Menentukan Demplot BEE

kegiatan_12b-72482_200x200

Kebun energi atau Biomass Energy Estate (BEE) harus dirancang sedemikian rupa agar keberlangsungan pasokan bahan baku tanaman kaliandra bisa tetap terjaga. Ruang tumbuh yang bervariasi sangat menentukan pola agroforestry dan teknik silvikultur yang bisa bervariasi pula. Disain BEE diperlukan untuk memudahkan perencanaan lahan dimulai dari proses persiapan (pengadaan bibit, persemaian, pemeliharaan persemaian, penyapihan) sampai pada proses penanaman di lapangan, dan penyulaman jika ada tanaman yang mati. Kelompok tani FMU Gerbang Lestari telah dibentuk sejak lama yang diawali oleh berdirinya kelompok tani Gunung Mere. Pengalaman kelompok tani dalam kegiatan pembibitan tanaman hutan tidak diragukan lagi sehingga banyak pelajaran lapangan yang bisa dibagi dan dituangkan dalam proses diskusi antar kelompok tani. Kekayaan pengalaman dan pengetahuan kemudian akan di transformasi dalam pembangunan kebun energi kaliandra. Proses FGD yang dilakukan akan menggiring peserta mencari bentuk-bentuk kebun energi yang ideal berdasarkan best practices pengelolaan kebun bibit.

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini antara lain :

  1. Diperolehnya model BEE yang dikelola secara kolektif dibawah FMU Gerbang lestari pada hamparan lahan yang bervariasi, mengelompok maupun menyebar yang akan dipetakan secara spasial
  2. Diperolehnya model BEE yang dikelola secara individual/ keluarga/ komunal oleh pemilik lahan yang dijadikan BEE;
  3. Bertambahnya pengetahuan peserta diskusi terkait dengan model pola tanam dan model konservasi lahan;
  4. Diketahuinya kelebihan dan kelamahan dari kedua model tersebut

Kegiatan berjalan lancar, diskusi berlangsung cukup dinamis dengan antusiasme peserta yang cukup baik. Jumlah peserta melebihi target yang telah ditetapkan yaitu sebanyak 32 orang. Metode FGD dilakukan melalui penyampaian materi (ceramah) dengan melibatkan partisipasi aktif dari para peserta kegiatan. Sebelum FGD atau diskusi dilakukan, pemateri terlebih dahulu memaparkan tentang jenis dan teknik konservasi tanaman kepada peserta. Hal ini dilakukan agar peserta mengetahui model penanaman yang paling tepat untuk diterapkan pada kebun energi.

Setelah pemaparan, pemateri mengajak para peserta untuk mendiskusikan mengenai model dan ciri-ciri kebun energi yang akan dibuat, serta kelebihan dan kelemahan dari masing-masing model kebun energi tersebut. Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan saran mereka berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan ataupun berdasarkan pengalaman/pengetahuan mereka selama menjadi petani di lapang.

Pada akhirnya, dihasilkan matriks hasil diskusi model kebun energi, dengan kesepakatan/kesimpulan sebagai berikut :

  1. Untuk pengembangan demplot kebun energi pada lahan kosong diutamakan penanaman secara khusus dengan tanaman kaliandra (monokultur);
  2. Terhadap pengembangan tanaman kaliandra pada lahan yang sudah ada tanamannya dilakukan secara tumpangsari.
  3. Perjanjian dalam pengelolaan kebun energi dilakukan antara ketua kelompok (mewakili petani) dengan FMU Gerbang Lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>