MENGEMBANGKAN HUTAN TANAMAN ENERGI (HTE) – Bagian 1

Oleh: Daru Asycarya

Pendahuluan

Akhir-akhir ini banyak perdebatan mengenai layak tidaknya mengembangkan sebuah hutan tanaman energi (HTE) yang dilaksanakan di luar Jawa maupun di Jawa. Banyak orang berhitung bahwa mengembangkan HTE untuk tujuan penyediaan bahan baku industri biomassa seperti wood chips dan wood pellets masih belum menguntungkan secara ekonomi. Pendapat ini umumnya didasarkan pada analisis  perhitungan kalayakan penanaman HTE yang mana diasumsikan sama dengan  variable perhitungan kelayakan  HTI untuk tujuan kayu pertukangan dan kayu untuk pulp. Tentu saja ini menimbulkan banyak pertanyaan, misalnya apakah daur tanaman HTE sama dengan HTI? Apakah system silvikulturnya sama? Apakah komponen kegiatan pengelolaan HTE sama dengan HTI? Apakah aspek pasar berpengaruh pada harga bahan baku dan pemilihan jenis tanamannya? Apakah pemilihan jenis tanaman energi sudah sesuai dengan karakteristik tempat tumbuh yang akan dijadikan sebagai site proyek penanaman? Beberapa pertanyaan tersebut berhubungan dengan teknis pelaksanaan pembangunan kebun energi. Lalu bagaimana dengan potensi pasarnya?

Di Indonesia, Pemerintah telah mengeluarkan PP no 79 mengenai target bauran energi dimana 23% penggunaan energi terbarukan harus dicapai pada tahun 2025. Sampai saat ini Indonesia baru bisa merangkak di angka 7% dengan sisa waktu yang tinggal 5 tahun lagi. Jika Pemerintah punya komitmen kuat mengenai target bauran energi ini, jelaslah bahwa pasar biomassa dalam negeri sangatlah besar.  Salah satu potensi pasarnya adalah penggunaan wood chips atau wood pellets untuk bahan bakar pengganti batubara atau untuk cofiring (campuran bahan bakar) batubara pada pembangkit listrik (PLTU dan PLTBm). Jika kebutuhan batubara nasional untuk pembangkit listrik adalah 90 juta ton per tahun (angka tahun 2018), maka 10 persen untuk cofiring membutuhkan 9 juta ton biomassa per tahun atau 750.000 ton per bulan.  Biomassa sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang belum banyak dikembangkan merupakan karbon padat yang diperoleh dari potongan pohon atau tanaman berupa batang, cabang atau ranting yang digunakan sebagai bahan baku wood chips atau wood pellets.

Biomassa untuk energi akan diperlukan dalam jumlah besar dan sustainable yang bisa dipenuhi dengan membangun hutan tanaman energi (HTE). Selain ketersediaan lahan yang masih luas, pengelolaan HTE bisa didisain lebih sederhana dibandingkan dengan pengelolaan HTI. Disain pengelolaan HTE bisa dilihat pada gambar berikut:

HTE Concept

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan mengenai kelayakan pengelolaan HTE bisa dikaji dari sisi Kelayakan Teknis, Kelayakan Ekonomi, Market, dan Pembangunan HTE dan Industri Biomassa (Bersambung..).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>