Bangkalan Model Project: Sebuah Analisa (Bagian Terakhir dari 5 Tulisan)

5. Penghitungan karbon dan konsep REDD+

NAMAS dan REDD+ adalah produk negosiasi selama COP di Bali (Bali Action Plan) dan Copenhagen. Di dalam perundingan tersebut, disetujui bahwa aktivitas REDD+ seharusnya diperluas. Hal ini juga tidak hanya bertujuan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi, tetapi juga untuk memperkuat dan memperluas peran hutan sebagai carbon pool melalui penjagaan konservasi hutan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, dan penguatan stok karbon hutan. Terkait dengan tujuan tersebut, REDD+ diimplementasikan melalui penanaman pohon dan rehabilitasi lahan-lahan kritis.

Kepedulian Kementerian Kehutanan dimulai sejak terbitnya SK Menteri Kehutanan No. 30/2009 tentang Prosedur Reduction of Emission From Deforestation And Forest Degradation dan juga SK nomor 36/2009 mengenai Prosedur Ijin untuk Pemanfaatan secara Komersial pada Penyerapan Karbon dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung. Selanutnya, Presiden mengeluarkan Perpres No. 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional mengurangi GRK sebagai tindak lanjut Bali Action Plan di COP-13 UNFCCC, COP-15 in Copenhagen, COP-16 in Cancun, dan Pertemuan G-20 di Pittsburg dimana bahwa emisi GRK harus dikurangi sebesar 26% melalui upaya sendiri atau sebesar 41% dengan bantuan Internasional sampai tahun 2020 tanpa rencana aksi BAU (businessas usual). Aturan ini didukung pula oleh Kepres No. 71/2011 tentang bagaimana melakukan inventarisasi dan monitoring pengurangan GRK di Indonesia. REDD+ dan energi terbarukan berbasis bomasa adalah aktivitas yang berperan penting dalam mengurangi emisi karbon. Wood pellet yang menjadi fokus dalam proyek ini adalah satu jenis energi terbarukan berbasis biomasa.

Untuk mendukung komitmen RAN dan RAD GRK, dimana Indonesia harus mengurangi emisi sebesar 26%, proyek ini akan menyasar pada bagaimana emisi bersih CO2 dapat dihitung melalui karbon yang diserap in areal kebun energi dan juga menghitung simpanan karbon pada wood pellet yang bisa disubstitusikan dengan produk bahan bakar fosil. Tindakan yang diperlukan oleh Indonesia dalam rangka mengurangi kadar emisi harus menganut prinsip MRV : measurable, reportable, and veriviable.

REDD+ adalah sebuah cara sebagaimana mekanisme yang potensial untuk mengurangi emisi dimana MRV diimplementasikan menggunakan: (1) IPCC Guidelines – 2006: AFOLU (Agriculture, Forestry, Other Land Use); (2) kombinasi antara penginderaan jauh & ground-based inventory, (3) menghitung pada 5 kumpulan karbon, dan (4) hasil dari penghitungan karbon seharusnya transparan dan terbuka untuk di review. Penyerapan karbon dalam biomas pohon dapat di inventarisasi melalui beberapa prosedur yang telah dikembangkan oleh BPKH XI sebagai berikut:

6

Pemetaan Areal

Untuk akurasi pengukuran dan monitoring setelah pengukuran, batas-batas areal harus diukur secara cermat dan dipetakan dengan baik untuk memenuhi persyaratan registrasi proyek. Batas-batas areal harus dipetakan dengan metode pemetaan yang valid yaitu:
◦ Areal akan bervariasi dalam luasan 10 ha-100.000 ha
◦ Area dapat tersebar atau berada dalam satu bentang lahan (landscape)
◦ Kepemilikan lahan atau unit pengelolaan

Startifikasi Areal

Beberapa variabel yang dapat digunakan adalah:
Penggunaan lahan (Land use)
Tipe vegetasi (Vegetation types)
Kelerengan (Slope)
Iklim (Climate)
Ketinggian (Altitude)

Penetapan kumpulan karbon (carbon pool) dapat dihitung dengan:
Ketersediaan metode, tingkat akurasi yang diinginkan, dan ketersediaan dana untuk proses pengukuran dan monitoring
Sasaran dari pengukuran dan pendugaan
Percepatan
Untuk afforestation dan deforestation yang mana terminologi proyek di bawah 60 tahun akan menjadi ekonomis dan efisien dengan menghitung live tree biomass (di atas dan di bawah tanah)
Desain Sampling
— Plot Permanen (mortality, ingrowth)
— Jumlah plot :
◦ Tergantung pada level akurasi dan strata (kondisi keberagaman)
◦ Jumlah plot yang diperlukan tergantung pada jumlah variable yang mengacu pada stok karbon
— Bentuk plot dapat berupa : quadratic, strip, atau lingkaran

7

Stok Karbon di wood pellet

Stok karbon pada wood pellet dapat dibebaskan ke atmosfir ketika dibakar. Jika wood pellet tersebut digunakan untuk substitusi atau cofiring dengan bahan bakar fosil yang lain misalnya batubara, ini dapat dinyatakan bahwa jumlah emisi CO2 yang dibebaskan ke udara adalah sama dengan karbon yang diserap melalui proses fotosintesis. Secara umum pengukuran karbon pada konsep ini adalah mengukur stok karbon dalam Kebun Energi dan stok karbon pada wood pellet yang akan dijadikan baseline data.

6. Scaling up dan Sertifikasi

Dalam konteks kedaerahan, lahan kritis di Kabupaten Bangkalan, Madura diperkirakan seluas 66.797 ha atau 52% dari total areal Kabupaten seluas 127.518 ha (Data statistik RRL Jawa Timur, 2007). Prosentase yang hampir sama terjadi di tiga kabupaten lainnya yaitu Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Sebuah upaya luar biasa telah dilakukan oleh Masyarakat di Kec Geger Bangkalan Madura dan para santri Pondok Pesantren Darrul Ittihad pada tahun 70 an yang memperoleh dukungan dari Dinas kehutanan setempat dan tokoh-tokoh masyarakat lokal yang peduli dengan penghijauan dengan menghijaukan bukit-bukit Geger yang tandus. Dampaknya banjir tahunan di Arosbaya semakin berkurang sejak tahun 2000 an. FMU Gerbang lestari di Kombangan Geger telah memperoleh sertifikat pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari LEI pada tahun 2010 yang sebelumnya telah meraih kalpataru. Kondisi yang baik ini kemudian menarik untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi proyek percontohan kebun energi dan industri wood pellet berbasis masyarakat.

Proyek yang berhasil di tingkat daerah harus bisa di replikasikan di daerah lain. Project ICCTF-MoFOR ini fokus pada pengembangan kebun energi dan industri wood pellets dalam rangka mendukung program mitigasi perubahan iklim dan mendorong low carbon economy. Jika konsep kebun energi kaliandra dan industri wood pellet di bangkalan madura berhasil, maka ini akan menjadi teladan bagi daerah-daerah yang lain. Pengembangan dalam skala luas untuk kebun energi dan industri wood pellet diproyeksikan akan memberikan dampak positif yaitu: (1) mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon di kebun energi dan substitusi penggunaan bahan bakar fosil dengan wood pellet, (2). Rehabilitasi tanah kritis/ terbuka/ tidak produktif dan menyuburkan tanah, (3). Kualitas hidup masyarakat yang diperbaiki melalui penguatan sosial ekonomi lokal dan perekonomian mikro.

Untuk memperoleh keberterimaan pasar di leval internasional kebun energi FMU Gerbang lestari dan Industri wood pellet berbasis masyarakat ini perlu dipersiapkan menuju sertifikasi yang diakui internasional. Ada 3 tipe sertifkasi yang perlu dipersiapkan yaitu: 1. Sertifikasi produk ; 2. Sertifikasi SFM atau PHBML dan 3. Sertifikasi Legalitas Produk Kayu menggunakan skema SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu). Sertifikasi produk berkaitan dengan jaminan kualitas produk wood pellet sesuai dengan keinginan dan standar internasional yang berhubungan dengan standar bahan bakar biomasa. Lembaga sertifikasi di Indonesia bisa melakukan pengujian mutu terkait dengan kalori yang dihasilkan, kadar abu, tingkat emisi, dll. Sertifikasi pengelolaan hutan lestari dikembangkan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia/LEI dan FSC (Forest Stewardship Council).

FMU Gerbang lestari telah memperoleh sertifikat LEI namun belum memperoleh sertifikat FSC yang memiliki keberterimaan pasar yang luas di Eropa dan Amerika. Dan yang ketiga adalah sertifikat SVLK atau legalitas kayu. Skema ini adalah skema wajib yang dikenakan pada seluruh industri perkayuan di Indonesia terutama yang produknya di ekspor ke Uni Eropa. Indonesia terikat dengan perjanjian VPA (Voluntary Partnership Agreement) dengan Uni Eropa dimana produk Indonesia harus legal dibuktikan dengan adanya FLEGT License yang diakomodir oleh mekanisme SVLK sebagai V-Legal Certificate. Tentunya dengan adanya inisistif sertifikasi ini akan menambah biaya, namun jika harga produk bersertifikat jauh lebih tinggi, why not? (Tamat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>