Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Ketiga dari 5 Tulisan)

2. Pengelolaan Wood Pellet Berbasis Masyarakat

Pada konsep awal, pengembangan pabrik wood pellet dirancang memiliki kapasitas 4 ton per jam. Namun belakangan disepakati untuk mengembangkan pabrik dengan kapasitas 1 ton per jam yang disebut sebagai inkubator industri wood pellet. Dengan kapasitas terpasang pabrik 1 ton perjam dengan jam kerja 7 jam sehari akan dibutuhkan sekitar 11 ton bahan baku wood pellets setiap harinya. Jika bahan baku kaliandra belum siap maka penggunaan limbah kayu dari jenis lain seperti ranting-ranting jati, akasia, lamtoro, dan gliriside telah disiapkan. Ini adalah laboratorium lapangan yang sangat menarik, sehingga istilah inkubator mengacu pada proses pembelajaran buat proyek dan buat masyarakat. Pabrik wood pellet ini harus beroperasi setiap harinya untuk menopang kegiatan ekonomi kelompok tani gerbang lestari di Geger Bangkalan. Untuk manajemen pabrik diperkerjakan masyarakat lokal yang berpotensi baik, termasuk tehnisi mesin-mesin yang berpengalaman. Karena tidak sepenuhnya berwatak akumulasi kapital, entitas bisnis wood pellet Gerbang lestari menerapkan nilai-nilai lokal yang agamis dengan manajemen global. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan siklus: Input-Proses-dan output produksi wood pellet.

3

Jika proses ini dilanjutkan, maka produk wood pellet tersebut akan dipasarkan secara lokal maupun expor. End User kemudian akan melakukan pembakaran wood pellet yang akan mengeluarkan emisi CO2 dan kemudian secara alami diserap kembali oleh tanaman melalui proses fotosintesis menjadi Biomasa. Siklus ini yang secara sederhana disebut sebagai carbon neutral. Sebagian besar pabrik wood pellet yang beroperasi di Indonesia menggunakan bahan baku limbah seperti serbuk gergaji dan potongan-potongan kayu sisa produksi di industri perkayuan. Penggunaan limbah serbuk gergaji akan menurunkan ongkos produksi karena selain harga serbuk gergaji yang murah, konfigurasi mesinnya menjadi lebih sederhana dimana wood chipper dan hammer mill tidak diperlukan. Namun banyak juga pabrik wood pellet berhenti beroperasi karena supply serbuk gergaji terhenti akibat bersaing dengan penggunaan pemanas boiler di musim hujan.
Pengolahan wood pellet berbasis masyarakat di Bangkalan diarahkan pada pemenuhan beberapa prakondisi sebagai berikut:
Tersedianya bangunan pabrik, minimal seluas 200 m2 untuk kapasitas 1 ton per jam dengan sirkulasi udara yang baik
Pemenuhan aspek legalitas bangunan dan ijin industri seperti: TDI, SIUP, HO, IMB dan legalitas lain yang relevan
Pengadaan mesin-mesin produksi wood pellet, secara umum terdiri dari: chipper, rotary dryer, hammer mill, peletizer, cooler, dan packaging dari perusahaan yang berpengalaman
Sumber tenaga yang digunakan adalah Listrik PLN 3 phase, 190 KVA untuk menggerakkan mesin-mesin wood pellet
Tersedianya tenaga kerja yang trampil
Tersedianya bahan baku kayu kaliandra merah secara terus-menerus sesuai kapasitas industrinya
Tersedia pasar wood pellet dengan harga kompetitif. Jika diarahkan ekspor maka sertifikasi SVLK dan sertifikat produk perlu dipersiapkan
Aksesibilitas yang baik, terutama menuju pada Pelabuhan Internasional Tanjung Perak Surabaya. Dengan adanya Jembatan Suramadu akan memudahkan proses pengangkutan dengan biaya yang lebih murah
Mengingat bahwa proyek bantuan ICCTF ini dikelola oleh Kementerian Kehutanan melalui jalur anggaran DIPA, maka semua proses pengadaan harus mengikuti peraturan pemerintah yaitu Keppres 54 jo Keppres 70 layaknya mengelola dana APBN. Pengadaan bangunan pabrik dan mesin-mesin memerlukan waktu untuk proses persiapan, pelelangan (menggunakan e-procurement) dilakukan secara terbuka dan transparan kepada semua pihak. Jika Anda ingin membuat sendiri pabrik wood pellet prosedur yang dilakukan lebih sederhana dan pengambilan keputusan bisa cepat dilakukan.

4

Hasil kajian analisis usaha wood pellet sangat menguntungkan dalam kurun waktu tertentu karena permintaan wood pellet ini masih sangat tinggi. Komponen biaya produksi terbesar adalah pengadaan bahan baku dan biaya pengangkutan menuju pasar ekspor. Pasar lokal di dalam negeri masih sangat terbatas dengan penawaran harga yang rendah sekitar Rp 1 juta per tonnya. Ini jauh berbeda dengan harga ekspor sekitar 150 USD s.d 220 USD walaupun persyaratan ekspornya juga cukup rumit. Kelembagaan Bisnis UD Gerbang Lestari telah menyusun sebuah Model Bisnis yang berisi aturan dan prosedur produksi wood pellet. Bahkan aturan mengenai profit sharing juga telah disepakati yang memungkinkan lahirnya bentuk-bentuk pola kerjasama antara petani hutan dengan industri wood pellet yang dikelola oleh masyarakat juga.
Untuk menjamin keberlanjutan produksi wood pellet di UD Gerbang Lestari, menurut Ir. Sugeng Marsudiarto dari Dit Jen BPDAS PS, hal yang paling krusial adalah dua elemen kunci yaitu kualitas mesin-mesin wood pellet yang baik dan pemasaran wood pellet yang bisa kontinyu dengan harga yang memadai secara ekonomi. Mesin-mesin wood pellet harus diproduksi oleh Pembuat mesin yang berpengalaman dan pernah meng install mesin-mesin wood pellet serta berhasil memproduksi wood pellet yang berkualitas internasional.
Prof. Yanto Santosa dosen IPB yang ahli dalam produksi wood pellet mengatakan bahwa jaminan mesin-mesin wood pellet ini bisa dilihat dari apakah sudah berlisensi SNI (Standar Nasional Indonesia)? Dan pertanyaan berikutnya, Apakah produk-produk wood pellet telah teruji kualitasnya sesuai dengan standar pasar? Banyak Badan Penguji di Indonesia yang mampu melakukan pengujian wood pellet yaitu: Sucofindo, SGS, dan Puspitek Serpong. Sertifikat hasil uji produk ini menjadi syarat pemenuhan standar konsumen wood pellet. Yang penting dalam proses pengadaan mesin ini adalah jangan asal membeli mesin wood pellet dan jangan asal murah karena investor pasti tidak ingin pabriknya hanya berumur sebulan atau kalaupun jalan, uang banyak terkuras untuk perbaikan mesin dan trial produksi. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>