“Cofiring (pencampuran) Biomasa – Batubara”, Sebuah Langkah Awal

Cofiring Biomasa-Batubara Pada Coal-Powerplant
Oleh: Eko SB Setyawan [1]

Penggunaan bahan bakar biomasa semakin didorong dan ditingkatkan akhir-akhir ini sebagai akibat dorongan berbagai masalah lingkungan dan perubahan iklim global. Biomasa adalah bahan bakar diklasifikasikan sebagai bahan bakar terbarukan ketika diupayakan secara berkesinambungan dan termasuk bahan bakar “carbon neutral” . Wood pellet adalah bahan bakar biomasa lebih khusus dari biomasa berkayu yang telah ditreatment dengan densifikasi untuk perbaikan sifat-sifatnya seperti ukuran dan tingkat kekeringan seragam, serta kepadatan tinggi, sehingga memudahkan pemanfaatannya. Produk ini sebenarnya telah dikembangkan beberapa dekade lalu pada era krisis minyak dan sekarang mendapat perhatian besar karena alasan tersebut diatas.

Eko-1

Permintaan wood pellet sangat besar baik dari berbagai belahan dunia maupun dalam negeri. Secara umum ada tiga jenis tungku pembakaran yang digunakan untuk menghasilkan energi dari wood pellet atau biomasa pada umumnya, yakni :
1. Grate combustor, pada umumnya digunakan untuk rumah tangga, industri kecil menengah dan sejumlah aplikasi komersial. Skema grate combustor seperti tampak pada skema diatas.
2. Fluidised bed combustor, umumnya digunakan pada industri menengah besar, aplikasi komersial dan utilitas.
3. Pulverised fuel combustor, digunakan pada industri besar dan aplikasi utilitas. PLTU umumnya menggunakan teknologi ini dan saat ini cofiring biomasa-batubara mulai diinisiasi.

Saat ini sudah bisa ditemui pembangkit listrik menggunakan bahan bakar biomasa secara keseluruhan tetapi jumlahnya masih sedikit walaupun bahan bakar biomasa ini lebih unggul karena lebih stabil karena tidak terpengaruh musim dan iklim seperti halnya angin dan air. Sedangkan cofiring biomasa dengan batubara telah biasa dilakukan di sejumlah PLTU batubara di negara-negara maju.

Pertimbangan seperti kimia abu biomasa dan batubara yang berbeda pada beberapa senyawanya menyebabkan terbatasnya prosentase penggunaan biomasa untuk cofiring dengan batubara. Ketika sejumlah abu yang merupakan senyawa anorganik itu menjadi deposit pada pipa-pipa boiler penghasil steam pada PLTU maka efisiensinya akan menurun yang ditandai salah satunya suhu flue gas yang tinggi. Hal itu berakibat masih kecilnya prosentase biomasa pada cofiring biomasa dengan batubara yang umumnya dibawah 10%. Korea adalah salah satu negara di Asia yang saat ini sudah mencanangkan penggunaan biomasa dari wood pellet untuk cofiring dengan batubara di PLTU mereka dengan prosentase sekitar 2%. Efek positif penggunaan biomasa sebagai bahan bakar adalah fly ash yang menyebabkan polusi udara pada pembakaran batubara akan menurun secara signifikan ketika cofiring biomasa dengan batubara. Perbandingan kadar abu dan kimia abu antara batubara dan biomasa seperti tabel dibawah ini :

Eko-2

Material biomasa khususnya biomasa kayu memiliki kadar abu yang rendah dibandingkan hampir semua batubara, tetapi material abu biomasa kaya senyawa logam alkali dan alkaline tanah dan hal tersebut menyebabkan perubahan untuk abu alumino-silicate pada batubara. Pada ratio cofiring rendah, yakni kurang dari 10% berdasarkan pengalaman sejumlah PLTU menyatakan masalah kecenderungan terjadinya deposit pada pipa-pipa boiler masih bisa diterima. Optimasi untuk mendapatkan ratio cofiring terbaik tentunya berdasarkan kadar abu dan kimia abu biomasa dan batubara yang digunakan.

[1] Wood Biomass Expert for ICCTF Bangkalan Project

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>