka terhadap program kebun energi tidaklah sulit di tangan Pak Kyai Haji Irham Rofi’i sebagai Kepala Pondok, Tokoh Masyarakat Bangkalan, sekaligus sebagai Koordinator PIU (Project Implementing Unit) bersama H. Ghozali dan H. Noer Yanto.

Konsep ini menganggap penting melakukan kegiatan pengumpulan baseline data terkait dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat terutama pada saat t-0 dimana aktivitas ekonomi dari proyek ini belum dilaksanakan. Kemudian, pada saat pemanenan kebun energi dan industri wood pellet sudah jalan yang ditandai dengan terjadinya proses transaksi ekonomi antara masyarakat (kelompok tani) dengan industri wood pellet, maka kajian dampak proyek ini patut dilakukan. Paska proyek selesai, diharapkan kegiatan ekonomi pabrik wood pellet dan supply-demand kayu kaliandra bisa berjalan baik dimana memungkinkan terjadinya proses scaling up di daerah-daerah yang lain. ICCTF bahkan sangat berharap munculnya dana bergulir atau revolving fund, walaupun prakteknya akan cukup sulit. Ini cita-cita di penghujung proyek nanti. (Bersambung)

 

[1] Konsep ini awalnya digagas oleh Dr. Yetti Rusli dan disempurnakan oleh IDEAS Consultancy Services. Gambar di atas di layout oleh Catur Teguh Oktavianto, staff PMU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>