Hikayat Pohon Kafir dan Raibnya Banjir

DSC_0998-265836_200x200
Tiga puluh tahun silam, awan hitam menggelayut di langit sebelah timur selama 2—3 berturut-turut cukup untuk membuat Noer Yanto was-was. Mafhum saja itu pertanda banjir besar segera menerjang kawasan rumahnya di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Air bah itu menyambangi Arosbaya lewat Sungai Tambengan dan Sungai Bliga yang berhulu di Kecamatan Geger. Arosbaya yang berada di ketinggian 5 meter di atas permukaan laut (m dpl) menjadi muara aliran air sungai. Musabab Noer Yanto was was lantaran perbukitan Geger yang berada di ketinggian 45—97 mdpl dalam kondisi gundul. Sepanjang mata memandang yang terhidang adalah hamparan lahan kritis berbatu. Sebagian lahan dibero-kan atau dibiarkan terlantar oleh sang pemilik.

Vegetasi yang ada adalah bambu, camplong, salam serta duwet. Itu pun terserak-serak di sepanjang sempadan sungai. “Setiap hujan dengan intensitas >120 mm/hari rentan menyebabkan banjir,” ungkap Noer Yanto. Limpasan air itu menyebabkan banjir setinggi 1,5 m. Areal persawahan bahkan bisa mencapai 2 m. Terjangan banjir pun menyebabkan akses dari Arosbaya menuju Kota Bangkalan pun kerap terputus. Menurut pria kelahiran Ngawi itu dalam satu tahun frekuensi banjir bisa mencapai 7 kali.

Terkutuk

Sejatinya derita tidak hanya dialami penduduk Arosbaya. Kondisi lebih parah dialami di Kecamaan Geger, Kondisi lingkungan yang buruk membuat daerah tersebut seolah menjadi “daerah terkutuk”. “Tanaman bernilai ekonomis seperti buah-buahan sukar tumbuh,” tutur H Ahmad Ghozali, ketua Forest Management Unit (FMU) Gerbang Lestari, Bangkalan. Bahkan ada pameo, jika pohon buah seperti durian, mangga atau rambutan berhasil berbuah adalah suatu mukjizat.
Setali tiga uang, air pun menjadi sesuatu hal yang langka di daerah. “Untuk memperoleh air harus membor hingga kedalaman 60—70 m,” imbuh KH Irham Rofii, pemimpin Pondok Pesantren Darul Ittihad, Geger, Bangkalan. Itu pun saat kemarau menjelang air menjadi sesuatu hal yang langka. Tidak heran terkadang penduduk harus berjalan sejauh 5—6 km untuk mencari air. Jika musim penghujan datang, daerah dengan kemiringan 200—500 itu rentan erosi dan longsor mengintai. Noer Yanto pernah menghitung tingkat erosi 1 ha lahan mencapai 6 ton per tahun. Tidak ketinggalan panas menyergap udara Geger lantaran absennya pepohonan.

Kondisi itu lambat laun menarik perhatian seorang tokoh masyarakat H Muhammad Soleh. Pada 1972, pria yang kemudian didapuk sebagai itu mengambil cabutan akasia Acacia auriculiformis dari hutan milik Perhutani di Kecamatan Sepulu yang berjarak km dari Geger. Menurut Ir Daru Asycarya MM, penggiat lingkungan, akasia memang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perintis pada lingkungan kritis. “Akasia relatif toleran terhadap kondisi lahan yang miskin hara,” tutur pemimpin proyek kebun energi dan industri wood pellet di Bangkalan itu.

Pohon kafir

Anakan itu kemudian ditanam Soleh di seputar kediaman dan lahan miliknya. Jejak Soleh itu hanya diikuti oleh 12 orang kerabatnya yang kemudian membentuk kelompok tani Gunung Mere. Toh Soleh, tak pantang berputus asa setiap tahun program penanaman lahan terus berjalan. Pada 1976, tanaman yang berusia 4 tahun menunjukkan pertumbuhan yang bagus dengan lingkar batang di atas 15 cm. Toh, hal itu belum cukup menggugah minat masyarakat untuk menanam.

Awal 1977 dengan bimbingan Noer Yanto, yang saat itu menjadi penyuluh lapangan, dimulai penanaman dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Dibuat pula teras guludan dengan memanfaatkan kemlandingan atau gleresidea sebagai tanaman penguat guludan. Tidak lupa gelontoran bantuan bibit dari pemerintah.

Namun yang terjadi adalah penolakan dari sebagian besar masyarakat terhadap bantuan bibit tanaman yang dikucurkan. Bahkan saat itu sampai muncul istilah “pohon kafir”. “Itu untuk menunjukkan haramnya menggunakan bibit hasil bantuan pemerintah,” kenang Noer Yanto. Musababnya pada 1977 sedang terjadi pemilihan umum. Sebagian pemuka agama yang berafiliasi dan fanatik pada partai politik tertentu sehingga mengharamkan bantuan dari pemerintah yang dianggap sebagai kepanjangan tangan organisasi kemasyarakatan tertentu. Toh, Soleh dan Noer tak putus asa. Pohon-pohon bantuan tetap ditanam di lahan. Tidak hanya itu mereka pun mendapat suntikan tenaga baru H Hosek Jasuri. Triumvirat inilah yang kemudian aktif mengkampanyekan penanaman pohon.

Tasawwuf pohon

Pada 1986, kiprah masyarakat Geger itu menarik minat Menteri Kehutanan yang saat itu dijabat Soedjarwo. Dua tahun berselang, kelompok tani Gunung Mere pun diganjar penghargaan Kalpataru kategori penyelemat lingkungan. Pada 1989, apreasiasi lain datang dari Menteri Kehutanan Ir Hasjrul Harahap berupa bantuan bibit rambutan dan mangga. Berhubung kondisi kesuburan tanah yang mulai membaik, tanaman buah pun dapat tumbuh subur. Selain itu keanekaragaman tanaman mulai dilakukan. Jati, mahoni, kecapi serta tanaman buah seperti durian pun mulai hadir.

Seiring penutupan vegetasi yang makin rapat pada dasawarsa 1990-an, curah hujan >120 mm/hari tidak menyebabkan banjir. Bahkan pada 2010 saat curah hujan mencapai >150 mm/hari, banjir pun enggan bertandang. Erosi pun menurut Noer Yanto turun drastis, tidak lebih dari 125 kg per ha per tahun. Kegiatan penghijauan yang tanpa kenal lelah itu pun membuat penghargaan lain kembali menghampiri. Pada 6 Juni 2005, kelompok tani Gunung Mere dianugerahkan Satya Lencana Pembangunan Lingkungan dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhyono.

Saat ini menyusuri kawasan Geger tak ubahnya memasuki labirin penuh pepohonan. Udara segar memenuhi rongga udara pernafasan. Selain itu teriknya matahari pulau garam Madura yang menyengat ubun-ubun pun terlindungi oleh naungan rimbunnya pepohonan. Manfaat lain mudahnya masyarakat mendapatkan sumber air dan munculnya sumber-sumber mata air baru. “Sekarang cukup mem-bor 15 m, air sudah mengucur,” kata Irham. Sumber mata air di Dusun Treta, Desa Geger, misalnya tidak berhenti mengucurkan air meski musim kemarau panjang. “Banyak mobil pengangkut air dari luar daerah antri untuk mengambil air dari sumber ini,” ungkap Ghozali.

Hal lain yang menarik adalah timbulnya kesadaran masyarakat akan lingkungan. Masyarakat kini tidak lagi menanam pohon sekadar karena iming-iming imbalan ekonomi. “Banyak warga yang membiarkan pohon lapuk dan mati secara alami tanpa ditebang,” ujar Irham. Mafhum saja masyarakat menganggap bahwa dalam daur hidup pohon turut pula bergantung kehidupan makhluk lain seperti burung, ulat, cacing ataupun rayap. Irham menyebut kesadaran itu sebagai tasawwuf pohon. Tidak berhenti sampai disitu, pada 2008, kelompok tani dari Desa Geger, Kombangan dan Togubang menghimpun diri menjadi FMU Gerbang Lestari untuk memperoleh sertifikasi hutan rakyat lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Penghargaan itu berhasil disabet pada 2010 lewat sertifikasi yang dikeluarkan oleh PT Mutuagung Lestari.

Menurut Dr Ir Yetti Rusli MSc, staf ahli Menteri Kehutanan Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim menyebut pengelolaan hutan rakyat lestari FMU Gerbang Lestari bisa menjadi model bagi daerah lain. “Pelibatan masyarakat menjadi penting untuk menumbuhkan rasa memiliki,” tutur Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan itu. Kini Noer Yanto, H Ahmad Gozali dan KH Irfam Rofii menjadi tiga serangkai yang giat menginisasi dan mempromosikan kegiatan penanaman pohon di Kecamatan Geger. Akhir cerita, foto kusam banjir besar yang menerjang Arosbaya kini tinggal menjadi penanda kenangan di album tua Noer Yanto untuk generasi mendatang tentang cerita raibnya banjir di bumi Bangkalan. (Faiz Yajri, Kontributor lepas Trubus di Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>